Jumat 13 Desember 2019, 04:50 WIB

Pertamina Genjot Produksi Migas

(Fan/E-3) | Ekonomi
Pertamina Genjot Produksi Migas

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati

 

PT Pertamina (persero) fokus meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) dalan negeri untuk menekan impor migas dan menghemat pengeluaran devisa.

Direktur Utama PT Pertamina (persero), Nicke Widyawati, mengatakan, sepanjang 2019 Pertamina sudah menerapkan strategi penurunan impor migas. Hal itu dilakukan dengan menyerap produksi migas dalam negeri mencapai 132.000 barel per hari.

"Sejak Januari 2019 penurunan impor crude oil cukup besar. Itu crude domestik untuk kebutuhan dalam negeri. KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) yang awalnya hanya 123.000 barel per hari tadinya, sekarang 132.000 barel per hari. Ada 10.000 barel. Jadi, ada Rp43 triliun penghematan devisa negara," kata Nicke dalam konferensi pers di Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, di sepanjang 2019 Pertamina juga telah berhasil menekan impor solar dan avtur. Pertamina telah menurunkan impor solar dan avtur sebesar 25 juta barel. Penghematan devisa yang dilakukan perusahaan pun mencapai angka Rp37 triliun.

Di samping itu, untuk menyeimbangkan neraca, lanjut Nicke, perseroan juga melakukan ekspor avtur sebesar Rp12,7 triliun sepanjang 2019. "Jadi, kontribusi untuk meringankan CAD 2019 sudah mulai terlihat," tambahnya.

Wakil Menteri I BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sejak pertengahan 2019, Pertamina sudah menghentikan impor solar dan avtur. Sebaliknya perseroan sudah melakukan ekspor avtur.

"Sejak April, Pertamina tidak impor avtur lagi. Avtur dan diesel tidak impor lagi karena kilang sudah bisa produksi. Ekspor avtur itu bulan Juni," jelas Budi.

Terkait kerja sama dengan Saudi Aramco, Nicke menegaskan kerja sama itu tetap berlanjut, tapi dengan penawaran skema baru. "Kita masih berjalan, tetapi ada opsi skema lain, seperti dengan kilang Balikpapan," tukasnya. (Fan/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More