Kamis 12 Desember 2019, 16:08 WIB

Pengaderan Milenial Demokrat Dinilai Sistematis dan Rasional

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Pengaderan Milenial Demokrat Dinilai Sistematis dan Rasional

Antara
Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono

 

PENGAMAT politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin, menilai pelepasan puluhan taruna Akademi Demokrat angkatan pertama dengan perjanjian kontrak tidak berpindah partai selama 10 tahun, merupakan hal yang wajar.

Partai Demokrat, terang dia, menyadari bahwa masa depan Indonesia ada di tangan generasi milenial. Pola kaderisasi tersebut menjadi solusi untuk membangun partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono menjadi lebih baik ke depannya.

"Dalam konteks ini ada simbiosis mutualisme. Demokrat membiayai seluruh wisudawan. Artinya, Demokrat ingin membentuk pengaderan secara sistematis," ujar Ujang ketika dihubungi, Kamis (12/12).

 

Baca juga: Jeda 5 Tahun Eks Napi Korupsi Dinilai Tidak Berlebihan

 

Menurut dia, Demokrat juga sedang membuat pagar atau kunci dengan menerapkan ketentuan denda Rp1 miliar kepada taruna yang melanggar kontrak. Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kader pindah partai.

"Itu merupakan proyeksi yang rasional dari Demokrat untuk membangun pengaderan. Tapi, sistemnya memang harus pemaksaan. Kenapa? Kalau tanpa paksaan, ya tidak jalan. Apalagi Demokrat sudah mengeluarkan biaya."

Di sisi lain, imbuhnya, pola tersebut sekaligus menjawab kegelisahan Demokrat yang mengalami penurunan suara pada Pemilu 2014 dan 2019. Ia menilai Demokrat ingin meraih sukses pada pemilu mendatang dengan kader milenial. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More