Kamis 12 Desember 2019, 09:40 WIB

Brexit Bayangi Pemilih Inggris

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Brexit Bayangi Pemilih Inggris

AFP/Oli SCARFF
Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn kala berkampanye menjelang pemilihan umum di Inggris

 

WARGA Inggris akan memilih untuk ketiga kalinya dalam empat tahun dalam pemilu sela yang disebut untuk mengakhiri kebuntuan politik terkait Brexit.

Para pemilih akan berduyun-duyun ke tempat pemungutan suara, Kamis (12/12) mulai pukul 07.00 waktu setempat, menantang cuaca dingin, basah, dan mungkin bersalju di beberapa daerah, untuk berpartisipasi dalam pemilu yang dijuluki paling penting untuk satu generasi.

Para pemimpin partai yang bersaing dalam pemilu kali ini pun mengerahkan semua upaya mereka di jam-jam akhir, mencoba menarik atensi pemilih untuk memenangi jajak pendapat.

Pemilu ini adalah yang ketiga di bawah lima tahun dan yang kedua sejak referendum Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit) pada 2016 lalu.

Partai-partai di Parlemen yang terbelah--sebagian menginginkan Inggris keluar dari UE segera mungkin dan yang lain ingin tetap dalam blok--berulang kali menolak persyaratan perceraian yang dilakukan mantan perdana menteri Theresa May dengan Brussels.

Baca juga: Warga Inggris Bersiap Berikan Suara di Pemilu

Perdana Menteri Boris Johnson, yang menjabat pada Juli, telah menghabiskan kampanye dengan menekankan pesan "Get Brexit Done" yang bertujuan semata-mata untuk memenangi mayoritas yang dapat membuatnya mendapatkan kesepakatan negosiasi ulang yang disahkan pada akhir bulan depan.

"Sata ingin mengakhiri perpecahan dan menyatukan kembali negara ini," ujar Johnson dalam upaya kampanyenya.

Namun jajak pendapat yang dipantau dengan cermat menunjukkan kepemimpinan Partai Konservatif atas oposisi utama Partai Buruh menghadapi tantangan ketat.

Kandidat yang menang harus meraih mayoritas di Dewan Rakyat yang memiliki 650 kursi untuk bisa menjalankan rencana mereka.

Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn adalah seorang aktivis veteran sayap kiri yang membawa tantangan serius bagi kubu Konservatif. Partainya berhasil memenangi pemilihan terakhir pada 2017.

Tetapi sikapnya yang tidak jelas tentang Brexit dan tuduhan anti-Semitisme dalam Partai Buruh telah memaksa beberapa anggota penting keluar dari partai dan membayangi kampanyenya.

"Boris Johnson tidak akan hanya akan membuat semua yang ada tetap sama, dia bahkan akan memperburuknya," kata Corbyn dalam rapat umum pemilihannya yang terakhir. "Ini waktunya memberikan perubahan bagi semua, bukan segelintir."

Pusat pemungutan suara akan ditutup pada pukul 22:00 waktu setempat, dengan hasil akhir diperkirakan akan diumumkan pada Jumat (13/12) pagi.

Lebih dari 45 juta pemilih terdaftar untuk ambil bagian, tetapi kondisi cuaca mungkin mengurangi jumlah pemilih. (AFP/OL-2)

Baca Juga

Antaranews

149 WNI di Fiji Bebas Covid-19

👤Antara 🕔Selasa 31 Maret 2020, 20:26 WIB
Di Fiji terdapat lima warganya terkena...
AFP/NARINDER NANU

Rawat Pasien Covid-19, Dokter di India Pakai Jas Hujan dan Helm

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 31 Maret 2020, 19:02 WIB
Kurangnya alat pelindung diri (APD) di India memaksa beberapa dokter di sana untuk menggunakan jas hujan dan helm sepeda motor saat merawat...
AFP/Fabrice Cofrini

WHO: Pandemi Covid-19 di Asia-Pasifik Jauh dari Finis

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 31 Maret 2020, 18:10 WIB
Berbagai upaya yang diambil sejumlah negara untuk membendung penyebaran covid-19, dinilai hanya mengulur...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya