Kamis 12 Desember 2019, 08:50 WIB

BPPT Pasang Alat Deteksi Dini di Selatan Jawa dan Bali

Siswantini Suryandari | Nusantara
BPPT Pasang Alat Deteksi Dini di Selatan Jawa dan Bali

Istimewa
Kepala BPPT Hammam Riza bersama Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro saat peluncuran alat deteksi dini tsunami di Bali.

 

BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memasang alat deteksi dini tsunami buoy di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali. Alat Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit,  Mooring Line hingga Sinker siap dipasang di selatan Jawa dan Bali. Satu diantaranya melalui pemasangan alat pendeteksi tsunami yakni buoy di sejumlah wilayah rawan bencana.

Dalam acara Pelepasan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III Program InaTEWS 2019' Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan BPPT akan mendeploy peralatan deteksi dini tsunami di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali. Mulai dari Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit (OBU), Mooring Line hingga Sinker.

"KR Baruna Jaya III ini akan membawa peralatan deteksi dini tsunami (buoy tsunami), yang terdiri dari  Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit (OBU), Mooring Line dan Sinker serta  peralatan pendukung lainnya untuk di deploy di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali," ujar Hammam, di Denpasar, Bali, Rabu (11/12/2019).

Adapun 4 buoy tsunami itu akan dipasang di Selatan Pulau Jawa, sedangkan 2 kabel bawah laut atau Cable Based Tsunameter (CBT) akan dipasang di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) dan perairan Mentawai.

Pada 8 hingga 26 Desember mendatang, KR Baruna Jaya III akan melakukan serangkaian perjalanan untuk memasang 4 buoy yang dimulai dari Pelabuhan Surabaya menuju Pelabuhan Benoa. Kemudian dilanjutkan dengan deployment buoy Indonesia tsunami early warning system (Ina-TEWS) di Selatan Pulau Jawa.

"Pada tahun 2019 ini, kami  memasang 4 buoy tsunami dan 2 alat deteksi tsunami berbasis kabel atau Indonesia Cable Based Tsunameter (Ina – CBT). Salah satu lokasi pemasangan Ina-CBT di  lokasi sekitar  Kawasan Gunung Anak Krakatau," jelas Hammam dalam keterangan resmi.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi sekaligus reduksi risiko bencana.

Hammam menambahkan BPPT berkomitmen untuk mendorong terwujudnya cita-cita pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu mengantisipasi bencana alam sejak dini.

"Ini satu inovasi teknologi BPPT di bidang kebencanaan sekaligus sebagai bentuk mitigasi dan reduksi risiko bencana, agar dapat mengurangi korban jiwa dan kerusakan harta benda apabila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu terjadinya tsunami," kata Hammam.

Pelepasan KR Baruna Jaya III dipimpin secara langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro.

baca juga: Google Map Salah Peta, Wagub Maluku Protes Kepala BIG

Hammam menjelaskan, khusus untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System), pihaknya bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Informasi Geospasial (BIG). Selain itu, langkah ini diinisiasi oleh Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi serta Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

"Kami bersinergi untuk mewujudkan Sistem Peringatan Dini Tsunami yang terorganisasi, yang handal, yang modern, yang mampu menjawab harapan Presiden RI," tutur Hammam. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More