Kamis 12 Desember 2019, 01:20 WIB

Kolaborasi Tiga Musisi Di Mata Semesta

Irana Shalindra | Weekend
Kolaborasi Tiga Musisi Di Mata Semesta

Dok. Program Peduli
Dewa Budjana, Asteriska, dan Baskara Putra, berkolaborasi dalam lagu Mata Semesta.

Bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional 2019, musikus Dewa Budjana, Asteriska, dan Baskara Putra (Hindia), baru saja merilis karya kolaborasi, Di Mata Semesta. Lagu yang bertema tentang inklusivitas itu diinisiasi Program Peduli yang menggawangi gerakan Indonesia Inklusif (#IDInklusif).

Dewa Budjana berperan sebagai komposer dan arranger. Sementara itu, Hindia menulis lirik dasar yang kemudian dikembangkan bersama rekan duetnya Asteriska. Ketiganya berhasil menyelesaikan lagu berjudul Di Mata Semesta pada November 2019. Kolaborasi tersebut semakin lengkap berkat musisi pendukung Saat Syah (suling), Jalu G. Pratidina (kendang), dan Ronald Fristianto (drum).

"Jadi, secara instrumentasi tradisi, saya ambil perkusinya dari Jawa Barat, sulingnya dari Kalimantan," terang Budjana dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia. Selain diisi instrumen khas Nusantara, lagu ini juga bersemat alunan sinden oleh Asteriska.

Menurutnya, lagu Di Mata Semesta mengajak pendengar untuk melihat dan memperlakukan setiap manusia secara setara dan semartabat. Tidak ada yang lebih rendah atau tinggi karena di mata semesta, kita semua sama.

Video lagu ini menampilkan cuplikan dokumentasi dari berbagai wilayah kerja Program Peduli di Indonesia. "Di Mata Semesta, kau dan aku sama saja," begitu ucap dan isyarat berbagai wajah dan anak Indonesia dalam bahasa daerah mereka masing-masing, seperti dapat disimak dalam video klipnya di bit.ly/di-mata-semesta.

Mengenai proses pembuatan lirik, Baskara mengatakan, "Saya mendapat ide dari logika bahwa satu orang di mata alam semesta itu cuma titik debu. Jadi, kalau dari sudut pandang yang sangat makro, sebenarnya enggak ada masalah yang lebih penting, enggak ada kelompok yang lebih kecil, semuanya sama."

Saat ditanya mengenai pandangan terkait inklusi sosial, Budjana menjawab, "Soal mayoritas minoritas itu selalu di mana-mana ada, tapi, dalam perlakuan seharusnya semua sama."

Senada dengan Budjana, Asteriska menimpali, "Jangan gara-gara mereka secara fisik enggak sama kayak kita, jadi akhirnya belum apa-apa udah kayak enggak dilihat gitu. Jangan!"

Team Leader Program Peduli, Abdi Suryaningati menyambut baik kolaborasi tiga musisi lintas generasi ini. "Inklusi sosial yang diupayakan Program Peduli telah menyentuh banyak individu dari komunitas yang selama ini terpinggirkan dan termarginalkan serta mendapatkan stigma dan diskriminasi. Penting bagi kami untuk memperluas nilai dan gerakan inklusi sosial ini di tengah kondisi masyarakat yang mulai terkotak-kotakkan."

Program Peduli bertujuan meningkatkan inklusi sosial bagi enam kelompok marginal yang kurang mendapatkan akses terhadap layanan pemerintah dan program perlindungan sosial. Mereka mencakup anak dan remaja rentan; orang dengan disabilitas; transpuan atau waria; korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat; masyarakat adat dan lokal terpencil yang bergantung pada sumber daya alam; serta penghayat kepercayaan dan pemeluk agama minoritas yang menjadi korban kekerasan. (RO/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More