Kamis 12 Desember 2019, 06:10 WIB

Pendidikan untuk Anak Indonesia

Ali Khomsan Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB | Opini
Pendidikan untuk Anak Indonesia

Dok.MI/Seno
Opini

DUNIA pendidikan, khususnya di tingkat dasar dan menengah, mempunyai tantangan besar di era pemerintahan Presiden Jokowi yang kedua, yakni menyangkut pembenahan kurikulum. Kurikulum bukan sekadar memasukkan informasi sebanyak-banyaknya kepada anak, melainkan juga yang lebih penting ialah mengasah kemampuan anak dalam hal analisis.

Hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) 2018 kembali menyentak dunia pendidikan Tanah Air. PISA dapat menjadi referensi untuk menilai mutu pendidikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Dengan jumlah sampel mencapai 600 ribu anak berusia 15 tahun dari 79 negara, kemampuan membaca anak-anak Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah (74). Skor rata-rata anak Indonesia ialah 371, berada di bawah Panama yang memiliki skor rata-rata 377. Untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Untuk sains skor rata-rata murid Indonesia 389, sedangkan skor rata-rata dunia 489.

Siswa SD diharapkan mempunyai kompetensi dalam hal membaca, menulis, dan berhitung (matematika). Namun, pada kenyataannya, mereka menerima banyak mata pelajaran dengan tingkat kedalaman yang luar biasa. Ketika anak saya masih duduk di kelas 3 SD, mata pelajaran IPA yang diterimanya membahas berbagai jenis tanah, seperti tanah aluvial, litosol, organosol, andosol dan lain-lain.

Siswa juga harus dapat membedakan bebatuan, seperti batu granit, obsidian, basal, breksia, dan sebagainya. Apakah pendidikan kita akan mengarahkan anak-anak SD menjadi seorang geologis?

Mungkin selama ini kita berpikiran mumpung otak anak-anak sedang berkembang, maka perlu diisi sepadat-padatnya dengan informasi ilmu pengetahuan. Tidak pernah terpikirkan bahwa informasi yang berlebihan akhirnya akan luber dan tumpah sehingga tidak ada gunanya.

Tugas besar

Materi pelajaran yang terlalu dalam dan sangat beragam tidak akan menghasilkan anak-anak super. Hasilnya bisa jadi malah sebaliknya, yaitu sedikit anak-anak kita yang dapat menyerap pelajaran dengan baik. Sementara itu, yang kemampuannya pas-pasan, apalagi di bawah rata-rata, lebih banyak bengong. Menjadi tugas besar bagi jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meninjau kembali kurikulum pendidikan dasar kita.

Prestasi akademik yang tinggi menjadi dambaan setiap siswa dan orangtuanya. Dunia orangtua seakan kiamat kalau anaknya tidak bisa meraih peringkat 10 teratas di dalam kelasnya. Orangtua pun akhirnya membiayai anaknya untuk ikut berbagai bimbingan belajar (bimbel) atau les tambahan.

Image yang muncul ialah bahwa pendidikan di sekolah yang meskipun muatan kurikulumnya sudah sangat padat, toh belum dianggap cukup oleh orangtua, terutama di saat anak duduk di kelas akhir dan bersiap menghadapi ujian nasional (UN). Meski UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan, UN tetap dianggap momok yang menakutkan.

Bimbingan belajar memang dapat meningkatkan wawasan atau pemahaman anak, tetapi tidak jarang anak menjadi sangat kelelahan, baik mental maupun fisik karena tiada hari tanpa les. Kesibukan ikut les juga menghilangkan kesempatan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang merupakan sarana hidup bermasyarakat.

Di Kabupaten Purwakarta pernah diinisiasi kebijakan bahwa anak SD tidak perlu diberi PR. Maksudnya agar anak-anak itu mempunyai waktu luang lebih banyak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial masyarakatnya, bukan hanya bergelut dengan urusan sekolah formal yang sangat menyibukkan.

Kehidupan sosial anak seyogianya harus tetap terfasilitasi, di samping kebutuhannya akan sarana belajar yang baik. Dengan demikian prestasi akademik dan prestasi sosial akan berjalan beriringan. Bukankah keberhasilan hidup bukan semata-mata ditentukan faktor intelegensi akademik?

Masalah disiplin di dunia pendidikan perlu mendapat pengamatan yang serius. Seorang guru jangan sampai seenaknya tidak masuk kelas dan hanya mewajibkan siswa-siswanya untuk mencatat. Perilaku guru harus menjadi contoh bagi murid-muridnya, termasuk di bidang kedisiplinan.

Menegakkan peraturan dengan tegas tanpa pandang bulu akan membawa dampak positif bagi perbaikan sistem pendidikan. Masalah tawuran antarpelajar yang sudah merupakan penyakit kronis akan dapat diatasi kalau ada sanksi tegas pihak sekolah. Siswa di sekolah menengah yang berkualitas umumnya jarang terlibat dalam tawuran. Kuncinya hanya satu, yaitu keluarkan dari sekolah siapa pun siswa yang terlibat tawuran.

Kita semua berharap sangat banyak dari Kemendikbud untuk membenahi permasalahan pendidikan yang kompleks ini. UU Guru dan Dosen telah membawa dampak positif berupa meningkatnya kesejahteraan guru karena adanya tunjangan sertifikasi. Kesempatan para kepala sekolah untuk studi banding di mancanegara juga semakin terbuka luas. Dengan demikian, secara bertahap dunia pendidikan seharusnya sudah mulai berubah.

Rumus umum yang hendaknya diterapkan untuk memperbaiki pendidikan di Tanah Air ialah bahwa pencapaian academic excellence harusnya selaras dengan welfare excellence. Jadi, benahi kurikulum dengan segera, selalu perhatikan kesejahteraan para pendidik, dan perbaiki sarana pendidikan yang ada.

Adanya sekolah dengan atap hampir ambruk yang membahayakan siswa-siswa yang tengah belajar, tentu jangan sampai terjadi lagi. Semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, dari guru, pengawas, dan masyarakat harus berani mengusulkan dan mendesak kepada pemda dan legislatif agar fasilitas pendidikan di wilayahnya dalam kondisi layak.

Guru ialah profesi yang membanggakan. Tanpa guru, kita semua tidak akan menjadi apa-apa. Sangat penting bahwa profesionalitas guru harus terus-menerus ditingkatkan karena guru dalam melaksanakan tugasnya ialah dalam rangka mengisi fungsionalitas sebagai pendidik. Maka itu, hendaknya guru jangan direpotkan dengan urusan administratif yang melelahkan.

Kita semua berharap banyak kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang muda, milenial, dan mempunyai tekad besar untuk membenahi pendidikan di Tanah Air.

Lompatan teknologi berlangsung begitu cepat dan hal ini menuntut kesiapan SDM yang berkualitas dan berkarakter. Tanpa SDM yang andal, bangsa ini akan tertinggal jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Tantangan di masa depan mengharuskan umat manusia terlibat dalam persaingan global.

Hal ini juga terkait dengan semakin tingginya pemanfaatan sumber daya alam sehingga hanya bangsa dengan SDM unggul dan siap secara teknologi akan paling banyak memetik manfaat dari sumber daya alam yang semakin langka.

Kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak akan mendatangkan kesejahteraan bagi rakyatnya apabila mutu SDM-nya rendah. Peningkatan mutu SDM hanya dapat diraih apabila sektor pendidikan berhasil memberdayakan masyarakatnya menjadi lebih cerdas, disiplin, dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Memimpin dalam Masa WFH

👤Andi Ilham Said Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Produk PPM Manajemen 🕔Rabu 25 November 2020, 01:25 WIB
MEMIMPIN dari jarak jauh, adalah keniscayaan yang dihadapi hampir semua pemimpin perusahaan dalam era pandemi covid-19 saat...
Dok. Pribadi

Hari Guru Nasional

👤Arief Rachman Pendidik 🕔Rabu 25 November 2020, 01:20 WIB
Tugas dan tanggung jawab guru tidak hanya memberi ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga harus mampu mentransformasi ilmu...
Dok. MI

Konvensi Sepenuh Hati

👤Ahmad Baedowi Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta 🕔Selasa 24 November 2020, 02:15 WIB
Dalam tradisi politik di Indonesia, konvensi memang bukan barang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya