Minggu 08 Desember 2019, 22:00 WIB

Ayo Kembali ke Pangan Lokal Khas Daerah

mediaindonesia.com | Humaniora
Ayo Kembali ke Pangan Lokal Khas Daerah

Istimewa
Festival Panen Raya Nusantara (Parara) 2019 di Atrium Plaza Semanggi Jakarta Selatan.

 

INDONESIA memiliki kekayaan dalam keragaman pangan. Berbeda daerah, berbeda pula pangan lokalnya. Dulu, masyarakat banyak memanfaatkan bahan pangan yang tersebut untuk konsumsi sehari-hari.

Namun, dewasa ini, konsumsi masyarakat Indonesia di berbagai daerah semakin tergantikan oleh bahan pangan lain yang didapat dari luar daerah yang jauh, bahkan dari impor.

Padahal, menurut pegiat pangan lokal Bibong Widyarti, bahan pangan lokal seringkali punya nilai lebih dari sisi kesehatan. Ia mencontohkan makanan yang bernama thiwul. Makanan yang terbuat dari singkong ini dulu banyak dikonsumsi masyarakat di Jawa Tengah.

Makanan yang terbuat dari singkongini merupakan sumber karbohidrat yang memiliki indeks glikemik lebih rendah daripada nasi. Artinya, tidak menaikkan kadar gula darah secara cepat sehingga baik untuk penderita diabetes.

Contoh bahan pangan lokal selanjutnya ialah daun kelor. Di beberapa daerah, seperti di Sulawesi Tengah, daun ini masih digunakan sebagai bahan membuat sayur. Daun ini terbukti secara ilmiah kaya akan manfaat dan memiliki nilai gizi tinggi.

“Saat mengonsumsi sayuran hijau, seperti daun kelor, bayam, kangkung, kadang orang takut asam uratnya naik. Nah, nenek moyang kita, sebenarnya sudah mempraktikkan hal yang sebenarnya ilmiah, yakni memadukan sayuran hijau dengan temu kunci sebagai bumbu," terang Bibong yang juga pendiri Rumah Organik ini pada sesi talkshow pada kegiatan Panen Raya Nusantara (Parara), Minggu (8/12) lalu di Plaza Semanggi, Jakarta.

"Penelitian membuktikan, temu kunci mencegah penaikan asam urat saat mengonsumsi sayuran hijau,” jelas Bibong.

Selain thiwul dan daun kelor, lanjut Bibong, masih banyak bahan pangan lokal sarat gizi yang bisa kita manfaatkan. Seperti, sagu, madu hutan, gula aren, garam krosok, aneka jenis mangrove, dan berbagai jenis kopi lokal.

Festival Parara

Talkshow tentang pangan lokal tersebut menjadi salah satu agenda Festival Panen Raya Nusantara (Parara) 2019 di Atrium Plaza Semanggi Jakarta Selatan, pada 6-8 Desember 2019.

Festival tersebut menghadirkan 100-an komunitas lokal dari seluruh Nusantara yang menampilkan berbagai produk pangan bijak yang lokal, hijau, sehat, adil, dan lestari, hasil kerajinan berbasis nonkayu serta produk lokal lainnya.

Festival Parara merupakan agenda dua tahunan yang digagas oleh Konsorsium Parara. Festival ini pertama kali diselenggarakan pada 2015 untuk mempromosikan dan menampilkan produk-produk kewirausahaan dari berbagai komunitas dan masyarakat adat.

Produk-produk tersebut merupakan hasil upaya komunitas untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesejahteraannya dengan memperhatikan keseimbangan antara alam dan manusia, dan berasal dari tradisi kearifan dan budaya komunitas tersebut.

Tahun ini, Festival Parara mengusung tema Pangan Bijak. Festival Parara mendorong perubahan yang sangat diperlukan dalam pola konsumsi, produksi, bahkan distribusi komoditas termasuk produk pangan. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More