Kamis 12 Desember 2019, 04:30 WIB

Kholis Kurniawan Racikan Budaya Jawa untuk Viral di Youtube

M Ahmad Yakub | Humaniora
Kholis Kurniawan Racikan Budaya Jawa untuk Viral di Youtube

Dok.Pribadi
Kholis Kurniawan

 

Mengabungkan minatnya pada Youtube, gamelan, dan sastra Jawa, jadilah ia Youtuber yang viral dengan konten cover lagu-lagu hit dengan musik gamelan dan bahasa Jawa.

KEDIAMANNYA hanya berupa rumah kecil di kaki Bukit Amintuno di Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Tengah. Meski begitu, nama penghuninya sudah viral di jagat Youtube.

Dialah Kholis Kurniawan, pendiri dari kelompok musik tradisional modern Gamelawan. Bersama dengan kelompoknya itu, Kholis atau yang juga dikenal sebagai Awan, rutin membuat konten musik di channel Youtube, Gamelawan.P5Pro, sejak 2015.

Tersurat dari nama kelompok itu, gamelan memang jadi alat musik andalan mereka. Selain itu, mereka juga menggunakan bahasa Jawa, sedangkan lagu yang mereka cover ialah lagu-lagu hit dunia, seperti Despacito dari Luis Fonsi dan Daddy Yankee, Flashlight milik Jessie J, dan See You Again dari Wiz Khalifa.

Racikan musik jawa di lagu-lagu Billboard 100, itu, sukses membuat konten-konten produksi Gamelawan viral. Cover lagu See You Again yang dibuat Gamelawan pada tiga tahun lalu, sudah ditonton 6,2 juta kali, sedangkan Flashlight versi mereka sudah ditonton 3,3 juta kali.

Tidak hanya disukai netizen, konten-konten di channel Youtube Gamelawan.P5Pro, juga menarik perhatian putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pengarep. Hasilnya, mereka pun digandeng tampil di vlog Kaesang pada 2017.

Ditemui di rumahnya, Sabtu (30/11) sore, Kholis mengaku jika viral di kancah dunia memang sudah jadi cita-citanya sejak lama. Hal itu makin kuat semenjak ia mengenal platform berbagi video, Youtube.

Maka itu, Kholis yang kala itu masih menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) pun memutar otak untuk membuat konten. "Tapi, awalnya sempat bingung mau membuat konten apa yang nantinya diminati milenial di Youtube. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan tim, diputuskan untuk meng-cover lagu-lagu Barat yang lagi viral maupun yang legendaris," tuturnya kepada Media Indonesia.

Formula itu pun dirasa cocok bukan hanya karena konten sejenis yang masih jarang, melainkan juga karena misi dan kecintaannya pada tradisi Jawa. "Mimpi saya, karya ini disenangi nitizen internasional. Ini semua kita lakukan dalam rangka melestarikan tradisi dan sastra Jawa," tambah pria yang kini telah memiliki 166 ribu subscriber di channel Youtube-nya.

Berharap sampai ke level Didi Kempot

Jalan berliku yang dialami orang-orang sukses lainnya, juga dialami Kholis. Saat awal produksi konten, ia hanya dibantu seorang saudara sepupu dan hanya berbekal peralatan sederhana. Untuk mengisi figuran di videonya, Kholis meminta bantuan teman-teman dari komunitas teater.

Meski sederhana, konten itu mendapat respons cukup bagus hingga memompa semangat Kholis untuk terus berproduksi. Kini, pria yang memiliki ciri khas penampilan berbelangkon itu telah memiliki lima orang anggota di kelompok Gamelawan.

Dalam membuat cover lagu, Kholis mengaku mengerjakan sendiri aransemen. Ia juga berpegang pada prinsip tidak meninggalkan budaya dan identitas Jawa. Tak jarang, dalam konten yang diunggahnya juga menyertakan tulisan asli aksara Jawa.

Meski memiliki target penonton kalangan milenial, Kholis tidak ingin

longgar dalam menjaga kualitas lirik bahasa Jawa. Untuk soal ini, ia berkonsultasi pada Jatmiko--seorang pengajar bahasa Jawa di Kabupaten Tulungagung.

Seiring dengan semakin tenarnya nama Gamelawan, mereka mulai kebanjiran tawaran manggung. "Undangan pertama dari dari Wali Kota Batu, Jatim. Saat itu penampilan kami membuka gelaran musik yang dibintangi Ari Laso," kenang pria berusia 29 tahun itu soal tawaran pertama pada 2016.

Tawaran manggung pertama itu sempat membuatnya bingung soal tim. Dari situlah, kemudian ia menggandeng sejumlah kerabat dan teman untuk menjadi tim kreatif dan personel.

Pada manggung pertama ini, mereka hanya berbekal dua buah saron (alat musik pukul pada gamelan Jawa) dan kendang. Komposisi musik mereka dilengkapi dengan backing track hasil rekaman di studio.

Dari manggung pertama itu mereka mendapat honor Rp7 juta yang dibagi ke seluruh tim dan kru.

Selama 2015-2016, Kholis mengaku masih bisa konsisten menghasilkan minimal empat konten video setiap bulan sembari melayani tawaran manggung. Namun, ketika tawaran manggung semakin gencar, produktivitasnya di Youtube mau tidak mau berkurang hingga sekarang hanya bisa menghasilkan satu video per bulan.

Jejak manggung mereka memang sudah ke berbagai darerah, termasuk Tuban, Surabaya, Kudus, Kebumen, Yogyakarta, dan Bandung. Tak hanya itu, sejumlah televisi swasta juga mengundang mereka, baik untuk tampil maupun berbagi pengalaman sebagai Youtuber. Kholis menyebut kini penghasilan mereka per manggung berkisar Rp15 juta.

Kholis yang sudah menghasilkan sekitar 50 cover lagu pun semakin memahami jika perolehan view di Youtube tidak bisa dipastikan. Hal ini juga dipengaruhi persaingan dengan Youtuber lain yang semakin kreatif.

"Youtube itu kan sangat dinamis. Jadi, kayak Gamelawan pada 5 tahun lalu viral, tapi tahun-tahun berikutnya banyak youtuber lain yang lebih kreatif. Dan kita sadar akan hal itu," ungkapnya.

Dengan begitu, Kholis sadar jika kreativitas dan inovasi menjadi faktor krusial untuk mempertahankan prestasi di Youtube. Ini membuatnya terpacu menyiapkan sejumlah gebrakan, salah satunya ialah merilis album lirik lagu Jawa asli.

Saat ini ia telah menghasilkan tiga lagu Jawa yang berhasil diciptakan, termasuk yang berjudul Awak Gering. Langkah menciptakan lagu Jawa sendiri itu sesungguhnya juga pilihan berisiko.

Itu karena Kholis mengerti jika sebenarnya penontonnya cenderung lebih sedikit jika menyanyikan lagu Jawa asli ketimbang meng-cover lagu Barat. Meski begitu, ia berani mengambil langkah ini demi menciptakan jati diri.

Selain itu, kepercayaan dirinya di genre lagu Jawa juga berkaca pada kesuksesan Didi Kempot. "Nanti kalau sudah sampai pada level Didi Kempot, kita tak akan menjadi orang lain," pungkasnya optimis. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More