Rabu 11 Desember 2019, 22:24 WIB

Akan Dihapus, Berikut Dampak Negatif UN

Thomas Harming Suwarta | Humaniora
Akan Dihapus, Berikut Dampak Negatif UN

Antara
Siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sesi kedua mata pelajaran matematika di SMA PGRI 2 Jombang, Jawa Timur, Selasa (2/4)

 

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memutuskan 2020 akan menjadi pelaksanaan Ujian Nasional di Indonesia. Penyelenggaraan UN selanjutnya akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Tim Riset Media Indonesia mencoba menelusuri beberapa fakta atau dampak yang selama ini mengitari Ujian Nasional yang punya banyak nama tersebut. Pernah disebut Ujian Penghabisan, Ujian Negara, Ebtanas, Ujian Sekolah hingga sebutan Ujian Nasional seperti sekarang.

Apa saj fakta-faktanya? Berikut beberapa temuan yang berhasil dirangkum Tim Riset Media Indonesia :

1. UN membuat para siswa, guru, dan sekolah hanya fokus pada nilai dan bukan kompetensi. Jikapun nilai anak tinggi dalam UN, itu bukan representasi kompetensi mereka. Sebabnya, bentuk soal pilihan ganda dalam UN hanya mengetes ranah kognitif level rendah, yaitu tahu, mengerti, dan hafal.

2. Dalam banyak penyelenggaraan UN, banyak saja kecurangan yang terjadi misalnya, kebocoran soal yang terjadi setiap tahun di berbagai daerah. Salah satu yang pernah terjadi misalnya kasus bocornya soal ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di SMPN 54 Surabaya tahun 2018 lalu.

3. Tampaknya juga UN membuat banyak orang tua menjadi cemas sehingga mendorong anak mengikuti bimbel agar lulus. Dalam pengakuan orang tua, banyaknya bimbel ini membuat anak merasa tertekan, juga mengganggu kesehatan anak-anak dan kualitas komunikasi mereka dengan orangtua.

4. Fakta lain lagi ialah pihak sekolah merasa tertekan jika ada banyak siswa yang tak lulus dari sekolah mereka. Akibatnya, banyak sekolah melakukan istigasah. Bahkan, ada sekolah yang melakukan kecurangan dengan membocorkan soal agar seluruh siswa dapat lulus 100% dan mencapai nilai tinggi.

Tentu saja ada dampak-dampak lain yang bisa diungkap. Yang pasti Mas Menteri Nadiem sudah punya pertimbangan cukup matang sehingga berani memutuskan UN yang punya banyak catatan tersebut akhirnya dihapus. (OL-8)

 

Baca juga: Ini Sejarah Ujian Nasional di Indonesia

Bac juga: IGI Respons Kebijakan Baru Mendikbud

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More