Kamis 12 Desember 2019, 04:00 WIB

Salju di Papua Lenyap 5 Meter dalam Setahun

(Ind/H-2) | Humaniora
Salju di Papua Lenyap 5 Meter dalam Setahun

MI/BRIYAN B HENDRO
Salju di Papua Lenyap 5 Meter dalam Setahun

 

PEMANASAN global akibat fenomena El Nino pada 2016 lalu menjadi tahun terpanas dalam sejarah dunia. Tak hanya menyebabkan masifnya kasus kebakaran hutan dan lahan, El Nino juga meninggalkan jejak mendalam di Gunung Cartensz, Puncak Jaya, Papua.

Hal itu terungkap dalam hasil riset Byrd Polar and Climate Research Center (BPCRC) di The Ohio State University (OSU) dan Lamont Doherty Earth Observatory (LDEO) di Columbia University, AS, bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI.

Riset yang dimuat oleh Proceedings of the Nation Academy of Sciences di Amerika Serikat, belum lama ini, menyebutkan, sepanjang Juni 2010 hingga Oktober 2018, es di Puncak Jaya berkurang sangat cepat dilihat dari tutupan dan ketebalannya selama delapan tahun terakhir.

"Salju Cartensz mencair paling cepat pada periode 2015-2016 karena fenomena iklim El Nino," ujar Prof Lonnie G Thompson dari BPCRC OSU, yang memimpin ekspedisi tersebut.

Tidak hanya salju di Puncak Jaya, Thompson mengungkapkan hal serupa juga terjadi di Pegunungan Kilimanjaro, di Tanzania dan Pegunungan Andes di Peru.

Untuk keperluan riset, tiga sampel inti es diambil dari gletser dekat Puncak Jaya pada Mei-Juni 2010, yang dibor dari East Northwall Firn (ENF). Dua di antaranya sampai dengan dasar batuan dengan kedalaman masing-masing 32.13 m (D1) dan 31.25 m (D1B) di Puncak Soemantri, sedangkan yang ketiga dengan kedalaman 26.19 m (D2) di Puncak Soekarno (Ngga Pulu).

Salah satu peneliti Indonesia yang juga terlibat dalam riset itu ialah Donaldi Permana dari BMKG. Berdasarkan informasi rekaman inti es dan pengukuran tiang, kata Donaldi, terungkap adanya penyusutan ketebalan es sebanyak 5 meter dalam periode 2010-2015.

Jika pada 2010, terangnya, ketebalan es masih 32 meter, angkanya terus menyusut menjadi 27 meter pada 2015.

"Survei pengukuran tiang dilakukan kedua kalinya pada November 2016, ketebalan es kembali berkurang 5 meter hanya dalam waktu satu tahun. Hal ini kemungkinan dipicu oleh kondisi El Nino kuat," terang Donaldi kepada Media Indonesia, kemarin.

Gletser di Indonesia merupakan salju tropis terakhir yang tersisa di wilayah Pasifik barat. Bahkan, karena terletak pada daerah yang sensitif terhadap iklim, gletser Cartensz menjadi indikator sensitif perubahan iklim.

Menurutnya, tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghentikan mencairnya es di Puncak Jaya, kecuali memperlambatnya dengan menahan laju perubahan iklim dan mencegah kenaikan suhu global. "Sedapat mungkin kurangi penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca," imbuh Donaldi. (Ind/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More