Jumat 13 Desember 2019, 03:05 WIB

Ditemukan! Kutu Parasit pada Bulu Dinosaurus

Fetry Wuryasti | Weekend
Ditemukan! Kutu Parasit pada Bulu Dinosaurus

Dok. Taiping Gao/Nature Communications
Peneliti menemukan adanya kutu yang memakan bulu dinosaurus berusia 99 juta tahun lalu.

Dinosaurus mungkin makhluk intimidatif dan menakutkan yang mendominasi bumi prasejarah, tetapi tidak menghentikan kutu 'bermain-main' dengan bulu mereka.

Para ilmuwan telah menemukan potongan-potongan kayu amber (damar) kuning tua, yang berasal dari sekitar 99 juta tahun yang lalu. Pada potongan kayu itu, tersemat bulu dinosaurus yang dipenuhi serangga mirip kutu. Salah satu bulu bahkan menunjukkan tanda-tanda telah digigit kutu.

Tim mengatakan itu adalah pertama kali serangga pemakan bulu ditemukan dari era itu - meskipun banyak dinosaurus nonunggas dan burung purba telah diidentifikasi memiliki bulu.

"Ini adalah yang paling awal yang tercatat, atau secara resmi didokumentasikan, (contoh) kutu atau serangga seperti kutu yang memakan bulu," kata Dr Chungkun Shih, seorang profesor tamu di Capital Normal University di China dan rekan penulis penelitian, disadur dari The Guardian, Rabu (11/12).

Penemuan ini memundurkan lagi momentum asal-usul serangga pengunyah bulu sekitar 55 juta tahun. Mereka bukan satu-satunya parasit yang mungkin mengganggu dinosaurus; penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa binatang itu juga diusik kutu penghisap darah.

Menulis di jurnal Nature Communications, Shih dan rekannya mengungkapkan bagaimana mereka menemukan 10 serangga mirip kutu kecil bersama dua bulu dinosaurus di dalam potongan kayu itu yang diyakini berasal dari sekitar 99 juta tahun yang lalu --atau mungkin sebelumnya.

Tim itu mengatakan serangga itu milik spesies yang sebelumnya tidak dikenal, dinamai Mesophthirus engeli, dan merupakan nimfa, atau tahap perkembangan serangga yang belum matang.

Di antara ciri-ciri mereka, serangga memiliki tubuh kecil tanpa sayap, dengan panjang 0,14 mm-0,23 mm, bagian mulut yang kuat dengan setidaknya empat gigi, dan antena pendek dan kokoh. Tim memperkirakan bahwa serangga akan mencapai panjang sekitar 0,5 mm pada fase dewasa mereka.

Shih mengatakan ukuran serangga itu mengejutkan, karena mengira kutu dari zaman itu jauh lebih besar daripada rekan-rekan modern mereka.

"Berdasarkan penelitian kami tentang kutu fosil, kami berpikir bahwa jika kami mencari kutu, ukurannya mungkin lebih besar daripada kutu saat ini, tetapi mereka ternyata sangat kecil. Itu bisa menjelaskan mengapa pada fosil kompresi (di bebatuan) kami tidak dapat mendeteksi kutu," kata dia.

Bahkan di dalam kayu damar kuno, serangga jarang terjadi. Shih mengatakan tim melihat hingga 1.000 keping berisi bulu burung atau dinosaurus yang diawetkan sebelum membuat penemuan mereka.

Mereka mengatakan serangga di dalam damar tampaknya memakan bulu-bulu, mencatat bahwa salah satu keping ambar memiliki empat serangga yang terpelihara di dalam bulu, dan lima lainnya di dekatnya, dengan salah satu kutu diawetkan dengan kakinya dipeluk erat-erat [di sekitar] bulu. Bulu itu sendiri menunjukkan tanda-tanda kerusakan, dengan lubang di baling-baling yang dikatakan tim konsisten dengan serangga yang mengunyahnya

"Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku makan bulu serangga berasal setidaknya di Cretaceous pertengahan, menyertai radiasi dinosaurus berbulu, termasuk burung purba," tulis para penulis.

Tim tersebut mengatakan analisis dari dua bulu, yang panjangnya 12,7mm dan 13,6mm, menunjukkan bahwa mereka kemungkinan berasal dari dua jenis dinosaurus, salah satunya mungkin pennaraptoran - sejenis burung mirip theropoda - walaupun ada kemungkinan mereka adalah dua jenis bulu dari spesies yang sama.

"Ini adalah bukti pertama bahwa dinosaurus berbulu sebenarnya menderita parasit yang mengunyah bulu mereka," kata Shih.

Michael Benton, profesor paleontologi vertebrata di Universitas Bristol, menyambut baik penelitian ini. "Sungguh menakjubkan, dan sangat meyakinkan bahwa dalam satu spesimen mereka menemukan sembilan kutu dari spesies yang sama, masing-masing hanya seperlima dari satu milimeter, berpegangan pada bagian-bagian berbeda dari bulu yang terperangkap dalam damar," katanya.

Kerusakan pada bulu, tambahnya, menunjukkan kesamaan dengan yang dibuat oleh parasit modern, dengan penelitian menunjukkan bahwa serangga tersebut berevolusi bersamaan dengan perkembangan bulu. "Parasit berjalan segera setelah mereka memiliki kesempatan," katanya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More