Rabu 11 Desember 2019, 18:40 WIB

Kementan Lepas Ekspor Kopi dan Cengkeh ke Enam Negara di Pasuruan

mediaindonesia.com | Nusantara
Kementan Lepas Ekspor Kopi dan Cengkeh ke Enam Negara di Pasuruan

Ist
Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono, saat melepas ekspor kopi dan cengkeh di Pasuruan, Jatim, Rabu (11/12).

 

BERSAMAAN dengan peringatan Hari Perkebunan Nasional yang ke-62 tahun ini, Kementerian Pertanian melakukan pelepasan ekspor kopi dan cengkeh. Pelepasan ini berlangsung di gudang PT Asal Jaya Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (10/12).

PT AJ Gempol merupakan salah satu eksportir komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, dan cengkeh di Jatim. Perusahaan ini sudah menjalankan bisnis ekspor ke 48 negara di kawasan Eropa, Asia, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah.

Pada acara simbolis pelepasan ekspor ini dikirimkan total volume ekspor komoditas kopi dan cengkeh sebanyak 449,6 ton (total 24 kontainer) dengan total nilai ekspor US$1.006.712 atau sekitar Rp14,09 miliar. Kopi didapatkan dari kelompok tani (poktan) binaan di Kabupaten Malang, sedangkan cengkeh dari poktan di daerah Ambon, Maluku.

Untuk kopi seberat 382,8 ton (20 kontainer) dengan nilai ekspor mencapai US$646.252 (Rp9,05 miliar) dan negara tujuan Mesir, Inggris, Italia, dan Jepang. Sedangkan untuk cengkeh sebesar 66,8 ton (4 kontainer) dengan nilai ekspor US$360.460 (Rp5,05 miliar) dan negara tujuan Pakistan dan India.

Dalam sambutannya, Dirjen Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyono, mengatakan, dirinya hadir mewakili Mentan Syahrul Yasim Limpo pada peluncuran ekspor ini, karena menurut kementerian pencapaian tersebut luar biasa. Selain itu, PT AJ Gempol dinilai sebagai salah satu eksportir produk perkebunan yang cukup tinggi, yang mana setiap tahun mampu mengekspor 40 ribu ton senilai Rp1,7 triliun.


Baca juga: TPA Rp13 Miliar sudah Setahun Terlantar


"Kalau kita kaitkan dengan semangat kita yang sudah disampaikan oleh Bapak Menteri Pertanian, kita punya program yang kita sebut dengan Gerakan Tiga Kali Lipat ekspor produk pertanian, yang kita singkat dengan Geratik. Tadi disampaikan oleh Direktur PT Asal Jaya, Bapak Haryanto, bahwa perusahaan ini telah mengekspor 40 ribu ton maka akan kita tingkatkan 5 tahun ke depan menjadi 120 ribu ton. Pertanyaan bagaimana memperoleh atau mencapai 120 ribu ton? Tentu pemerintah tidak akan tinggal diam, tadi baru saja kita fasilitasi karantina saja sudah semangat apalagi difasilitasi yang lain," tuturnya.

Menurut Kasdi, di belakang eksportir ada peran pihak yang menyuplai produk kopi yakni pekebun. Namun di sana ada petani, yang notabene masih harus ditingkatkan usahanya untuk memncapai tingkat kesejahteraan yang diharapkan. Ini tidak mudah, maka kerja sama antara pasar dan produsen (petani) harus dijalin dengan lebih baik.

"Pemerintah dalam hal ini bukan lagi pendekatan proyek dan tidak lagi pendekatan program semata. Tapi kita kemas dalam perspektif gerakan yang namanya gerakan harus meningkat," kata Kasdi.

Untuk itu, menurut dia, pemerintah telah menetapkan tekad melalui program Geratik.

"Tentu APBN dan APBD tidak akan cukup untuk memfasilitasi para pekebun supaya produksinya cukup untuk diekspor. Karena menurut perhitungan APBN dan APBD paling hanya mengkaver 25-30%. Lantas bagaimana dengan 70%? Nah pemerintah juga sudah menyediakan melalui instrumen perbankan pembiayaan. Kita akan support dengan pembiayaan KUR (Kredit Usaha Rakyat). KUR di sektor pertanian ini sudah menjadi komitmen dari pada Bapak Presiden dan Mentan. Kita akan alokasikan sekitar 50 triliun, dan 27,3 triliun dialokasikan untuk subsektor perkebunan paling tinggi, maka kita manfaatkan itu," ujar Kasdi. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More