Rabu 11 Desember 2019, 11:45 WIB

Badan POM Ungkap Penjualan Obat dan Makanan Daring Ilegal

Yurike Budiman | Humaniora
Badan POM Ungkap Penjualan Obat dan Makanan Daring Ilegal

MI/Cikwan
Kepala Badan POM RI Penny Lukito (tengah)

 

BADAN POM mengungkap modus penjualan makanan dan obat ilegal melalui jasa pengiriman secara daring. Kepala Badan POM RI Penny Lukito mengatakan pelaku diduga melakukan kejahatan peredaran kosmetik, obat tradisional, dan pangan olahan ilegal dengan modus penjualan melalui jasa pengiriman kurir oleh PT Boxme Fullfillment Centre dan penjualan secara daring oleh PT 2WTRADE.

"Di satu sisi, peredaran secara online yang ilegal seperti ini artinya mengedarkan obat dan makanan yang tidak mendapatkan izin edar dari badan POM tentunya dan aspek lain adalah obat palsu, impor palsu bisa jadi dan kandungan yang berbahaya. Total kerugian negara ini mencapai Rp53 miliar," kata Penny, Selasa (10/12), di Gudang PT Boxme Fullfillment Centre, Jalan Agung Karya, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dalam rincian barang yang disita BPOM, ada 43.071 kosmetik ilegal senilai Rp17,17 miliar, 58.355 obat tradisional ilegal senilai Rp27,98 miliar, dan 14.533 makanan olahan ilegal senilai Rp7,21 miliar.

Baca juga: Inovasi Riset Rendah akibat Kurang Kolaborasi Iptek

"Ini totalnya ada 59 jenis (barang), terdiri dari kosmetik, pangan, tapi yang paling dominan kosmetik ya. Satu sisi ini merugikan dunia usaha kosmetik, obat tradisional, pangan yang ingin berusaha dengan fair, dengan baik itu tentunya merugi dengan adanya upaya peredaran perdagangan seperti ini. Income pemasukan tax pajak pada pemerintah juga semakin jauh berkurang. Jadi ada aspek kerugian ekonomi," ungkap Penny.

Kerugian lainnya ialah aspek kesehatan masyarakat. Menurutnya, jika masyarakat mengonsumsi produk-produk ilegal tidak ada pendaftarannya, tidak ada jaminan, kandungannya pun tidak jelas.

"Tentunya kandungannya apa bisa jadi juga palsu, kelihatannya impor tapi impor palsu ini akan kita telusuri. Bisa jadi dibuat di satu fasilitas gudang yang kita tidak tahu ya produk tempat-tempat ilegal," kata dia.

Pihaknya juga telah memerika 10 saksi terkait temuan ini. Berdasarkan temuan dan fakta di lapangan, para tersangka dapat dijerat dengan ketentuan pasal 197 Undang-Undang Kesehatan juncto pasal 62 ayat 1 juncto pasal 8 ayat 1 UU Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, juncto pasal 142 jo pasal 91 ayat 1 undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan, dengan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda maksimal Rp1,5 miliar. (OL-2)

Baca Juga

Antara/Audy Alwy

Perhumas : Humas Harus Pahami Karakter CEO dan Pintar Beradaptasi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 09 Juli 2020, 23:31 WIB
"Kita harus memahami kira-kira CEO kita karakternya seperti apa. Menjadi PR kita harus mengetahui CEO kita dengan baik dan pintar...
Dok. Pribadi

Gandeng Korporasi, Kolaborasi Riset dan Inovasi Pangan Dijajaki

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 09 Juli 2020, 23:28 WIB
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kolaborasi produksi 5.000 produk Probarz dan 4.000 produk Aitamie yang diproduksi dan...
AFP/Chaideer Mahyuddin

Kasus Baru Covid-19 Meroket, Ini Kata Epidemiolog

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 09 Juli 2020, 23:00 WIB
"Itu karena pemeriksaan spesimennya memang banyak tetapi angka positivity rate Covid-19 di Jakarta rata-rata masih...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya