Selasa 10 Desember 2019, 21:10 WIB

Spirit Kebajikan dalam Last Christmas

Galih Agus Saputra | Weekend
Spirit Kebajikan dalam Last Christmas

Dok. Jonathan Prime/Universal Studios 2019
Emilia Clarke dan Henry Golding dalam film Last Christmas (2019).

Alkisah, Katarina (Emilia Clarke) tengah berjibaku dengan hidupnya. Dulunya ia seorang penyanyi yang cukup populer di Yugoslavia. Namun, kini ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan alkohol di sejumlah klub di London, bahkan kerap mengasingkan diri dari sahabat-sahabatnya. Hubungannya dengan keluarga juga tidak kalah runyam.

Ia 'jauh' dari sang Ayah (Boris Isakovic), yang seorang mantan pengacara dan beralih profesi menjadi pengendara taksi. Ia bahkan tidak berbicara dengan Ibunya (Emma Thompson) dan saudara perempuannya (Lydia Leonard).

Pada suatu waktu, Katarina yang juga dipanggil Kate itu, bekerja sebagai ‘peri’ di sebuah toko dekorasi Natal. Toko tersebut menjadi ujung pelariannya setelah ia tak punya lagi teman untuk berbagi tempat tinggal. Di saat hidupnya tak keruan, muncul sosok Tom (Henry Golding). Tom yang misterius kemudian banyak mendukung Kate agar memperbaiki hidup.

Kisah di atas merupakan sinopsis dari film Last Christmas (2019). Film komedi romantis yang disutradarai Paul Feig itu menjadi salah satu tontonan yang akan menemani masa-masa menyambut datangnya perayaan Natal dan pergantian tahun ini. Ceritanya ditulis oleh Bryony Kimmings bersama Emma Thompson bertahun-tahun lalu, dan mulai dirilis di Amerika Serikat pada 8 November lalu.

Last Christmas (2019) pada dasarnya menyuguhkan sejumlah elemen yang cukup unik. Ia muncul dengan perpaduan absurd, yang mana di satu sisi menawarkan ketersesatan dan putus asa, sementara di sisi lain juga menggambarkan lelucon, romantisme dan toleransi. Hal itu tampak dari sosok Kate, Tom, maupun tunawisma selain Kate yang hidup dalam rumah penampungan.

Clarke sendiri dalam memerankan Kate, tampaknya telah dibekali dengan suatu bakat berkomedi yang di atas rata-rata. Sejumlah adegan, misalnya, saat mukanya tertimpa kotoran burung tampak begitu serius namun juga menggundang gelak tawa. Pada saat yang sama, ada juga Golding yang tampak lebih dewasa dan berkharisma sehingga dapat membuat mereka terlihat seperti komedi dengan pemandangan anak muda dan 'orang tua'.

Last Christmas (2019) boleh dibilang juga tampak seperti film dengan kisah ‘cinta klasik’. Ia menonjol pada pertemuan sepasang pemuda, yang mana selalu diulang-ulang beberapa bagian krusialnya.

Selain itu, ia juga tampil dengan berbagai pelintiran (twist) yang dibumbui pesan moral maupun kehidupan. Dalam beberapa scene, penonton bahkan akan tampak diposisikan seperti orang kehilangan arah yang butuh panduan hidup dalam kebajikan. Khas -atau klise?- film-film dengan suasana Natal.

Film ini juga diadaptasi dari lagu George Michael dengan judul sama. George selama ini dikenal sebagai musisi yang kerap menawarkan kedalaman di setiap liriknya, selain dikenal juga sebagai melankolis lewat lantunan melodi yang cukup menawan. Maka dari itu pula, Last Christmas (2019) selain dibumbui dengan kisah atau perjalanan hidup, ia juga kerap memperdengarkan timbre yang khas dan menarik, hingga pada akhirnya menjadi suatu nuansa yang menuntun penontonnya menuju perasaan baik dan bahagia. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More