Selasa 10 Desember 2019, 18:50 WIB

Dilantik Jadi PM Finlandia, Sanna Marin PM Termuda di Dunia

Melalusa Susthira K | Internasional
Dilantik Jadi PM Finlandia, Sanna Marin PM Termuda di Dunia

AFP
Perdana Menteri Finlandia, Sanna Marin.

 

SANNA Marin yang berusia 34 tahun akan menjadi perdana menteri termuda di dunia ketika ia diambil sumpah oleh parlemen Finlandia pada Selasa (10/12) ini. Meskipun muda ia tidak kurang kurang dalam pengalaman politik.

Sebelum dilantik sebagai perdana menteri, Sanna Marin menjabat sebagai Menteri Transportasi Finlandia. Kariernya terus melesat sejak ia menjabat sebagai Kepala Dewan Tampere, kota yang merupakan kampung halamannya, saat ia berusia 27 tahun.

Majunya Marin ke puncak pemerintahan Finlandia mengartikan bahwa ia juga akan mengambil alih posisi Ketua Partai Sosial Demokrat tahun depan. Atas hal tersebut, pemerintah koalisi Finlandia akan terdiri atas lima partai yang semuanya dipimpin oleh wanita untuk pertama kalinya. Empat dari lima wanita tersebut juga berusia di bawah 35 tahun.

Marin menjadi kepala pemerintahan termuda di dunia, mengalahkan Perdana Menteri Ukraina Oleksiy Honcharuk yang saat ini berusia 35 tahun. Ia juga akan menjadi perdana menteri perempuan ketiga di Finlandia.

Marin menang tipis dalam voting pada Minggu (8/12) untuk menggantikan pemimpin Partai Sosial Demokrat Antti Rinne yang mengundurkan diri pada Selasa (3/12) setelah kehilangan kepercayaan dari partai koalisi Partai Tengah dalam menghadapi pemogokan pegawai pos.

"Saya tidak pernah memikirkan usia ataupun jenis kelamin saya. Saya memikirkan alasan yang mendorong saya masuk ke politik sayalah dan karena itulah kami telah mendapatkan kepec=rcayaan dari para pemilih," ujar Marin kepada wartawan sesaat setelah terpilih, Minggu (8/12).


Baca juga: Dua Pasal Pemakzulan Trump akan Segera Diumumkan DPR AS


Terkait kehidupan pribadinya, Marin menuturkan kepada surat kabar Finlandia, Helsingin Sanomat, bahwa masa kecilnya sangat memengaruhi prioritas politiknya. Ia menyebut kesuksesannya yang diperoleh di usia dini didukung oleh sistem di negara Finlandia.

"Saya dari keluarga miskin dan tidak akan bisa berhasil dan bergerak maju kalau bukan karena negara kesejahteraan yang kuat dan sistem pendidikan Finlandia," katanya.

Marin tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga homoseksual, oleh ibunya dan partner lesbiannya. Marin menyebut bahwa 'keluarga pelangi' mengajarkan kepadanya pentingnya kesetaraan, keadilan dan hak asasi manusia (HAM).

Dalam wawancara pada 2015 lalu, Marin mengungkapkan dirinya saat masa kecil merasa 'tidak terlihat’ sebagai seorang anak, karena tidak bisa berbicara secara terbuka tentang kondisi keluarganya.

"Itu adalah sesuatu yang tidak bisa Anda bicarakan. Hanya menjadi mungkin untuk berbicara secara terbuka tentang ‘keluarga pelangi’ di tahun 2000-an," terang Marin kepada majalah Me Naiset.

Adapun pada wawancara Januari lalu, Marin yang merupakan sarjana Administrasi Publik dari Universirtas Tampere, mengaku menyukai keteraturan dalam politik dan dalam kehidupan pribadinya.

"Di rumah selalu sangat rapi,” tutur Marin kepada surat kabar Finlandia Helsingin Sanomat.

"Pemerintah memiliki perannya sendiri, dan organisasi buruh memiliki peran mereka sendiri. Penting bagi batas-batas ini untuk dijaga," sambungnya.

Sebagai ibu dari seorang anak perempuan yang berusia dua tahun, Marin mengaku bahwa perannya dalam mengasuh anak tidak akan mengganggu kemampuan dan performanya dalam menjabat sebagai perdana menteri.

"Ketika situasi ini datang dengan mengejutkan, sungguh menentramkan bahwa suami saya mengirim pesan kepada saya, mengatakan bahwa ia dan ibu saya telah memikirkan bagaimana mereka akan menangani masalah praktis terkait pengasuhan anak," terang Marin, Minggu (7/12).

Partai Sosial Demokrat memenangkan pemilu legislatif pada April lalu berdasarkan janji mengakhiri kebijakan ekonomi penghematan yang dilakukan Partai Tengah untuk mengeluarkan Finlandia dari resesi. Kemenangan itu dilihat oleh sejumlah pengamat sebagai kemenangan bagi masyarakat liberal Finlandia. (AFP/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More