Selasa 10 Desember 2019, 12:42 WIB

Beras Rusak bukan Karena Kebijakan Impor

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Beras Rusak bukan Karena Kebijakan Impor

ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Pekerja mengangkut karung berisi beras di Gudang Perum Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (5/12/2019)

 

DIREKTUR Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh menegaskan kasus turun mutu pada 20 ribu ton beras perseroan bukan karena kebijakan impor yang dilaksanakan akhir 2018.

"Masih ada sekitar satu juta ton beras dari luar negeri. Itu aman, kok. Kondisinya masih baik," ujar Tri kepada Media Indonesia, Selasa (10/12).

Persoalan beras busuk yang melanda gudang Bulog sedianya terjadi karena kebijakan pemerintah. Sebagaimana diketahui, Perum Bulog setiap tahun diminta untuk menyerap jutaan ton beras.

Pada 2017, perseroan diminta menyerap 3,7 juta ton beras. Pada 2018, target serapan ditetapkan 2,7 juta ton dan tahun ini sebanyak 1,5 juta ton.

Ketika di hulu, Bulog dipaksa menyerap sebanyak-banyaknya. Sementara di hilir, pemerintah malah menutup pintu penyaluran beras yang selama ini menjadi andalan yakni beras sejahtera (rastra).

Berdasarkan data Bulog, penyaluran rastra terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2015, jumlah rastra yang tersalur mencapai 3,26 juta ton. Turun menjadi 2,79 juta ton pada 2016 dan kembali merosot tipis ke 2,55 juta ton pada 2017.

Baca juga: Stok Beras Rusak Diduga Lebih dari 20.000 Ton

Penurunan signifikan terjadi pada 2018 ketika penyaluran hanya 1,21 juta ton dan untuk tahun ini ditetapkan hanya 350 ribu ton.

Penurunan penyaluran tersebut terjadi tidak lain karena dimunculkannya Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) yang akhirnya menghapus rastra. Dalam kebijakan baru tersebut, Bulog tidak dijadikan sebagai penyalur utama.

Perseroan harus bersusah payah bersaing dengan perusahaan-perusahaan beras lain di seluruh Indonesia.

"Sejak 2017 mulai uji coba BPNT. Penyaluran kita dari situ mulai berkurang. Kita sudah disuruh beli, serap, serap, serap. Tapi kalau penyaluran ditutup, keluarnya kecil, kan jadi masalah," tuturnya.

Selain itu, bencana banjir di berbagai daerah juga menjadi faktor utama lainnya yang memicu turunnya mutu beras di gudang-gudang Bulog.

Keberadaan beras impor yang masih mencapai satu juta ton, lanjut Tri, malah memperkuat stok di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda Indonesia di hampir sepanjang semester kedua tahun ini.

"Hujan baru datang Desember kan. Harusnya kita dari Oktober sudah tanam. Sekarang di pantura olah tanah saja belum. Artinya, panen akan mundur. Bisa-bisa April-Mei baru panen besar. Sampai saat itu tiba, kita andalkan persediaan di gudang dan beras impor malah memperkuat stok kita," jelas Tri.(OL-5)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Upah Minimum 2021 tak Naik, Aksi Perlawanan Buruh Semakin Keras

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 10:59 WIB
Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan aksi perlawanan buruh akan semakin mengeras terhadap penolakan tidak adanya kenaikan upah minimum 2021...
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

AP II Prediksi 65 Ribu Penumpang Padati Bandara Soetta

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 09:29 WIB
Puncak arus keberangkatan penumpang di 19 bandara PT Angkasa Pura II diperkirakan terjadi hari ini, Selasa (27/10), mengawali periode libur...
ANTARA/Muhammad Iqbal

Hari Ini Diperkirakan Puncak Arus Libur Panjang di Bandara Soetta

👤Hilda Julaika 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 09:29 WIB
Diperkirakan kurang lebih sebanyak 65 ribu calon penumpang akan terbang melalui Bandara...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya