Selasa 10 Desember 2019, 10:35 WIB

Polisi tidak Tahan Ibu Bayi yang Tewas karena Makan Pisang

Tri Subarkah | Megapolitan
Polisi tidak Tahan Ibu Bayi yang Tewas karena Makan Pisang

Ilustrasi
Ilustrasi Bayi.

 

KAPOLSEK Kebon Jeruk AKP Erick Sitepu menegaskan pihaknya tidak menahan Yuni Sari, ibu bayi berusia 40 hari yang meninggal karena tersedak pisang. Keputusan itu diambil setelah polisi mendapati hasil visum dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

"Memang tidak ada tanda-tanda luka, tanda-tanda kekerasan, penganiayaan, itu tidak ada. Di visum dijelaskan, di saluran pencernaannya, ada benda keras, organnya nggak bisa mencerna," kata Erick saat dikonfirmasi, Selasa (10/12).

Menurut Erick, pihaknya tidak melihat adanya unsur kesengajaan dalam kematian bayi tersebut. Kematian bayi itu, lanjut Erick, lebih disebabkan kurangnya informasi yang diperoleh Yuni ihwal konsumsi untuk bayi.

Baca juga: Diberi Makan Pisang, Bayi 40 Hari Tewas

"Memang tidak ada unsur pidana. Karena ketidaktahuan, kurangnya pengetahuan makanan yang dikonsumsi bayi. Kalau ASI (air susu ibu) doang dia pikir masih kurang, dia nggak tau kalo bayi 40 hari itu belum bisa (dikasih makan pisang)," terang Erick.

Yuni juga diketahui memberi makan pisang kepada adik kembar bayi yang tewas. Namun sang adik baik-baik saja. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Yuni mengaku memberi makan pisang kepada bayinya berdasarkan pengalaman.

"Dia (memberi makan pisang) berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya, anaknya kan empat. Dapet masukan juga, nggak papa ngasih makan buah," ungkap Erick.

Diketahui, Yuni memberi makan berupa dua suap pisang kepada bayinya pada Sabtu (8/12) malam. Menurut Erick, pada Minggu (9/12) pagi, bayi tersebut sudah tidak sadarkan diri. Bayi itu akhirnya dibawa ke Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan dinyatakan meninggal dunia. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More