Selasa 10 Desember 2019, 09:15 WIB

Bank Indonesia Tetap Akomodatif

Mirza Andreas | Ekonomi
Bank Indonesia Tetap Akomodatif

Dok.MI/ROMMY PUJIANTO
Logo Bank Indonesia di Komplek Kantor Bank Indonesia, Jakarta.

 

Prospek perekonomian global masih akan tetap muram pada tahun depan. Hal itu berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 tak banyak berubah, berkisar 5,1%-5,5%

BI pun akan tetap menerap-kan kebijakan akomodatif guna mendorong pertumbuhan. Termasuk kembali menurunkan suku bunga ­acuan 7-Day Reverse Repo Rate jika diperlukan.

“Ekonomi global masih gloomy (suram). Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) tahun depan diproyeksikan hanya 2%,  lebih rendah dibandingkan proyeksi 2019 sekitar 2,3%.  Tiongkok tahun depan juga diproyeksi 6% atau lebih rendah dibanding proyeksi tahun ini 6,3%. Situasi ini masih memengaruhi ekonomi secara global di tahun depan,” papar Endy Dwi Tjahjono, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI dalam diskusi dengan wartawan di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kemarin.

Semua negara, sambungnya, saat ini terus memantau perkembangan perang dagang AS-Tiongkok. Berbagai proyeksi terus dikoreksi lantaran maju-mundurnya rencana kesepakatan damai dua raksasa ekonomi dunia tersebut.

“Sempat muncul optimisme saat melihat adanya potensi kesepakatan damai AS-Tiongkok. Tapi, mentah lagi jika melihat dukungan AS terhadap isu imigran dan demonstran di Hong Kong,” ujar Endy.

Namun, sambungnya, pertumbuhan ekonomi nasional di tahun depan masih tetap dibayangi optimisme. Besarnya jumlah konsumsi rumah tangga jadi tulang punggung menghadapi resesi ekonomi.

“Di tengah gloomy-nya ekonomi global akibat perang dagang AS-Tiongkok, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah masih jadi andalan,” terangnya.

Wait and see

Dalam diskusi itu, Kepala Ekonom BNI Kiryanto mengatakan tahun depan dibayangi sikap pengusaha yang wait and see.

“Itu bisa dipahami, tapi tidak akan baik jika terlalu lama menunggu. Pasalnya negara-negara tetangga yang akan memanfaatkan peluang pertumbuhan di tengah perang dagang ini,” ujarnya.

Ia mencontohkan Vietnam yang berhasil mengambil kesempatan itu. Kecepatan dan kelihaian negara tersebut dalam mereformasi birokrasi di bidang ekonomi berhasil menggaet investasi asing.

“Karena itu butuh dorong an juga dari pemerintah untuk meyakinkan pelaku usaha untuk berani investasi,” paparnya.

Reformasi birokrasi di bidang ekonomi, sambungnya, perlu dilakukan demi menaikkan peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia (ease on doing business/EoDB).

Di tempat berbeda, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan pemerintah akan terus melakukan reformasi, termasuk pembentukan omnibus law terkait cipta lapangan kerja dan perpajakan.   

“Omnibus law untuk handle  beberapa UU yang dianggap menghambat investasi. Di dalamnya akan address terkait DNI (Daftar Negatif Investasi), reformasi tenaga kerja, EoDB, special economic zone, dan land akuisisi,” kata Suahasil.
 
Dalam omnibus law perpajakan, pemerintah menyiapkan sejumlah skema insentif pajak. Adapun untuk omnibus law cipta lapangan kerja, pemerintah masih merumuskan langkah sinergi antarkementerian lembaga. (Ant/E-1)

 

Baca Juga

MI/Reza Sunarya

Mentan SYL: Ketahanan Pangan Kunci Gerakkan Ekonomi

👤Reza Sunarya 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 21:25 WIB
SEKTOR pertanian menjadi solusi nyata terhadap dampak yang diakibatkan pandemi covid 19, terutama dengan melemahnya ekonomi...
DOK KEMENTAN

Wagub: Siap Dukung Mentan Jadikan Jabar Penyangga Pangan Nasional

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 20:15 WIB
Wagub yang sering dipanggil Kang Uu mengatakan bahwa dalam meningkatkan ekonomi, masyarakat dapat melakukannya lewat pertanian. Karena itu...
DOK KEMENTAN

Komisi IV Dukung Perbaikan Irigasi Pertanian

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 19:21 WIB
Dedi mengatakan, pemerintah saat ini sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp18,44 triliun untuk program padat karya yang diselenggarakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya