Senin 09 Desember 2019, 23:20 WIB

Tiongkok Lanjutkan Kamp Xinjiang

AFP/Hym/I-1 | Internasional
Tiongkok Lanjutkan Kamp Xinjiang

NICOLAS ASFOURI / AFP
Shohrat Zakir, Pemimpin Wilayah Xinjiang.

 

TIONGKOK membela jaringan kamp pendidikan kejuruan yang luas di Xinjiang dan mengatakan akan melanjutkan pelatihan warga, menyusul kebocoran dokumen pemerintah yang memerinci pengawasan dan kontrol populasi muslim Uighur di kawasan itu.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia memperkirakan lebih dari 1 juta warga Uighur dan sebagian besar minoritas muslim lainnya ditahan di fasilitas itu. Sejumlah laporan menggambarkan fasilitas itu sebagai kamp-kamp indoktrinasi yang dijalankan seperti penjara dan bertujuan memberantas budaya dan agama Uighur.

Pemerintah Tiongkok telah meluncurkan upaya propaganda dalam beberapa hari terakhir untuk membenarkan tindakan keras keamanannya dalam menangani isu Xinjiang.

Pemimpin wilayah Xinjiang, Shohrat Zakir, menolak laporan kelompok-kelompok hak asasi manusia dan para ahli asing bahwa lebih dari 1 juta warga Uighur, sebagian besar muslim minoritas, ditahan di kamp-kamp itu.

Namun, dia tidak memberikan angka untuk jumlah orang yang ditahan di fasilitas Xinjiang. “Para siswa... dengan bantuan pemerintah telah mewujudkan pekerjaan yang stabil (dan) meningkatkan kualitas hidup mereka,” kata Zakir.

“Saat ini, mereka yang ada di pusat-pusat itu telah menyelesaikan kursus mereka,” terangnya. “Ada orang yang masuk dan keluar.”

Selain pusat-pusat pelatihan itu, kata dia, langkah pemerintah Xinjiang selanjutnya ialah melanjutkan pelatihan pendidikan harian, rutin, normal, dan terbuka untuk kader desa, anggota partai pedesaan, petani, penggembala, dan lulusan sekolah menengah yang menganggur.

Bulan lalu, The New York Times memperoleh 403 dokumen yang bocor tentang tindakan keras Beijing terhadap sebagian besar etnik minoritas muslim di kawasan itu.

Dokumen tersebut termasuk pidato yang tidak dipublikasikan Presiden Xi Jinping yang mendesak para pejabat untuk bertindak tanpa ampun terhadap para ekstremis.

Dokumen pemerintah terpisah yang diperoleh Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) menunjukkan pejabat lokal diperintahkan memantau tahanan kamp dan mencegah mereka melarikan diri.

Setelah awalnya menyangkal keberadaan kamp-kamp pendidikan ulang, Beijing ­akhirnya mengakui membuka pusat pendidikan kejuruan di Xinjiang. Tujuannya mencegah ekstremisme dengan mengajarkan bahasa Mandarin dan keterampilan.

Kelompok-kelompok hak asasi dan media asing melaporkan bahwa dokumen resmi dan gambar satelit menunjukkan kamp-kamp itu dilengkapi dan dijalankan seperti penjara. (AFP/Hym/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More