Senin 09 Desember 2019, 15:25 WIB

Sistim Logistik Ikan Belum Optimal

Andhika prasetyo | Ekonomi
Sistim Logistik Ikan Belum Optimal

Antara
Pekerja mengangkat Ikan tuna hasil tangkapan nelayan ke dalam truk di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur

 

SISTEM logistik ikan di Tanah Air dinilai belum berjalan dengan baik  dan belum mampu menjaga ketersediaan stok serta stabilisasi harga yang bermuara pada tingkat kesejahteraan nelayan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terjadi penurunan Nilai Tukar Nelayan (NTN) sebesar 0,53% dari 114,28 pada Oktober 2019 menjadi 113,67% pada November 2019.

Penurunan tersebut dipicu masuknya musim ikan cakalang dan lemuru sehingga hasil tangkapan dan produksi nelayan meningkat. Sebagaimana hukum ekonomi berlaku, ketika stok meningkat, sementara permintaan tetap, harga akan merosot.

Namun, selain karena faktor eksternal tersebut, Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Abdi Suhufan melihat pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, tidak memiliki mitigasi yang cukup untuk menjaga stabilitas harga.

"Ada rantai yang putus dari sistem tata niaga ikan. Itu membuat harga jatuh pada musim ikan banyak dan harga tinggi pada musim paceklik," ujar Abdi melalui keterangan resmi, Senin (9/12).

Kondisi seperti itu, lanjut dia, terjadi karena sistem logistik dan perdagangan ikan masih berjalan secara konvensional.

"Harusnya ada pelaksanaan sistem resi gudang untuk komoditas ikan. KKP bisa memberi penugasan kepada Perum Perindo dan Perinus untuk melaksanakan hal itu," terang Abdi.

Selama ini, untuk sektor kelautan, sistem resi gudang baru berjalan pada komoditas rumput laut dan garam.

Di samping itu, KKP juga perlu mengoptimalkan pemanfataan Unit Pengolahan Ikan (UPI) dengan dukungan sarana sistem cold storage yang sudah tersedia di lokasi-lokasi strategis.

"Kami melihat keberadaan sistem yang sudah terbangun selama ini belum termanfaatkan secara optimal," sambung Abdi.

Peningkatan produksi ikan pada musim tertentu merupakan sebuah siklus yang berulang setiap tahun.

Oleh karena itu, sambung Adi, semestinya ada solusi konkret dari pemerinrah untuk menfantisipasi persoalan tersebut tanpa menunggu harga jatuh dan merugikan nelayan.

"Tidak ada mitigasi, pembacaan yang baik dari pemerintah atas fenomena anjloknya harga ikan ini sehingga terjadi secara berulang setiap tahun," tandasnya.

Selain faktor domestik, penurunan harga cakalang juga terjadi di pasar internasional. Dalam dua bulan terakhir, harga cakalang dunia turun sampai 40,98% yakni menyentuh US$900 per ton. Angka itu merupakan yang terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Harga cakalang di pasar pernah mencapai US$2.300 per ton pada Oktober 2017. (OL-8)

Baca Juga

MI/ M Ilham Al Machmudi

Pemasaran Tol Laut Perlu Ditingkatkan

👤M Iqbal Ramadhan 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 08:45 WIB
Pada awal Oktober sendiri Lognus 6 berhasil mengangkut 150 TEUs dari Kepulauan Maluku Utara ke...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Angkasa Pura II Hemat Rp1,8 T selama Pandemi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 08:31 WIB
Fasilitas yang digunakan di bandara disesuaikan dengan pergerakan penumpang sehingga penetapan pola operasional ini memungkinkan bandara...
AFP/David Gray

Harga Emas Melonjak 14 Dolar Saat Optimisme Bantuan Covid-19 di AS

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 07:47 WIB
Optimisme investor meningkat bahwa paket bantuan virus korona AS akan diumumkan sebelum pemilihan presiden 3 November, memicu naiknya harga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya