Senin 09 Desember 2019, 15:30 WIB

Ginatri S. Noer Sabet Dua Piala Citra FFI 2019

Fathurrozak | Weekend
Ginatri S. Noer Sabet Dua Piala Citra FFI 2019

MI/ Agung Sastro
Sutradara dan penulis skenario Ginatri S.Noer meraih dua Piala Citra di FFI 2019.

GELARAN malam final Festival Film Indonesia 2019 yang berlangsung di gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (8/12) menjadi cerita manis bagi Gianti S. Noer. Setelah dua tahun berturut sebelumnya (2017,2018) gagal membawa pulang piala, tahun ini Gianti berhasil mengawinkan Piala Citra untuk dua kategori skenario, penghargaan Penulis Skenario Asli terbaik dan penulis Skenario Adaptasi Terbaik.

Untuk penghargaan pertama sutradara "Dua Garis Biru" ini meraih lewat yang sama tersebut, sementara untuk penghargaan kedua diraih lewat film "Keluarga Cemara" bersama Yandy Laurens. Pada 2018, Gina masuk nominasi penulis skenario terbaik lewat "Kulari Ke Pantai" sementara pada 2017 lewat film "Posesif".

Duduk sebagai auteur-director (mengendalikan seluruh aspek kreatif), Gina membawa "Dua Garis Biru" meraih 12 nominasi. "Tidak pernah berpikir akan dapat penghargaan skenario asli terbaik. Karena ketika mulai berkarier saya berangkat dari adaptasi, lalu menulis naskah adaptasi berkali-kali. Ternyata, kerja keras dan rezeki ada waktunya," papar Gina seusai gelaran FFI 2019.

Perempuan berusia 34 tahun ini juga mengatakan jika merasa berkembang jauh dibanding 10 tahun lalu. "Akhirnya ternyata yang membedakan saya dengan 10 tahun lalu sebagai kreator ialah kini bisa lebih jujur dengan diri sendiri dalam membangun skill. Selain itu, percuma juga bila tidak ada yang percaya dengan saya. Bersyukur memiliki support system baik dari keluarga, kru, maupun rumah produksi, bahwa cerita ini (Dua Garis Biru) punya potensi, dan penting untuk dibuat," lanjut peraih penulis skenario adaptasi terbaik pada FFI 2013 lewat Habibie & Ainun ini.

Menurut Gina, tidak ada jalan pintas dalam berkarya. Bekerja keras untuk memperdalam kemampuan, dan selalu merasa 'kosong' menjadi faktor pendorong untuk terus bertumbuh. "Pembuatan film yang baik akan selalu membuat kita merasa kurang dan merasa ingin terus belajar. Naskah baik bukan hanya karena penulisnya saja, melainkan semua orang yang terlibat dalam suatu film merasa memiliki. Paling ironis ialah, penulisan naskah yang baik saja tidak cukup. Butuh filmmaker yang baik pula. Karena percuma bila naskahnya baik tetapi yang membuat tidak bagus maka akan jadi tidak bagus pula," tutupnya. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More