Minggu 08 Desember 2019, 01:21 WIB

Persepsi Susu Kental Manis sebagai Pengganti ASI Masih Tinggi

Eni Kartinah | Nusantara
Persepsi Susu Kental Manis sebagai Pengganti ASI Masih Tinggi

Istimewa
Edukasi Gizi untuk Menyikapi Iklan Pangan Menyesatkan dalam Upaya Melindungi & Mewujudkan Generasi Sehat, Indonesia Unggul di Bali.

 

WAKIL Ketua IV Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Hj. Aniroh Slamet Yusuf, mengatakan bahwa selama ini terjadi salah perspesi di masyarakat terkait penggunaan susu kental manis (SKM).

Susu kental manis tidak untuk dikonsumsi sebagai minuman, apalagi untuk anak, karena sejatinya susu kental manis adalah toping atau pirasa makanan.

“Konsumsi SKM yang salah telah menimbulkan korban gizi buruk di Batam dan Kendari,” kata Aniroh Slamet Yusuf pada acara Edukasi Gizi untuk Menyikapi Iklan Pangan Menyesatkan dalam Upaya Melindungi & Mewujudkan Generasi Sehat, Indonesia Unggul di Bali, Sabtu (7/12). 

Pada acara yang diselenggarakan PP Muslimat bekerja sama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) itu, Ketua harian YAICI, Arif Hidayat, SE,MM, mengatakan bahwa pembangunan persepsi yang salah ini telah berlangsung berpuluh-puluh tahun.

“Sehingga masyarakat masih terus mengkonsumsi SKM sebagai minuman pengganti susu pada balita (bayi di bawah usia lima tahun) mereka,” kata Arif. 

Terkait hal tersebut, Arif mengimbau pemerintah, terutama Badan Pengolahan Obat dan Makanan (BPOM) untuk menegakkan aturan yang tegas terkait produk SKM dan cara produsen beriklan di media.

 “Kami mengimbau pemerintah untuk melarang pemberian SKM bagi anak di bawah 3 tahun, bukan bayi di bawah 12 bulan seperti sekarang ini, karena anak dibawah 3 tahun rentan terhadap konsumsi gula berlebih sebagaimana yang selama ini direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Indonesia,”ujar Arif.

“Kami juga mendesak pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap penerapan Peraturan Kepala BPOM No 31 Tahun 2018, agar produsen tidak mengiklankan SKM sebagai minuman berenergi yang dapat dikonsumsi secara tunggal. SKM tidak boleh dikonsumsi sebagai minuman yang diseduh dengan air seperti yang selama ini terus berlangsung,” papar Arif.

Dian Nardiani SKM MPH selaku Kepala Bidang Kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang menyatakan bahwa SKM bukanlah susu tetapi topping untuk kue.

Terkait persepsi masyarakat terhadap susu kental manis, YAICI pada 2018 dan 2019 telah melakukan penelitian 12 kabupaten dan pemerintah kota di enam provinsi, yaitu Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Tengah.

Salah satu temuan penting dari penelitian tersebut  adalah tingginya persentasi responden yang menganggap bahwa SKM adalah susu yag bisa dikonsumsi oleh balita mereka.

Selain itu, penelitian 2018 menemukan 4 kasus gizi buruk pada anak rentang usia 0 – 23 bulan yang disebabkan ibunya memberi SKM kepada bayinya di Batam, Kendari dan Sulawesi Selatan. Bahkan seorang  balita yang berusia 10 bulan meninggal dunia.(OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More