Minggu 08 Desember 2019, 00:46 WIB

Kemenpora Adakan Pelatihan Jadi Data Scientist

mediaindonesia.com | Humaniora
Kemenpora Adakan Pelatihan Jadi Data Scientist

Istimewa/Kemenpora
Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Prof Faisal Abdullah

 

SEBANYAK 30 pemuda dari berbagai kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta mendapatkan pelatihan dasar menjadi peneliti data (data scientist) pada 4-6 Desember 2019.

Pelatihan tersebut dilakukan berkat  kerja sama antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dana Digital Innovation Lounge (DILo) Yogyakarta.

Untuk menjadi data scientist tak melulu harus mempunyai latar belakang bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan bidang statistik dan ilmu komputer. Seorang data scientist bisa berlatar belakang bidang non-statistik dan non-ilmu komputer.  

Selama tiga hari, para pemuda yang berasal dari berbagai disiplin ilmu mendapat pelatihan untuk mempelajari teori data science dan praktik forecasting.

Para peserta mendapat arahan dan bimbingan untuk terus mendalami dan terjun dalam profesi data scientist tersebut, yang potensinya masih terbuka lebar di Indonesia.

Krisostomus Nova, narasumber dari Sadasa Academy yang memang bergelut di bidang data science, menyebut bahwa profesi data scientist saat ini memang terbilang ‘begitu seksi’.

“Kebiasaan masyarakat yang berubah dari analog ke digital menggunakan internet dengan media sosial atau e-commerce ternyata membentuk pola data yang bisa dianalisis,” ujar Krisostomus.

“Di Indonesia dengan tingkat pengguna internet salah satu terbesar dunia, sosial media juga salah satu terbesar dunia pun dengan kebiasaan masyarakatnya bersosial media serta konsumtif ikut harbolnas dan sebagainya sangat potensial untuk diteliti datanya,” jelas Kristostomus.

“Kami ingin teman-teman muda di Indonesia sendiri yang memanfaatkan peluang ini, jangan sampai malah dinikmati orang di luar negeri,” ungkapnya pada wartawan pada hari terakhir pelatihan.

Data scientist saat ini menjadi menarik dan profesi yang potensial lantaran produsen atau perusahaan membutuhkan analis data digital untuk memastikan penetrasi pasar dengan benar.

“Misalnya perusahaan ingin jualan di market yang tepat, sasaran produknya pas ya harus dianalisis datanya, ke mana harus berekspansi promosi agar hasilnya maksimal. Ini mengapa mereka mau bayar mahal untuk data scientist ini,” sambungnya.

Menjadi data scientist, menurut Nova, pun tak melulu harus dari background statistik dan komputer karena belajar programming tak selalu dari kampus saja. Kemauan belajar dan minat menjadi hal paling utama bagi seseorang untuk terjun menggeluti data science ini.

Sementara itu, Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Prof Faisal Abdullah mengatakan pelatihan menjadi data scientist akan terus dilakukan untuk membangun minat anak-anak muda menggeluti profesi tersebut.

“Balikpapan, Makassar, Medan dan Jakarta akan menjadi tempat selanjutnya untuk memenuhi konsekuensi dalam era digital. Semua bisa berpeluang, karena era disrupsi ini mau tak mau membuat banyak pekerjaan berubah dan kita harus menyesuaikan diri,” ujar Faisal.

“Anak-anak yang ikut selama tiga hari di Yogyakarta kemarin dari banyak disiplin ilmu, tapi mereka tertarik ingin belajar. Ini mengapa kami sampaikan semua bisa belajar,” ungka Faisal di Jakarta, Sabtu (07/12). (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More