Minggu 08 Desember 2019, 06:00 WIB

Rahim Milenial

Riana Septiyani Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend
Rahim Milenial

MI/ SUMARYANTO BRONTO
ilustrasi Ekspresi kemenangan Jonatan Christie yang di istilahkan milenial rahim anget

SAAT ini Indonesia memasuki era revolusi 4.0. Hampir dalam semua lini kehidupan berbasis digital. Tidak dapat dimungkiri bahwa kehadiran internet sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas tersebut. Hal itu menyebabkan internet menjadi sebuah kebutuhan utama. Mudahnya mengakses internet menjadi alat pemungkas untuk mendapatkan informasi dengan segera. Lewat internet, mereka memberikan sensasi baru dalam berbahasa. Silang informasi di antara milenial mengungkap laras-laras bahasa yang unik dan menggelitik. Kata unik itu jarang ditemukan di tempat umum, tetapi begitu bergelora di media sosial. Sebut saja kata itu, rahim anget.

Sepintas tak ada kaitan antara kata rahim yang kita persepsikan selama ini dengan maksud yang dikirim kata itu. Kata ini berawal dari kemenangan Jojo di turnamen tunggal putra bulu tangkis pada pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara, Asian Games 2018, dengan membuka kaus. Berikut ini, saya akan mencoba mengurai berdasarkan kaidah bahasa.

Dalam kacamata bahasa, rahim ialah kantong selaput dalam perut; tempat janin (bayi); peranakan; rahim, sedangkan anget, dalam kata bakunya hangat, ialah agak panas. Berdasarkan bedah kata tersebut, tidak diperoleh hubungan langsung antara kata-kata itu dengan arti yang wakili kedua kata tersebut, juga hubungan kata dengan yang dilambangkan.

Namun demikian, menurut penulis, kata itu merupakan ungkapan. Bila merujuk KBBI, ungkapan ialah kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus (makna unsur-unsurnya sering kali menjadi kabur). Kata ini dirasa melompat jauh jika dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan yang selama ini ada. Misalnya saja, ungkapan berkantong tebal yang bisa dimaknai banyak uang atau bisa juga merujuk kepada bahan kantong yang memang tebal. Kata kantong masih identik dengan tempat yang disebut saku, sedangkan tebal masih berupa ukuran. Sekarang bandingkan dengan rahim anget. Kata itu dirasa melompat jauh karena yang dilambangkan dengan yang melambangkan terpisah jauh. Perlu diberi makna atau ditebak. Terkadang maknanya tidak terpikirkan oleh khalayak atau lawan bicara. Di luar nalar.

Kiranya selama ini kita tak pernah mendengar kata itu digaungkan. Hal itu juga membuat kita bertanya-tanya dari mana asal istilah itu.

Usut punya usut, kata itu berasal dari bahasa slang orang Barat, yakni my ovarium explode, yang dipadankan menjadi rahim anget oleh kalangan milenial. Kata itu biasa dikatakan oleh sebagian besar wanita (Barat) saat melihat seseorang yang sangat menarik berdasarkan postur tubuhnya yang atletis. Di sisi lain, kata itu dapat juga digunakan sebagai ekspresi ketika melihat bayi atau anak kecil yang menggemaskan.

Selain rahim anget, terdapat fenomena bahasa yang unik lainnya. Sebut saja bahasa prokem yang digunakan milenial, antara lain kuy dari suku kata yang dibalik, yuk. Pun negara +62 yang berasal dari kode telepon Indonesia. Selain itu, ada negara ber-flower yang campur kode dengan bahasa Inggris, gemay yang merupakan pelesetan dari diftong ai, ter-kejoed yang campur kode dari ejaan bahasa Indonesia lama. Banyak yang lain.

Fenomena-fenomena bahasa yang disebutkan menandakan bahwa kalangan milenial merupakan orang-orang yang kreatif dan out of the box, tampil beda, atau bosan dengan kata yang ada.

Milenial itu benar-benar tidak dapat membendung pengetahuan bahasanya. Dipadukan dengan kreativitas, jadilah kata baru yang unik. Meskipun kata itu mengundang tanya, buat milenial, itu menjadi sebuah sensasi tersendiri.

Singkatnya, yang merasa ingin gaul tentu harus masuk dan memahami kata-kata itu. Begitu juga generasi era 1980-an, mereka yang masih bersentuhan dengan generasi ini, harus juga meng-update kata-kata itu. Kalau tidak, zaman tua akan ketinggalan dan kebingungan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More