Minggu 08 Desember 2019, 01:30 WIB

Kolosal Pawiyatan Agung Triamogasidi dari Seniman Tiga Kota

Bus/M-4 | Weekend
Kolosal Pawiyatan Agung Triamogasidi dari Seniman Tiga Kota

MI/ BAGUS PRADANA SUBROTO
Pergelaran sendratari kolosal Pawiyatan Agung Triamogasidi Universitas Trisakti di Gedung Sasono Langen Budoyo-Taman Mini Indonesia Indah

SEJUMLAH seniman tari dari tiga kota, yaitu Yogyakarta, Surakarta, dan Jakarta tampil dalam pergelaran sendratari kolosal Pawiyatan Agung Triamogasidi yang diselenggarakan Universitas Trisakti di Gedung Sasono Langen Budoyo-Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (30/11). Pergelaran sendratari ini merupakan bagian dari rangkaian acara untuk memperingati Dies Natalis ke-54 Universitas Trisakti.

Ada kolaborasi apik tarian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa klasik, Betawi, Dayak, Legong Bali, hingga Zapin Melayu yang dibawakan secara kolosal dengan aransemen sedemikan rupa. Ini membingkai narasi kisah mengenai kelahiran Pawiyatan Agung (Perguruan Tinggi) Triamogasidi, yang merupakan simbolisasi dari Universitas Trisakti. Lakon Pawiyatan Agung Triamogasidi mengisahkan kilas balik sejarah Universitas Trisakti yang dikemas menyerupai legenda.

Ditemui dalam pergelaran sendratari tersebut, Bambang Endro Yuwono sela­ku penga­rah dari pergelaran sendratari Pawiyatan Agung Triamogasidi menjelaskan lakon ini merupakan wujud dari visi Universitas Trisakti, yaitu menjadi pusat pembelajaran berkelajutan berbasis keberagaman budaya.

“Sendratari sesuai dengan akronimnya disuguhkan dalam dua unsur seni pertunjukan, yaitu seni drama dan seni tari. Ada beberapa tari tradisional yang akan ditampilkan dalam persembahan sendratari ini, yaitu tari-tarian tradisional dari Bali, Betawi, Sumatra, Kalimantan, Sunda, Aceh, dan Jawa. Hal ini mengambarkan miniatur kebinekaan di Universitas Trisakti, yang mana mahasiswa Trisakti juga berasal dari semua provinsi di Indonesia,” terang Bambang Endro Yuwono yang juga merupakan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.   

Reformasi

Tak ketinggalan, kisah heroik dari empat mahasiswa Trisakti yang gugur dalam pergolakan Reformasi 1998 pun turut diceritakan dalam narasi utama sendratari ini, yang diangkat dalam analogi kisah gugurnya empat Siswatama dari Pawiyatan Agung Triamogasidi.

Pergelaran tersebut seketika menjadi riuh saat tiga bintang tamu istimewa naik ke atas panggung, ketiganya merupakan maestro seni pertunjukan di Indonesia, mereka ialah Marwoto Kawer dari Yogyakarta, Tarsan (Srimulat), dan Ninik Puspa (KSBN). Konsep Pawiyatan yang pada hakikatnya merupakan sistem pendidikan asli Nusantara, menjadi identitas sejarah yang diangkat dalam pentas sendratari ini.  

Rektor Universitas Trisakti, Prof Ali Guf­ron Mukti, menyatakan pergelaran sendra­tari Pawiyatan Agung Triamogasidi ini merupakan pergelaran sendratari kolosal kedua yang diadakan Universitas Trisakti. Sebelumnya, pada pergelaran pertama, telah ditampilkan lakon yang berjudul Trikrama Pawiyatan Agung yang mengetengahkan suasana heroisme perjuangan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam membangun pendidikan nasional di Indonesia. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara inilah yang kemudian melandasi lahirnya filosofi acuhan Trikrama Trisakti, yaitu Asah, Asih, dan Asuh.

“Sendratari ini berakar dari budaya kita, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk melestarikan dan mengembangkannya sebagai penghormatan kepada leluhur kita sekaligus menunjukan kekayaan budaya nasional kita. Untuk itulah saya dukung secara penuh pergelaran sendratari Pawiyatan Agung Triamogasidi ini,” pungkasnya. (Bus/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More