Minggu 08 Desember 2019, 01:00 WIB

Menafsir Suluk Membaca Lingkungan

Furqon Ulya Himawan | Weekend
Menafsir Suluk Membaca Lingkungan

MI/ FURQON ULYA HIMANA
Pertunjukan berjudul Pancer Ing Penjuru yang dipentaskan Teater Eska, di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (25/11).

DI suatu malam, suasananya begitu sunyi. Hanya jangkrik yang sesekali bernyanyi. Cahayanya temaram mirip di malam bulan sedang penuh-penuhnya. Sejurus kemudian mulai terdengar sayup-sayup lantunan kidung Marmati mengalun merambat pelan di tengah kesunyian malam itu.

“Ana kidung ing kadang Marmati, among tuwuh ing kawasan ira, nganakaken saciptane....”

Suara itu dilantunkan seorang perempuan, entah di mana keberadaannya. Tak jelas, gelap. Tapi yang pasti, seketika dari kegelapan muncul enam perempuan berjalan mengendap-endap. Langkahnya se­irama dengan lantunan kidung Marmati.

Mereka terus mengendap. Di sampingnya ada sebuah benda yang menyerupai globe berdiameter sekitar 3 meter. Ketika seberkas cahaya menyinari benda itu, di dalamnya terdapat tiga sosok lelaki. Dan seketika enam perempuan berhenti me­ngendap. Mereka terjaga karena kedatang­annya ketahuan.

“Apakah kalian yang aku cari,” teriak salah satu lelaki yang ada dalam globe dan langsung saja enam perempuan tadi membuyar, mereka berpencar tetapi menge­lilingi globe.

Begitulah penggalan kisah pertunjukan berjudul Pancer Ing Penjuru yang dipentaskan Teater Eska, di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Senin (25/11).

Tersebutlah tiga lelaki bernama Ruhan, Aklan, dan Khalef. Mereka berada pada situasi alam semesta yang tidak lagi ramah. Terjadi bencana di mana-mana. Hutan sudah tidak lagi rindang karena pohonnya ditebangi, menyebabkan susutnya sumber air bersih. Pendeknya, lingkungan rusak karena keserakahan manusia.

Dari situlah muncul kenangan tentang indahnya alam semesta: tanahnya yang subur, air jernih yang mengalir, dan udaranya yang sejuk. Kenangan ini tergambar di awal pertunjukan dengan enam sosok perempuan yang bernyanyi riang gembira. Mereka berputar menari dan terus menari.

Namun, itu hanya kenangan masa lalu dan sudah tergantikan dengan kerusakan. Inilah awal kisah Ruhan, Aklan, dan Khalef mencari sosok saudara empatnya. Mereka ingin bertemu Baliya, mencari jalan keluarnya untuk memperbaiki situasi semesta yang telah rusak.

Dalam pencarian, mereka terus diikuti enam sosok Malakut yang bisa menjelma menjadi teman, lingkungan, dan kadang menjadi saudara yang mereka cari itu sendiri. Mereka semua terus berjalan ke semua penjuru Utara, Selatan, Barat, dan Timur.

Begitulah Teater Eska menafsir dan mengelaborasi ajaran pelestarian ling­kungan Sunan Kalijaga lewat kidung Marmati, kidung Wahyu Kolosebo, dan kidung Rumekso Ing Wengi, yang bercerita konsep Sedulur Papat Limo Pancer: hubungan manusia dengan alam.

Kearifan lokal

Pacer Ing Penjuru adalah pentas produksi Teater Eska yang ke-34. Rahmat Hidayat yang menyutradarainya merupakan aktor kawakan Teater Eska. Pementasan itu mengajak kepada semua penonton untuk kembali pada kearifan lokal yang selama ini terlupakan. Padahal, kearifan lokal itu mampu menjawab semua pertanyaan terkait dengan ekologi.

“Kami ingin mengangkat lagi kearifan lokal, Pancer Ing Penjuru, itu lokal banget, tidak usah pakai bahasa Arab atau Inggris, kita punya nilai kearifan lokal,” kata Rahmat yang sudah beberapa kali menyutradarai pementasan teater.

Dalam Pancer Ing Penjuru menceritakan konsep ekologi ajaran Sunan Kalijaga, yakni bagaimana hubungan antara manusia dengan alam dan dengan Sang Pencipta. Manusia tidak boleh serakah karena semesta ialah saudara manusia sendiri. Dialah Sedulur Papat yang disebut dalam kidung Marmati.

“Tapi manusia terlalu serakah, menebang pohon, dan lupa melestarikannya,” kata Rahmat.

Rahmat yang lebih terbiasa bergelut di dunia pencahayaan, berani bermain cahaya dalam pentas saat itu. Eksplorasi itu terlihat dari sejumlah lampu yang ada di sekitar panggung dan menempel di pakaian pemain. Pencahayaan itu semakin menambah konsep kearifan lokal yang ditawarkan Teater Eska tervisualkan dengan baik.

Eksplorasi lain terlihat dari panggung yang berundak atas dan bawah dan semuanya menyatu tanpa mempersulit pemain, berlari naik-turun panggung. Pun globe yang mampu digelindingkan dari panggung atas ke panggung bawah atau sebaliknya. Padahal, di dalam globe ada Ruhan, Aklan, dan Khalef.

Pementasan yang berdurasi sekitar 1,5 jam berakhir dengan bertemunya Khalef dengan Baliya yang merupakan sosok suci. Kepada Khalef mengatakan untuk kembali lagi dan tak usah mencari saudara empatnya karena saudara empatnya adalah alam semesta.

“Saudara empat itu tidak hanya darah yang mengalir dalam tubuhmu... Saudara empat adalah udara, angin, pegunungan, pepohonan, air, dan bahkan semua alam semesta. Bencana yang datang adalah akibat polah tingkah manusia yang serakah,” begitulah kata Baliya.

Baliya meminta Khalef kembali dan meneruskan tugasnya sebagai manusia di bumi untuk tidak merusak semesta, tetapi melestarikan dan menjaga lingkungan karena lingkungan berikut alam seisinya ialah saudara.

Begitulah Teater Eska menafsir suluk Marmati dan membaca rusaknya lingkungan. Semesta rusak karena manusia lupa bahwa alam ialah saudara mereka sendiri yang seharusnya dirawat dan dijaga. Dan ketika manusia sadar, alam sudah rusak.

Teater Eska, selain memainkan Pancer Ing Penjuru di UIN Yogyakarta, mereka juga akan memainkannya di UIN Sunan Ampel, Surabaya, pada Desember mendatang. Semoga manusia ingat pada saudaranya: alam semesta dan ikut menjaga kelestariannya. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More