Sabtu 07 Desember 2019, 05:45 WIB

Handoko Gani Ahli Deteksi Kebohongan tanpa Pangkat

BAGUS PRADANA | Humaniora
Handoko Gani Ahli Deteksi Kebohongan tanpa Pangkat

MI/Adam Dwi
Handoko Gani Ahli Deteksi Kebohongan

 

Dalam pandangan seorang human lie detector, jujur ialah kodrat manusia. Baginya, saat manusia berperilaku tidak jujur, sebenarnya itu lebih mudah diketahui karena pasti ada kontradiksi di dalam dirinya.

SIANG itu, seusai kesibukannya memberikan pelatihan rutin terkait investigasi di Jakarta Selatan, Media Indonesia berkesempatan menemui seorang pria yang berprofesi unik, ia menyebut dirinya sebagai Human Lie Detector, dialah Handoko Gani.

Human Lie Detector merupakan nama keren yang ia buat untuk menyebut profesinya yang bila dikategorikan, termasuk sebagai investigator atau penyelidik. Tugasnya ialah menyelidiki kebenaran dari suatu keterangan yang disampaikan seseorang.

Dengan ramah senyum ia mengajak kami untuk bersantap makan siang bersama. Pembawaan yang tenang dan murah senyum menjadi kesan pertama yang kami dapat ketika pertama kali membuka obrolan dengannya.

Kami memulai obrolan seru itu dengan membahas seputar fenomena 'kebohongan' atau yang sering diartikan sebagai suatu tindakan memberikan keterangan atau pernyataan yang tidak benar. Satu fenomena yang menjadi objek kajian seorang Handoko Gani hingga hari ini. Baginya, kebohongan tidak serta-merta selalu berhubungan dengan kesalahan atau suatu hal yang tidak benar karena banyak hal yang melatarbelakangi orang melakukan kebohongan.

"Kasus kebohongan itu ada dua, yang berakibat hukum dan yang tidak berakibat hukum. Saya lebih banyak mengajarkan untuk menginvestigasi kasus kebohongan yang berakibat hukum. Jadi, klien-klien saya tentu saja para investigator yang berurusan dengan hukum," kata Handoko, membuka perbincangan.

Pria kelahiran Jakarta, 5 September 1976 itu, juga dikenal sebagai sosok pakar ekspresi wajah yang sering dimintai pendapat atas berbagai fenomena-fenomena politik dari kacamata keahliannya selaku Human Lie Detector. Beberapa gestur yang sempat viral di medsos, seperti ekspresi Jessica Kumolo Wongso tersangka kasus pembunuhan kopi sianida, ekspresi Ratna Sarumpaet, hingga ekspresi lesu Sandiaga Uno tak luput dari analisisnya.

Handoko mengaku dari mempelajari fenomena kebohongan ini, ia akhirnya mulai tertarik mendalami berbagai kajian tentang investigasi dan analisis perilaku yang mengantarkannya menjadi seorang pakar seperti saat ini.

"Ngomongin soal profesi, yang jelas profesi saya ini sebutan kerennya adalah Human Lie Detector. Nah, lebih detailnya itu sama seperti investigator. Jadinya sehari-hari saya melakukan jasa konsultasi untuk investigasi sekaligus memberikan edukasi kepada pihak-pihak yang juga melakukan investigasi," jelas pria satu anak itu.

Menurutnya, kemampuan yang ia miliki untuk melakukan investigasi atau tracking kebohongan ini masih sangat terbatas penggunaannya di Indonesia. Di negara ini belum ada regulasi yang memperbolehkan pihak swasta untuk melakukan investigasi, maka ranah kerja yang ia geluti sering bersinggungan dengan tanggung jawab dari institusi yang memang memiliki tugas melakukan investigasi, seperti kejaksaan, kepolisian, dan lembaga audit.

Pekerjaannya saat ini lebih bersifat pendukung atau supporting system dari kewenangan yang melekat pada institusi-institusi tersebut. "Kalau kita bicara investigator, sebetulnya saat ini belum ada undang-undang dari pemerintah yang memperbolehkan swasta melakukan investigasi karena itu masih dalam batasan kepolisian," paparnya.

Jadi, lanjutnya, di antara dua bidang tersebut yang paling sering dilakukan ialah memberikan training karena jasa konsultasi investigasi lebih bersifat pendukung kepolisian. "Atau pendukung mereka yang memiliki kewenangan investigasi di negeri ini," ucapnya.

Maka itu, tidak heran jika Handoko lebih senang menyebut dirinya sebagai Human Lie Detector ketimbang sebagai investigator.

Verifikasi

Baginya, kejujuran ialah sesuatu yang tak ternilai. Seseorang yang berperilaku jujur patut mendapatkan apresiasi. Handoko percaya bahwa pernyataan maupun sikap seseorang dapat diverifikasi atau diuji tingkat kejujurannya dengan tiga indikator pokok. Pertama, ialah keselarasan yang merujuk pada anggota tubuh, reaksi verbal maupun nonverbal. Kedua, spontanitas, terkait dengan ekspresi wajah dan gestur, misalnya, bagaimana ia berargumentasi: lancar atau penuh jeda. Ketiga, ialah kesamaan, yaitu korelasi antara keterangan yang ia sampaikan dan fakta yang terjadi.

Jujur merupakan kodrat manusia. Ketika ia berperilaku tidak jujur, sebenarnya itu lebih mudah diketahui karena pasti ada kontradiksi di dalam dirinya.

Saat seseorang jujur, terdapat sekitar enam sampai delapan organ di dalam tubuhnya akan bereaksi, tapi ketika ia berbohong, lebih dari 20 organ dalam tubuh akan bereaksi secara bersamaan, bahkan kadang lepas kendali. Itulah penyebab orang yang berbohong lebih mudah ditebak.

"Jujur dan bohong ini akan terekspresi dari enam kanal dalam tubuh manusia, di antaranya ekspresi wajah, gestur, suara, gaya bicara, kata-kata, dan reaksi saraf otomatis di dalam tubuh, seperti detak jantung atau desah napas. Ini semua satu paket, jadi kalau kita ingin menilai seseorang jujur atau bohong, harus enam-enamnya dilihat," tegas Handoko.

Selain dengan menganalisis ekspresi dari enam kanal tersebut, pembuktian kejujuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat deteksi kebohongan. Salah satu alat deteksi kebohongan yang sudah banyak dikenal publik ialah poligraf, yaitu alat deteksi kebohongan berbasis frekuensi getaran yang muncul seiring perubahan respons fisiologis seseorang ketika berbohong. Di Indonesia sendiri, poligraf sudah banyak digunakan di instansi-instansi penegak hukum, seperti lembaga peradilan maupun kepolisian.

Selain poligraf, masih banyak alat pendeteksi kebohongan yang diakui secara internasional, salah satunya ialah layered voice analysis (LVA) yang berbasis pada spektrum suara. Menurut pengakuannya, di Indonesia mungkin dirinyalah yang merupakan satu-satunya instruktur LVA yang tidak memiliki background kepangkatan apa pun.

"Di Indonesia setahu saya, mungkin saya satu-satunya instruktur ahli lie detector berlatar belakang sipil yang menguasai alat layered voice analysis (LVA). Saya bisa menggunakan alat ini untuk menganalisis live interview maupun data recording, termasuk di Youtube. Jadi, rekaman di Youtube bisa saya analisis dengan menggunakan LVA," pungkas Handoko.

Obrolan kami siang itu mulai menunjukkan eskalasi ketika membahas kemungkinan dari seorang lie detector mengawal integritas aparatur negara, merujuk pada masifnya paparan paham radikal di kalangan ASN di Indonesia.

Handoko ternyata memiliki alternatif cara untuk menanggulangi risiko tersebut, yaitu melalui deteksi kebohongan. Dalam deteksi kebohongan, seseorang akan diminta untuk mengerjakan serangkaian tes untuk memverifikasi keterangan-keterangan yang ia utarakan. Salah satu tes yang wajib diberikan ialah tes integritas, tujuannya ialah untuk melihat konsistensi dari seseorang terhadap suatu nilai-nilai tertentu.

"Kita punya tes integritas yang bisa menyaring orang-orang yang telah terpapar ide-ide radikalisme. Tapi, bukan cuma soal radikalisme yang dapat disaring, tes ini juga bisa melacak apakah seseorang punya pengalaman mencuri, sudah pernah menyuap atau disuap, pernah atau belum pernah mengalami pelecehan seksual, bahkan bisa melacak jika ia memiliki senjata api, pernah menodongkan senjata itu apa belum," terang Handoko menjelaskan tentang tes integritas.

Penggunaan tes integritas sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi radikalisme belum terlalu populer saat ini. Namun, menurut Handoko potensi itu sangatlah terbuka, mengingat integritas kini menjadi jargon yang selalu digaungkan oleh ASN di Indonesia.

Banyak perusahaan swasta juga mulai menerapkan tes integritas ini sebagai persyaratan untuk promosi jabatan atau kontrak kerja ulang bagi karyawannya, terutama untuk profesi-profesi yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, seperti pilot dan masinis kereta api.

"Tes ini banyak menjadi rujukan di perusahaan swasta dalam periode review kontrak, terutama untuk profesi-profesi yang menangani hajat hidup orang banyak. Jelas, tes integritas harus dilakukan karena itu berhubungan dengan bagaimana perusahaan menjamin keselamatan orang banyak. Untuk ASN, tes integritas ini dapat digunakan untuk screening dan pencegahan, misalnya, terorisme ataupun pencegahan tindak kriminal seperti layaknya di perusahaan swasta bila memang orientasinya ialah profesionalitas," pungkasnya.

Biodata

Nama: Handoko Gani

Tempat dan Tanggal Lahir: Jakarta, 5 September 1976

Profesi: Intruktur Ahli Lie Detector

Pendidikan:

S-1 Manajemen, Universitas Trisakti

MBA, Asian Institute of Management

Certified Diploma Behavior Analysis & Investigative Interview (BAII), Emotional Intelligance Academy

Certified Authorized User Layered Voice Analysis (LVA), Nemesysco

Karier

Saksi ahli kasus Kopi Sianida, Polda Metro Jaya

Investigative Interviewing Trainer di Instansi Penegak Integritas di Pemerintahan, seperti; Baharkam Mabes Polri (Inpamindo); Kantor Imigrasi Kelas 1, Bandara Soekarno Hatta; Bea Cukai Teluk Bayur

Investigative Interviewing Trainer di Bank Central Asia, Bank Mayapada, Bank Sinarmas, Bank ICBC Indonesia, dll

Investigative Interviewing Trainer di Buana Finance, Home Credit Indonesia, Olympindo Multifinance Indonesia, dll

Investigative Interviewing Trainer di Nabati Group, Kapal Api Group, Wings Group, dll.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More