Sabtu 07 Desember 2019, 05:15 WIB

Kunjungan Pelancong ke Riau Terus Meningkat

Rudi Kurniawansyah | Nusantara
Kunjungan Pelancong ke Riau Terus Meningkat

ANTARA/Audy Alwi
Masyarakat mengarak tongkang yang akan dibakar, di Bagansiapi-api, Riau, Kamis (19/6).

 

SEJUMLAH daerah terus berupaya mendulang pendapatan asli daerah (PAD) dengan mengembangkan pariwisata. Anggaran miliar rupiah juga digelontorkan demi meningkatkan kunjungan wisatawan.

Untuk menjaring PAD dari sektor pariwisata, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kini melibatkan unsur akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media. Upaya itu diharapkan bisa mendongkrak peningkatan PAD dari retribusi dan pajak industri pariwisata, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.

"Event pariwisata di Riau cenderung terus tumbuh positif. Ini berpeluang besar menyumbang devisa dan peningkatan produk domestik bruto," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Riau, Raja Yoserizal, di Pekanbaru, kemarin.

Ia merujuk ke Festival Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir. Pada 2017 acara tahunan itu menyedot 52 ribu wisatawan. Jumlah pelancong melonjak pada acara yang sama di 2018 menjadi 69 ribu pengunjung, terdiri atas 40 ribu wisatawan Nusantara dan 29 ribu wisatawan mancanegara.

Bahkan, saat Festival Bakar Tongkang pada 17-19 Juni 2019, jumlah wisatawan meningkat lagi jadi 75 ribu.

"Jika tiap pelancong rata-rata menghabiskan Rp300 ribu per hari, dalam tiga hari di Bagansiapiapi uang beredar mencapai Rp67,5 miliar," ujarnya.

Demikian halnya pada atraksi perang air atau Cian Cui di Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Menurut Yose, pengunjung pada tahun ini jauh lebih ramai daripada tahun sebelumnya.

Menurut data panitia lokal, 22.380 wisatawan hadir di acara itu, terdiri atas 3.526 turis asing dari Korea, Malaysia, Singapura, Inggris, Jamaika, Australia, Taiwan, dan Tiongkok serta 18.854 turis lokal .

Ia juga mengungkapkan Provinsi Riau tetap mengandalkan wisata sejarah dan budaya, salah satunya di Siak. Jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun lalu mencapai 351.232 orang. "Kunjungan paling tinggi yakni objek wisata Istana Siak Asserayah Al Hasyi-miah yang mencapai 256.760 orang," ujarnya.

Destinasi wisata sejarah lain di kabupaten itu yang juga diminati antara lain makam Sultan Syarif Qasim, makam Koto Tinggi, makam Sultan Abdul Jalil Muzafar Syah, Balai Kerapatan Tinggi (Museum Balai Rung Sri), makam Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (Raja Kecik), makam Putri Kaca Mayang, Gedung Landrad, Gedung Kontrouller, dan makam Tuk Antan Darah Putih.

Siapkan anggaran

Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) menyiapkan anggaran miliaran rupiah untuk mengembangkan destinasi wisata pada 2020. Kepala Dinas Pariwisata NTT Wayan Dharmawa mengatakan anggaran yang diusulkan untuk pengembangan setiap destinasi sebesar Rp1,6 miliar. Angka itu termasuk untuk pengembangan ekonomi kreatif di sekitar destinasi wisata.

Ada 14 destinasi unggulan yang akan dikembangkan tahun depan. Tujuh di antaranya mulai dikembangkan tahun ini, yaitu Pantai Liman, Perairan Mulut Seribu, wisata alam dan budaya Fatumnasi Timor Tengah Selatan, Kampung Adat Praimadita, wisata pantai di Alor, dan wisata alam di sekitar Taman Nasional Kelimutu di Ende. (PO/BB/RF/FB/JL/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More