Jumat 06 Desember 2019, 21:23 WIB

Awak Kabin Garuda Bongkar Gaya Kepemimpinan Ari Ashkara

Thomas Harming Suwarta | Ekonomi
Awak Kabin Garuda Bongkar Gaya Kepemimpinan Ari Ashkara

Antara/Nova Wahyudi
Karangan bunga dari Ikagi menyikapi pencopotan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Ashkara

 

IKATAN Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) memberikan apresiasi atas keputusan Menteri BUMN yang memberhentikan I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia akibat penyelundupan moge secara ilegal.

Di samping soal kasus Harley, IKAGI menyebutkan di bawah kepemimpinan Ari, pengelolaan PT Garuda Indonesia sangat buruk dan karena itu perlu perbaikan secara menyeluruh agar Garuda Indonesia kembali dikelola secara profesional.

"Kami tentu memberikan apresiasi atas keberanian Erick memberhentikan Ari karena selain soal kasus Harley, kepemimpinan di Garuda selama beliau kami harus katakan sangat buruk, tidak profesional, terkesan otoriter dan harus dikatakan tidak peka atau sensitif di tengah kondisi keuangan Garuda yang bermasalah," kata Sekjen IKAGI Jacqueline Tuwanakotta kepada Media Indonesia di Jakarta, Jumat (6/12).

Jacqueline yang sudah menjadi pramugari di Garuda Indonesia selama 23 tahun tersebut mencontohkan soal penempatan posisi karyawan yang dilakukan atas dasar suka dan tidak suka.

"Banyak kasus orang ditempatkan pada posisi tertentu atau dicopot dari jabatan tertentu hanya karena beliau tidak suka, asal bisa ikut apa kata dia saja alias yes man semua ga peduli orangnya bisa atau tidak di posisi tersebut," kata Jacqueline.

Baca juga : Serikat Pekerja Minta Pemerintah Bersihkan Kebobrokan Garuda

Contoh lain, lanjut Jacqueline, terkait kasus Daftar Menu Garuda yang ditulis tangan yang sempat heboh beberapa waktu lalu karena dipersoalkan oleh Youtuber Riuz Vernandez.

"Harus diktakan itu karena memang ada persoalan di penyedia makanan untuk Garuda yaitu Aerofood Garuda Indonesia yang dipegang oleh orang yang sebenarnya tidak paham urusan tersebut tetapi karena dianggap yes man terhadap Direktur maka dapat jabatan tersebut," lanjut Jaqeuline.

Dengan gaya kepemimpinan Ari seperti ini, iklim kerja di Garuda menjadi tidak kondusif karena hanya membuat orang takut atau terpaksa menjilat. Jika tidak sesuai selera Direktur atas dasar tidak suka maka orang tersebut akan dipindahkan.

"Maka benar apa yang beredar di internal Garuda, ada istilah 'awas kamu dipapuakan' artinya dimutasi karena tidak disukai. Jadi memang suka-suka beliau saja untuk pindahkan orang dan itu tidak menggunakan prosedur yang benar," kata Jacqueline.

Ari, lanjut dia juga tidak memiliki sensitivitas sebagai pimpinan di tengah kondisi keuangan Garuda yang bermasalah.

Baca juga : Ditunjuk Jadi Plt. Dirut Garuda, Ini Kekayaan Fuad Rizal

"Beliau memang sering bicara efisiensi karena kondisi keuangan tetapi dalam beberapa kasus justru membuat kebijakan yang menghamburkan uang. Pernah ada penerbangan beliau membawa penyanyi ke dalam pesawat yang tentu saja sangat tidak efektif dan memboroskan uang dan terkesan hanya supaya terlihat wah saja. Jadi tidak sensitif antara kondisi keuangan dan gaya hidup," ungkap Jacqueline.

Selain itu IKAGI juga mempersoalkan pengalihan rute penerbangan London dan Amsterdam, melalui Denpasar, Bali, serta Kualanamu, Sumatera Utara. Rute ini membuat jam kerja para awak kabin melebihi dari batas kewajaran. Padahal rute tersebut bisa ditempuh langsung dari Jakarta menuju Amsterdam.

"Jadi perjalanannya itu panjang sekali sehingga jam kerja kami itu melebihi batas kewajaran sebagai pekerja. Itu sampai hampir 19 jam lebih perjalanan kita. Jadi dari Denpasar ke Kualanamu, Kualanamu ke Amsterdam kemudian istirahat di sana cuma sekitar 12 jam termasuk waktu transportasi. Sangat tidak manusiawi,” ucapnya.

IKAGI lanjut Jacqueline berharap agar pembenahan Garuda Indonesia dilakukan secara total.

"Ibarat ini sudah dimulai dari atap maka harus bisa dibenahi dari pintu depan sampai dapur harus dibenahi total jangan setengah-setengah jika menteri BUMN ingin ada pembenahan," pungkas Jacqueline. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More