Jumat 06 Desember 2019, 17:25 WIB

Mencipta Narasi dengan Google Earth

Bagus Pradana | Weekend
Mencipta Narasi dengan Google Earth

AFP/TIMOTHY A. CLARY
Kini Anda dapat membuat narasi Anda sendiri dengan memanfaatkan fitur baru Google Earth.

WEEKEND - Membuat Cerita di Google Earth
;;

Google kembali melakukan trobosan dengan melansir alat kreasi baru di Google Earth. Dengan menggabungkan prinsip membaca peta dengan bercerita (story telling), fitur baru itu kini memungkinkan para penggunanya untuk tidak hanya menikmati lanskap geografis dalam citra 3 dimensi saja, tapi juga bisa bercerita layaknya seorang petualang yang sedang mengisahkan tempat-tempat eksotik yang pernah dikunjunginya.

Layanan di Google Earth ini merupakan pengembangan dari program 'Voyager' yang sebelumnya telah dirilis pada 2017. 'Voyager' adalah pembuat cerita yang diperuntukkan kepada kalangan profesional mitra kerja dari Google, dengan misi seperti pelestarian lingkungan, penelusuran sejarah dan lain sebagainya.

'Voyager' digarap untuk kalangan terbatas, yaitu mitra yang ditunjuk Google saja. Namun, alat kreasi baru ini, siapa saja dapat membagikan pengalamannya berkunjung ke suatu tempat.

Layanan ini telah tersedia di Google Earth versi web yang dapat diakses melalui layar komputer anda.

Dengan alat kreasi baru yang sekarang terdapat di Google Earth, para pengguna dapat mengintegrasikan model elevasi citra yang disediakan oleh Google Earth dengan narasi cerita tentang tempat-tempat yang telah ditentukan sebagai bingkainya.

Seluruh program kreasi baru ini dapat Anda nikmati dalam satu panel tambahan yang diberi nama 'Proyek'. Sayangnya, layanan ini masih memiliki keterbatasan akses. Ia baru bisa dibuka jika diakses melalui perangkat komputer atau laptop.

Dengan layanan tersebut para pengguna dapat mulai membuat proyek pribadinya untuk bercerita tentang tempat-tempat penting pernah ia kunjungi dalam tampilan real live gambar satelit beresolusi tinggi di Google Earth. Selain itu, Anda juga dapat mengundang orang melalui email untuk berkolaborasi dalam pengerjaan proyek.

Para pengguna kini juga bisa melampirkan narasi teks, gambar serta video pada tag lokasi (tempat) yang diceritakannya, selain itu juga dimungkinkan untuk menambahkan tanda letak, garis, dan berbagai bentuk sesuai keinginan anda.

Ditemui dalam jumpa pers Google Indonesia di Jakarta, Senin (2/12), Jason Tedjasukmana selaku Head of Corporate Communications Google Indonesia menyebutkan, "Google Earth sangat cocok ditujukan untuk anak sekolah dan orang-orang yang kerja kantoran karena aplikasi ini memungkinkan kita untuk berkeliling dunia dengan budget yang lumayan murah. Apalagi kini siapa saja bisa membuat cerita yang bisa diunggah di Google Earth supaya semua orang bisa melihatnya. Kalau orang sudah lebih kenal dengan tempat-tempat di dunia melalui sebuah cerita, kita berharap kepedulian tentang lingkungan sekitar juga meningkat."

Cerita dari Indonesia
Turut hadir dalam konfrensi pers tersebut, dua orang pengguna Google Earth dari Indonesia yang telah menggunakan tools baru ini untuk bercerita mengenai pengalaman mereka masing-masing. Mereka adalah Rita Jhon Harsono yang bercerita tentang sejarah batik di Indonesia, dan Suparman Elmizan yang bercerita mengenai kerentanan sosial di kawasan TPST Bantargebang, Bekasi.

Melalui tajuk Indoneesian Batik: A Beauty in Diversity yang ditulisnya di Google Earth, Rita bercerita mengenai perjalanan sejarah batik di Indonesia, persebaran serta ragam motif yang ada. Rita juga menceritakan 9 kota di Indonesia yang merupakan sentra perajin batik, lengkap dengan sejarah hingga karakteristik corak batik yang dimilikinya. Kesembilan kota tersebut adalah Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Bali, Cirebon, Lasem, Madura, Aceh, dan Bengkulu.

Tak ketinggalan, Rita juga menambahkan citra visual 3 dimensi ketika Google Earth merujuk ke kota-kota tersebut, sehingga menjadikan presentasinya sangat lengkap, didukung dengan ketersediaan data lanskap geografisnya.

"Ketika aku merujuk sumber-sumber di google tentang 'Indonesian Batik' itu ternyata enggak banyak, dengan background-ku sebagai seorang guru di salah satu sekolah internasional kebanyanyakan kolegaku adalah orang-orang ekspat. Ketika mereka tanya soal batik ke aku, aku bingung mau kasih link website yang mana, yang mereka nggak perlu mikir dan langsung bisa merangkum semuanya. Akhirnya aku buat sendiri presentasi di Google Earth tentang batik ini, di sana ada sejarah, corak, daerah penghasil batik yang aku rekomendasikan, dan berbagai ilustrasi geografis menarik lain," terang Rita.

Sementara Suparman menampilkan kisah yang dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadinya ketika masih sekolah dulu. Sekolahnya yang berlokasi tidak terlalu jauh dari tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, membuatnya memiliki kenangan tersendiri. Ia kemudian mengangkat fenomena kehidupan sosial di Bantargebang sebagai cerita yang ia tampilkan di Google Earth dengan tajuk Bantargebang, The Power of Educational Community Among the Piles of Waste.

"Saya memulai narasi saya, dengan kata 'it all start from Jakarta' semua bermula dari Kakarta, dari grafis ini kita sudah bisa mengambil kesimpulan. Jakarta ini adalah kota yang sangat luas, tapi sampahnya ditaruh di sini. Kita bisa membayangkan masalah-masalah apa yang terjadi di sana tentunya," ujar Suparman.

Ia bercerita tentang asal muasal mengapa daerah Bantargebang dipilih sebagai lokasi TPST, kerentanan sosial yang terjadi di sana, dan tak ketinggalan ia juga menekankan pada minimnya kesadaran penduduk di TPST Bantargebang terhadap pendidikan anak-anaknya. Narasi geografis yang menampilkan lanskap peta semi 3 dimensi kawasan Jakarta dan kawasan Bantargebang yang ditampilkan Suparman sepanjang presentasi jelas menjadi sebuah gambar yang sarat akan makna.

Kini, para pengguna juga dapat membuat cerita ataupun mengeksplorasi berbagai tempat yang menarik melalui Google Earth seperti yang telah dilakukan oleh Rita dan Suparman.

Langkahnya cukup mudah, Anda harus memiliki cerita terlebih dahulu, setelah itu, masuk ke https://earth.google.com/web lalu mulailah mengembangkan alur cerita yang Anda miliki dengan menautkan ke titik-titik tempat yang menjadi setting cerita di Google Earth. Anda juga dapat menambahkan teks, gambar, atau video agar tampilan menjadi lebih menarik.

Hasilnya, Anda akan memiliki jalur tour sendiri yang Anda narasikan berdasarkan cerita maupun pengalaman Anda. Selamat mencoba!

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More