Jumat 06 Desember 2019, 07:10 WIB

Memahami Manggarai Lebih Dalam

Memahami Manggarai Lebih Dalam

ANTARA
Tawuran di Manggarai

 

IKRAR perdamaian berkumandang pada Rabu (30/10) malam di Pasaraya, Manggarai. Acara yang digagas Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Bastoni Purnama itu dihelat satu hari pascatawuran di wilayah tersebut.

Aris Arianto, Ketua Karang Taruna Megazen yang hadir menilai ikrar tersebut hanya basa-basi. Benar saja! Minggu (1/12) malam, tawuran pecah lagi.

Kapolsek Tebet Kompol Alam Nur bercerita bahwa malam itu, ada warga Megazen yang menggelar hajatan. Tiba-tiba pemuda Menteng Tenggulung meluncurkan petasan ke permukiman Megazen. Penyerangan terjadi hingga ke pintu Stasiun Manggarai.

Akhir Oktober lalu, Alam mengatakan kepada Media Indonesia bahwa pihaknya akan membentuk Satgas Antitawuran. Saat ditanya perkembangannya, Alam menyebut bahwa Satgas Antitawuran belum dibentuk.

Adapun Camat Tebet, Dyan Airlangga telah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan tawuran di wilayahnya.

Dyan menyebut akar permasalahan dari tawuran adalah sosial-ekonomi. Menurutnya, para pelaku tawuran ialah pemuda yang menganggur. "Oleh sebab itu, kami terus menambah keterampilan kepada mereka seperti kemampuan cukur, sablon, montir, AC. Itu sudah berjalan, tapi belum banyak," jelas Dyan.

Namun, Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo menilai upaya tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Memberikan lapangan pekerjaan bagi pelaku tawuran, kata Imam, hanya menyelesaikan masalah individu. Padahal tawuran melibatkan kelompok-kelompok.

"Kalau kelompok itu bagaimana? Beda lagi logikanya. Yang tawuran itu siapa? Emang orang yang nganggur? Belum tentu. Bisa saja orang yang nggak nganggur, tapi ikut di dalam geng itu. Contohnya pelajar. Apakah tawuran bagian dari kamuflase untuk sebuah transaksi ilegal? Kan kita nggak tahu juga. Jadi, harus lebih mendalam untuk melihat sebab-sebabnya pada saat sekarang," papar Imam.

Menurut Imam, salah satu faktor terbesar ialah kepadatan penduduk. Daerah Manggarai yang termasuk slum area, berdekatan dengan rel stasiun kereta dan pasar, membuat kehidupan warga yang tinggal di sana tidak tenang.

"Ada keterbatasan ekonomi, keterbatasan space, ruang interaksi yang wajar. Mereka berebut antara satu kelompok dengan yang lain, Jadi, memahami Manggarai enggak bisa sendiri dilihat secara isolated. Itu ada integrated problem dalam satu wilayah. Satu hal yang bisa dilakukan ialah dengan melakukan transformasi sosial," jelas Imam. (Tri/J-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More