Kamis 05 Desember 2019, 00:00 WIB

Lupakan Sejenak Ceramah Moral

Siska Purba, Staf Komnas HAM | Opini
Lupakan Sejenak Ceramah Moral

Dok.pribadi
Siska Purba

PENUNTASAN penyakit AIDS hingga sekarang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum juga tuntas. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2019 ada 5 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi, yaitu DKI Jakarta (62.108), diikuti Jawa Timur (51.990), Jawa Barat (36.853), Papua (34.473), dan Jawa Tengah (30.257).

Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa mereka yang mengidap HIV, belum tentu terjangkit AIDS pula. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus. Meski positif HIV, seseorang bisa bebas dari AIDS asalkan menjalani pengobatan dan kontrol yang baik. Salah satunya dengan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) yang mampu menekan jumlah virus HIV dalam tubuh sehingga tidak  tidak berkembang menjadi AIDS. 

Sayangnya, jumlah kasus HIV yang ditemukan dan dilaporkan baru mencapai 60,7% dari jumlah kasus HIV yang diperkirakan oleh Kemenkes (2019). Bahkan, terjadi penurunan jumlah kasus AIDS yang dilaporkan dibandingkan triwulan I tahun 2019 (1.536 orang menjadi 1.463 orang). Salah satu penyebabnya, masyarakat tidak memeriksakan diri dan melaporkan adalah adanya stigma negatif yang dilabelkan kepada pengidap AIDS.  Padahal faktor penularannya tak melulu akibat hubungan seks bebas.

Banyak penderita AIDS yang memilih untuk tidak tahu jika mereka mengalami penyakit tersebut. Mereka takut akan timbul masalah yang menyebabkan hilangnya pekerjaan dan diusir dari rumah. Salah satu kasus adalah pengusiran anak dengan status orang pengidap HIV/AIDS (ODHA) di Samosir, menjadi bukti bahwa masyarakat masih memberikan stigma negatif terhadap mereka. Padahal seharusnya jika ada anggota keluarga yang dinyatakan mengidap HIV harusnya didukung.  

Stigma pada ODHA berawal sejak pertama kali kasus HIV/AIDS ditemukan di Indonesia pada era 1990-an. Kasus pertama itu diketahui muncul pada kaum LGBT di Bali. Disusul HIV/AIDS menjangkiti sekelompok waria. Stigma terhadap ODHA telah melekat sejak pertama kali virus ini ditemukan dan menyebar luas. Penyakit ini sering dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang, perilaku seks bebas, serta hubungan seksual sesama jenis (homoseksual). 

Karena kaitan tersebut, ODHA pun mendapat cap yang negatif dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan ODHA mengasingkan/menutup diri dari masyarakat dan lingkungan, depresi bahkan bunuh diri. 

Kondisi ini dapat berakibat buruk pada kesehatan ODHA; pertama, mereka akan malu untuk memeriksakan diri ke dokter dan mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kedua, beberapa petugas sering memberikan ceramah moral dan agama kepada ODHA yang menyebabkan mereka malas kembali untuk berobat. Kedua hal ini dapat berdampak pada kematian pasien.  

Perlakuan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA melanggar hak-hak dasar ODHA. Di antaranya adalah hak untuk hidup, mendapatkan perawatan, memiliki pekerjaan, dan lain-lain. Tidak ada seorang pun yang berhak merenggut hak-hak mendasar ini dari hidup ODHA. Sudah saatnya kita bahu membahu mendukung pengobatan ODHA dan melupakan sejenak ceramah moral dan agama. (O-2)

pendapat pribadi

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More