Kamis 05 Desember 2019, 04:15 WIB

Ranking PISA Melorot, Benahi Pendidikan Dasar

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Ranking PISA Melorot, Benahi Pendidikan Dasar

AFP
Grafik menunjukkan 19 negara teratas untuk sains dengan skor matematika dan membaca untuk siswa 15 tahun ke atas, menurut survei PISA terbar

 

SEJUMLAH kalangan mengungkapkan keprihatinannya saat merespons peringkat Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diliris Organisation for Economic Co-operation and Developmend (OECD).

Dalam survei tiga tahunan itu, skor Indonesia turun dari 397 pada 2015 menjadi 371 dalam hal membaca (literasi), 386 menjadi 379 untuk matematika dan 403 jadi 396 untuk sains. Dengan raihan itu, posisi Indonesia berada di urutan 10 terbawah, yaitu 72 dari 77 negara.

"Orientasi kebijakan pendidikan kita masih berkutat pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Jangan kambing hitamkan atau salahkan guru dan siswa, tetapi segera evaluasi kebijakan pendidikan kita selama ini. Segera," ucap dosen UGM Muhammad Nur Rizal saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Pegiat pendidikan dan Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan di 400 sekolah itu mengingatkan pemangku kepentingan agar melihat skor PISA sebagai peringatan, sekaligus mengevaluasi kinerja pendidikan. Sebab ketiga kemampuan yang disurvei merupakan skill dasar.

Rizal pun setuju dengan ide Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang mau memerdekakan guru dalam mengajar, untuk membangun siswa sesuai dengan kodratnya.

Senada, Direktur Akademik Yayasan Sukma Baedowi yang malang melintang di dunia pendidikan, mengatakan langkah awal yang perlu dilakukan adalah simplifikasi guna menyudahi beratnya beban kurikulum dan meningkatkan kapasitas guru.

"Rumpun mata ajar wajib yang harus terus menerus hadir di setiap level pendidikan (SD-SMP-SMA-perguruan tinggi) hanya terdiri dari lima mata pelajaran, yaitu matematika, sains, bahasa, sosial-budaya, dan olahraga plus kesenian," jelasnya.

Untuk meningkatkan literasi siswa, tambahnya, sekolah juga perlu mengembalikan budaya membaca di sekolah dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.

Meritokrasi Singapura

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menyarankan agar pemerintah Indonesia belajar dari negara tetangga, utamanya Singapura dalam mengelola pendidikan.

Sebab pada survei PISA 2015, Singapura berhasil menempati posisi puncak, kemudian tahun ini tetap gemilang meski turun satu peringkat di posisi ke-2 setelah disalip Tiongkok.

"Kunci utama keberhasilan Singapura terletak pada sistem pendidikan yang meritokrasi yang berbasis pada keahlian atau prestasi, kurikulum, anggaran pendidikan, kualitas guru, dan desentralisasi pendidikan," kata Ramli.

Singapura menerapkan kurikulum berbeda untuk berbagai jenjang. Untuk tingkat SD misalnya, hanya memastikan siswa menguasai bahasa Inggris, bahasa ibu dan matematika. Dengan sistem ini, anak dari keluarga kurang mampu pun bisa menjadi apapun yang diinginkannya sepanjang memiliki kompetensi.

Untuk urusan guru, Singapura memilih orang-orang terbaik untuk diberikan beasiswa guru. (Medcom.id/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More