Rabu 04 Desember 2019, 14:18 WIB

Lagi, Kim Jong-un Tunggangi Kuda ke Gunung Suci Korut

Melalusa Susthira K | Internasional
Lagi, Kim Jong-un Tunggangi Kuda ke Gunung Suci Korut

KCNA/AFP
Foto dari kantor berita KCNA menampilkan pemimpin Korut Kim Jong-un (tengah) berkuda bersama istrinya, Ri Sol Ju, di di Gunung Paektu.

 

MEDIA Korea Utara (Korut), KCNA, kembali merilis foto-foto pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tengah menunggangi kuda putih di Gunung Paektu.

Lawatan Kim ke gunung suci tersebut dianggap para ahli menyiratkan makna simbolik dan mengindikasikan kemungkinan Kim yang akan segera mengumumkan kebijakan baru.

Kim yang kembali tampil dengan jaket kulit hitamnya tampak memimpin regu berkuda di hutan bersalju yang dekat dengan Gunung Paektu. Regu tersebut termasuk istri Kim, Ri Sol Ju, serta beberapa pejabat Korut lainnya.

Dalam lawatannya tersebut, KCNA menyebut Kim melakukan tur di beberapa lokasi bersejarah yang menjadi lokasi pertempuran revolusioner di kawasan Gunung Paektu dan mendaki ke puncak gunung.

“Meninggalkan jejak suci di situs pertempuran revolusioner di daerah Gunung Paektu, melalui salju suci setinggi lutut,” lapor  KCNA, Rabu (4/12).

KCNA juga merilis gambar baru Kim mengenakan mantel coklat muda dengan kerah berbulu di puncak gunung, yang terakhir kali dikunjunginya pada Oktober lalu.

Menurut propaganda Pyongyang, ayah Kim Jong-un yakni Kim Jong-il lahir di sebuah kamp rahasia di daerah Gunung Paektu, tempat kakeknya yang merupakan pendiri Korea Utara, Kim Il-sung, tengah berperang melawan penjajah kolonial Jepang. Namun, menurut sejarawan independen dan catatan Soviet, Kim Jong-il lahir di Rusia saat ayahnya berada di pengasingan.

Kim Jong-un kerap berkunjung sekali atau dua kali dalam setahun ke situs tersebut, dan lawatannya tersebut kerap dimaknai sebagai indikator perubahan kebijakan Korut.

Ia juga mengunjungi daerah itu pada November 2013, menjelang eksekusi mati pamannya, Jang Song-thaek, atas tuduhan pengkhianatan.

Adapun pada Desember 2017, Kim kembali mendaki gunung itu sebelum pemulihan hubungan diplomatik yang mengarah ke KTT pertama dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura.

Kim juga meresmikan proyek konstruksi unggulan negaranya di dekat Gunung Paektu pada Selasa (3/12) kemarin.

Pembangunan Kota Samjiyo yang berdekatan dengan gunung berapi perbatasan Tiongkok tersebut, disebut sebagai kota modern cerminan sosialisme utopis dan demonstrasi ketahanan Korut dalam menghadapi sanksi atas program nuklir dan rudal balistiknya.

Mengingat latar belakang sejarahnya, para pengamat menilai foto-foto Kim di Gunung Paektu menunjukkan pernyataan kepemimpinan dan legitimasi. Adapun peneliti Korea Utara, Ahn Chan-il, mengatakan bahwa pilihan busana Kim mengenakan jaket kulit dapat mencerminkan sikap keras terhadap pertikaian diplomatik saat ini.

"Kulit telah lama melambangkan resistensi antipeluru di Utara," ujar Chan-il kepada AFP.

Sementara itu, mengacu pada perjuangan anti-Jepang yang dilakukan Kim Il-sung di Gunung Paektu adalah membawa pesan serupa kepada audiensi domestik bahwa penerusnya, Kim Jong-un, mampu melakukan hal yang sama.

"Kali ini melawan AS. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah Pyongyang sepenuhnya memihak Beijing,” tambahnya.

Foto-foto Kim tersebut muncul ketika pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) menemui kebuntuan.

Pemerintah Korut telah menetapkan batas waktu akhir tahun bagi Pemerintah AS untuk menawarkannya konsesi baru bagi perundingan nuklir mereka, dan telah mengeluarkan serangkaian komentar yang kian tegas dalam beberapa pekan terakhir.

“Ini sepenuhnya terserah AS hadiah Natal apa yang akan dipilihnya untuk didapatkan,” pungkas pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Utara Ri Thae Song, seperti dilansir KCNA, Selasa (3/12).

Sementara itu, Partai Buruh Korea yang berkuasa dilaporkan akan melangsungkan pertemuan penuh komite pusatnya pada akhir bulan ini.

Nantinya pertemuan tersebut akan membahas dan memutuskan masalah-masalah penting yang sejalan dengan kebutuhan pengembangan revolusi Korut dan perubahan situasi di dalam maupun luar negeri Korut. (AFP/Uca/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More