Rabu 04 Desember 2019, 06:20 WIB

Memulai Pertanian Masa Depan

Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian | Opini
Memulai Pertanian Masa Depan

MI/Tiyok
Opini

UNGKAPAN dari bait pantun yang tepat. Cepat atau lambat agar tetap bertahan dan unggul, pertanian kita harus melakukan banyak lompatan inovasi.
Kemajuan dan modernisasi dalam sektor pertanian bisa terjadi jika petani sebagai pelaku utama sektor ini responsif terhadap perubahan. Pelaku sektor ini juga harus mandiri dan adaptif dalam mengaplikasikan inovasi dan teknologi baru.

Pergerakan cepat teknologi saat ini memang perlu ditangkap dan diinisiasi para pelaku sektor pertanian kita. Apalagi saat ini dunia sudah memasuki revolusi industri 4.0. Era ini ditandai dengan automasi penggunaan mesin yang terintegrasi jaringan internet. Digitalisasi juga telah merasuki semua aktivitas, dari sosial, pendidikan, hingga ekonomi.
Kecanggihan teknologi membuat semua sektor berevolusi menjadi cepat dan presisi. Sektor pertanian juga turut dipacu untuk mengadopsi revolusi teknologi tersebut.

Di sisi lain, Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR) telah memprediksi bahwa pada 2030-an akan ada penurunan drastis produksi pertanian di berbagai kawasan di dunia karena perubahan iklim, tidak terkecuali Indonesia.
Tantangan besar tersebut tak ayal mendorong kita semua untuk mencari solusinya, terlebih prediksi produksi pertanian yang menurun drastis juga dibarengi pertumbuhan penduduk yang terus melonjak. Kondisi ini mengharuskan kita untuk melibatkan teknologi canggih terbaru dalam kegiatan pertanian.


Aplikasi pertanian presisi

Salah satu konsep pengembangan teknologi terbaru dalam pertanian dikenal dengan istilah pertanian presisi (precision agriculture). Pertanian presisi ialah istilah yang ditujukan untuk praktik pertanian yang secara beragam dideskripsikan sebagai 'pertanian resep', praktik pertanian 'spesifik lokasi', 'teknologi tingkat variabel', dan istilah pendukung lainnya.   

Filosofi dasar pertanian presisi ialah untuk mengukur dan mengelola variabilitas, seperti hasil, tanah, hama, dan gulma di seluruh lahan yang ada untuk meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan praktik pertanian dalam sistem penanaman. Dengan cara ini, produktivitas, kualitas produk, dan pengembalian ekonomi bisa lebih optimal. Di samping itu, pemanfaatan teknologi juga dapat meminimalkan dampak lingkungan dan risiko pertanian.

Pertanian presisi tidak asal bertani. Disebabkan perbedaan setiap lahan, petani masa depan menggunakan satelit images drone dan alat geografi lainnya. Langkah yang dilakukan ialah obeservasi jenis tanaman yang cocok ditanam pada lahan pertanian.
Kemudian akan dibangun sistem sensor di lahan pertanian untuk mengukur kelembapan dan suhu dari tanah dan udara sekitar lahan. Karena itu, petani membutuhkan informasi yang akurat mengenai kondisi tanah, pemberian air, pupuk, ataupun pestisida secara efektif digunakan hanya pada tempat yang membutuhkan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam beberapa kali arahannya selalu menitikberatkan pendekatan pertanian presisi. Kasus pertanian berskala besar di beberapa negara telah menggunakan teknologi yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi, mulai menanam benih, jumlah pupuk, hingga aliran air pun terus dimonitor.

Penerapan metode ini di Indonesia telah diinisiasi oleh banyak start up dan perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen pertanian dengan memanfaatkan teknologi big data analytics yang berbasiskan analisis cuaca, informasi sensor tanah, serta pencitraan satelit dan drone yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Dalam penggunaannya, inovasi pertanian presisi untuk meningkatkan akurasi manajemen usaha tani dilakukan dengan memanfaatkan sistem sensor, drone, dan remote sensing untuk mengumpulkan data yang akan digunakan sistem smart farming. Sistem tersebut dapat memandu kegiatan bertani para petani binaan atau kelompok tani dan komunitas (komunitas binaan bank, microfinance, dan produsen makanan atau komunitas mandiri) sehingga kegiatan bertani dapat menjadi lebih efektif dan efisien.

Sementara itu, sistem inovasi tracking system yang dikembangkan dapat berupa sistem informasi terintegrasi untuk supply chain komoditas pertanian. Sistem tersebut dapat dirancang untuk menjembatani petani, distributor, pasar, dan pembeli akhir komoditas dengan memanfaatkan mobile application untuk menginput data riil keadaan supply demand serta problem di lapangan pada setiap titik jalur supply.


Implementasi teknologi

Kehadiran teknologi digital, termasuk pemanfaatan internet of things (IoT) akan sia-sia jika tidak bisa diaplikasikan di tingkat akar rumput atau end user.
Proses peralihan dari pola pertanian tradisional ke modern sampai implementasi smart digital farming  tidak serta-merta akan berjalan dengan sendirinya. Peran pendampingan dan pembelajaran lapangan menjadi krusial untuk membantu petani dalam mengimplementasikan teknologi dalam proses pertanian dari hulu hingga hilir.

Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostra Tani) yang diusung  Menteri Pertanian diharapkan mengemban peran pendampingan penerapan teknologi tersebut. Kostra Tani mengangkat konsep khusus pembangunan pertanian di tingkat kecamatan. Petugas di lapangan, utamanya organisasi penyuluhan yang terdiri atas pegawai pertanian, penyuluh lapang, akademisi dan mahasiswa, hingga siapa saja untuk berperan sebagai penyuluh swadaya.

Penyuluh Kostra Tani diharapkan inovatif, berinteraksi dengan media sosial, fleksibel, punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan peka terhadap perubahan.
Penguatan manajemen data dan informasi tidak hanya memudahkan pendampingan petani di lapangan, tapi juga meningkatkan efektivitas peran pemantauan dan evaluasi yang dijalankan pemerintah pusat. Data-data pendukung pertanian di tingkat lapang di level kecamatan tersebut akan terkoneksi dengan ruang kendali di tingkat pusat yang akan dinamai Agriculture War Room (AWR). Melalui AWR, pemerintah pusat akan lebih mudah memantau dan mengevaluasi sehingga secara mudah bisa menangkap kendala-kendala di lapangan dan memberikan solusinya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More