Selasa 03 Desember 2019, 19:25 WIB

Wika Garap Kawasan Urban Terintegrasi di Senegal

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Wika Garap Kawasan Urban Terintegrasi di Senegal

Antara/Audy Alwi
Direktur Operasi III Wika Destiawan Soewardjono

 

PT Wijaya Karya (Wika) dan perusahaan asal Senegal L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE) melaksanakan penandatanganan kontrak tahap pertama pembangunan Goree Tower Project di Centre Internationale Conference Abdou Diouf, Senegal, Selasa (3/12).

Penandatanganan tersebut merupakan tindak lanjut konkret atas business deal antara Pemerintah Senegal, Wika dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang dicapai pada perhelatan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID), Agustus lalu.

Dalam kerja sama itu, Wika akan menjadi kontraktor utama dalam pengembangan kawasan urban terintegrasi yang meliputi hotel bintang lima, gedung perkantoran, convention center, residential apartment dan sky dining.

Biaya sebesar 250 juta euro atau setara Rp3,8 triliun digelontorkan untuk proyek tersebut dengan masa pengerjaan selama dua tahun.

“Kerja sama ini merupakan batu lompatan bagi kiprah BUMN Karya di Afrika. Kami terus mencoba melebarkan sayap dengan menjalankan proyek kawasan besar seperti ini," ujar Direktur Operasi III Wika Destiawan Soewardjono melalui keterangan resmi, Selasa (3/12).

Baca juga : PT WEGE Raup Kontrak Rp5,2 T

Perjalanan Wika di Afrika memang bukan sesuatu yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, perseroan sudah menggarap proyek perumahan di Aljazair dan istana negara Niger.

“Bagi kami pasar luar negeri adalah potensi yang harus diimplementasi. Masuknya Wika di pasar infrastruktur dan gedung Afrika sangat sesuai dengan strategi bisnis yang menyasar negara-negara berkembang dengan kebutuhan infrastruktur tinggi,” terang Destiawan.

Pada 2020, Wika membidik tiga negara baru di Kawasan Afrika Barat dan Timur yaitu Senegal, Pantai Gading dan Zanzibar-Tanzania dengan nilai proyek sebesar Rp5,18 triliun.

Dalam pelaksanaannya, proyek tersebut difasilitasi pembiayaan National Interest Account (NIA) dengan skema Buyer’s Credit melalui LPEI.

Sebagaimana nama program itu, buyer’s credit merupakan fasilitas kredit yang diberikan kepada pembeli dengan tujuan meningkatkan ekspor dari sisi pembeli dalam hal ini pemerintah Senegal.

Baca juga : Menteri BUMN Tindak Lanjuti Kerja Sama BUMN di Afrika

Nantinya, mereka secara bertahap akan melakukan pelunasan kepada Indonesia.

Adapun, Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly mengatakan dengan menggarap proyek Goree Tower Senegal, dunia Internasional akan semakin yakin dengan kemampuan korporasi asal Tanah Air.

Selain itu, pengerjaan infrastruktur di luar negeri juga sangat berperan penting terhadap peningkatan devisa dari sisi ekspor jasa.

"Sebagai salah satu fiscal tools Pemerintah, LPEI, sesuai dengan mandatnya, akan terus melakukan unlocking potential market agar pelaku ekspor Indonesia dapat melakukan

penetrasi pasar ke negara-negara nontradisional dan meningkatkan kapabilitas eksportir untuk berkompetisi di pasar global," ucap Sinthya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More