Selasa 03 Desember 2019, 18:12 WIB

Ekowisata Mangrove Hadir di Tampara, Wakatobi

Rosmery Sihombing | Weekend
Ekowisata Mangrove Hadir di Tampara, Wakatobi

Dok. MI/Rosmery
Wisata di kabupaten di Sulawesi Tenggara itu makin lengkap dengan hadirnya wisata rekreasi edukasi, yakni ekowisata mangrove.

WAKATOBI telah lama dikenal karena keindahan laut dan pesisirnya. Kini, wisata di kabupaten yang terletak di Sulawesi Tenggara itu makin lengkap dengan hadirnya wisata rekreasi edukasi, yakni ekowisata mangrove di Desa Tampara.

Diresmikan Rabu (27/11), kawasan ekowisata ini tepatnya rerletak di Pulau Kaledupa, bagian selatan Desa Tampara memiliki tutupan hutan mangrove yang rapat. Total luas mangrove mencapai 37,5 hektar, dengan 9 jenis mangrove.

“Ekosistem mangrove yang sehat mendukung produktivitas perikanan. Selain itu, ekosistem mangrove juga memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan secara optimal terkait mata pencaharian berkelanjutan dan inisiatif yang menghasilkan pendapatan, termasuk ekowisata dan kegiatan rekreasi lainnya,” jelas Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Muhammad Ilman dalam rilis kepada Media Indonesia.

YKAN mendukung pembentukan kawasan ekowisata itu bersama dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Taman Nasional Wakatobi, dan First State IndoEquity Peka Fund. Kawasan iti dibangun dengan dilengkapi jembatan titian, pusat informasi dan penjualan cinderamata hasil karya warga setempat. Selain itu juga ada menara pantau apung untuk melakukan wisata pemantauan burung serta fasilitas perahu jika pengunjung berminat menyusuri kawasan mangrove.

Bagi peminat wisata pengamatan burung, hutan mangrove di Desa Tampara adalah rumah bagi 33 spesies burung. Khusus pada vegetasi mangrove dapat ditemukan burung-burung pergam, kacamata, cabai, kepudang, dan elang. Selain itu, di jalur mangrove juga dapat ditemukan burung Penggunting-laut belang yang berstatus rentan, serta Gajahan timur dan Kedidi besar yang berstatus genting, terutama saat surut dan di bagian yang berlumpur (International Union for Conservation of Nature, 2019).
 
Dengan segenap potensi alamnya, Desa Tampara bersiap menjadi desa wisata. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Taman Nasional Wakatobi, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang selama ini telah mendampingi kami. Ke depan, tentunya kami masih membutuhkan banyak dukungan, termasuk pendampingan teknis terkait pengelolaan dan pengembangan ekowisata di desa ini,” ujar Kepala Desa Tampara Sirajudin.

Sementara Camat Kaledupa Selatan La Salama berharap ekowisata itu dapat dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Desa.

“Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Wakatobi harus dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip konservasi. Oleh karenanya, dengan pendekatan wisata berkelanjutan dan kemitraan konservasi, akan menciptakan kegiatan wisata yang mendukung penghidupan berkelanjutan serta melindungi sumber daya alam, nilai tradisi, serta sosial budaya masyarakat,” tambah Kepala Seksi Wilayah II Taman Nasional Wakatobi La Fasa. (M-1)  

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More