Selasa 03 Desember 2019, 15:50 WIB

Kualitas Pengawasan Turun, DPR Mesti Tinjau Ulang Anggaran OJK

Raja Suhud V.H.M | Ekonomi
Kualitas Pengawasan Turun, DPR Mesti Tinjau Ulang Anggaran OJK

ANTARA/Basri Marzuki
Seorang penyintas bencana beraktivitas di Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Palu, Sulawesi Tengah.

 

KOMISI XI DPR RI diharapkan memeriksa kembali anggaran yang diajukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp6,06 triliun untuk tahun depan. Sebab, di tengah menurunnya kualitas pengawasan ke industri, OJK dinilai perlu fokus untuk melakukan pembenahan.

Piter Abdullah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/12)

"Sebaiknya diperiksa kembali, sebab pembagian anggarannya masih seperti birokrasi. Padahal, harus ada skala prioritas di tengah menurunnya kualitas pengawasan OJK ke industri," ujar Piter.

Baca juga: OJK Siap Bersinergi Dorong Pembangunan Sektor Prioritas

Menurut Piter, OJK seharusnya mengelompokkan posting anggaran, baik jenis pengunaan maupun besarnya anggaran. Sehingga transparan anggaran sebesar itu akan digunakan untuk keperluan apa saja.

Hal ini mendesak di tengah sorotan menurunnya kualitas pengawasan yang seharusnya menjadi tugas pokok OJK saat dibentuk dulu.

"Industri dan publik mesti tahu, misalnya seberapa besar anggaran untuk peningkatan kualitas SDM yang terkait pengawasan," tegas Piter.

Pekan ini Komisi XI DPR dijadwalkan akan memberikan keputusan apakah Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) sebesar Rp6,06 triliun yang diajukan OJK untuk tahun 2020 akan disetujui atau ditolak.

Seharusnya, kata Piter, anggaran OJK diprioritaskan untuk memperkuat pengawasan dan menambah tenaga pengawas, serta meningkatkan kapasitas pengawasan terintegrasi.

"Anggaran OJK harus lebih berat untuk pengawasan dan bukan acara seremoni," ujarnya.

Seperti diberitakan, saat ini OJK tengah membangun gedung baru yang pembiayaannya mengambil angggaran dari iuran industri. Hal ini menjadi ironi di tengah kasus yang sedang menimpa Asuransi Bumiputera, Jiwasraya, dan Bank Muamalat akibat lemahnya fungsi pengawasan.

Piter mengakui, tantangan OJK memang berat karena harus menggabungkan tiga budaya kerja, yakni budaya kerja BI, Bapepam-LK, dan Departemen Keuangan. Hal ini disinyalir membuat kualitas pengawasan OJK menurun. (Uud/A-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More