Senin 02 Desember 2019, 17:05 WIB

Alami Mimpi Buruk? Ternyata Ada Manfaatnya Lho!

Bagus Pradana | Weekend
Alami Mimpi Buruk? Ternyata Ada Manfaatnya Lho!

Unsplash/Ann Danilina
Orang-orang yang mengalami mimpi buruk bisa lebih siap menghadapi situasi stress.

Mimpi sekadar bunga tidur? Itu kata orang zaman dulu. Mimpi ternyata dapat membantu kita mempersiapkan diri menghadapi situasi tertentu. Itu menurut suatu riset kecil yang didanai pemerintah AS.

Para peneliti dari Swiss dan AS melakukan percobaan aneh terhadap 18 orang, dengan memasang elektroda untuk memantau aktivitas otak mereka di malam hari. Mereka menemukan sebuah pola menarik selama para responden yang mereka teliti mengalami mimpi buruk, seperti dilansir oleh dailymail.co.uk (29/11).

Para peneliti menemukan adanya aktivitas tinggi di daerah otak, yang disinyalir merupakan upaya bawah sadar untuk mengendalikan emosi. Merujuk pada temuan tersebut para peneliti menyimpulkan bahwa, pada orang yang mengalami mimpi buruk, daerah otak emosional mereka akan merespons lebih cepat dan lebih efisien daripada mereka yang tidak mengalami mimpi tersebut

Lampros Perogamvros, salah satu peneliti yang bekerja di Universitas Jenewa mengatakan, "Kami sangat tertarik pada rasa takut ketika seseorang mengalami mimpi buruk, area otak mana yang diaktifkan ketika kita mengalami mimpi buruk?"

Eksperimen pertama dalam penelitian ini merupakan inisiasi dari National Institutes of Health yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Human Brain Mapping, untuk membantu para peneliti mengidentifikasi fenomena mimpi buruk yang hadir di otak manusia secara real time.

"Dengan menganalisis aktivitas otak berdasarkan responnya, kami dapat mengidentifikasi dua wilayah otak yang terlibat dalam induksi rasa takut yang dialami selama mimpi, yaitu insula dan korteks singulata," terang Perogamvros.

Insula melepaskan respons rasa takut kita di saat-saat bahaya, sementara korteks cingulate mengendalikannya.

"Untuk pertama kalinya, kami telah mengidentifikasi korelasi saraf rasa takut ketika seseorang mengalami mimpi buruk, dan telah mengamati bahwa daerah yang sama dalam otak manusia diaktifkan ketika mereka mengalami rasa takut di kondisi tidur maupun terjaga," tambahnya.

Kesimpulan mereka adalah bahwa, sampai batas tertentu, mimpi buruk tampaknya bermanfaat, membantu menguatkan seseorang dalam menghadapi pengalaman yang menegangkan.

Eksperimen kedua membantu memahami dampak mimpi buruk secara psikologis maupun fisiologis terhadap otak manusia.

Virginie Sterpenich yang merupakan seorang peneliti Neuroscience di University of Geneva mengatakan, "Kami menunjukkan kepada setiap peserta gambar emosional-negatif, seperti penyerangan atau situasi yang menyedihkan... untuk melihat area otak mana yang lebih aktif merespon rasa takut, dan apakah area yang diaktifkan berubah sesuai dengan emosi yang dialami ketika bermimpi beberapa minggu sebelumnya."

Ternyata di luar insula dan korteks singulata, para peneliti melihat amigdala dan korteks prefrontal yang juga menunjukan aktivitas kerja pengendalian emosi.

"Kami menemukan bahwa semakin lama seseorang merasa takut dalam mimpi mereka, maka kerja dari insula dan cingulate-nya semakin sedikit. Berganti dengan amygdala, yang aktif ketika orang melihat gambar-gambar visual negatif. Selain itu, terdapat peningkatan aktivitas di korteks prefrontal medial untuk menghambat amigdala, ketika rasa takut mereka meningkat," tambahnya.

Meski begitu, para peneliti juga berkesimpulan bahwa mimpi buruk yang traumatis dan mengerikan berpotensi menyebabkan stres dan insomnia yang mungkin akan menjadikan seseorang kontraproduktif setelah mengalaminya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More