Senin 02 Desember 2019, 11:09 WIB

Serunya Perpaduan Tarian Betawi dan Balet

Siswantini Suryandari | Hiburan
Serunya Perpaduan Tarian Betawi dan Balet

MI/Siswantini Suryandari
Dari kiri ke kanan Atien Kasim, Yola Yulfianti, Andrew Greenwood dan Rusdy Rukmarata

 

KESENIAN Betawi merupakan perpaduan berbagai kebudayaan yang mendukungnya selama ini. Tarian Topeng Betawi misalnya, merupakan perpaduan antara Melayu, Tiongkok, Sunda yang membentuk karakter Betawi. Namun kini tarian Betawi akan dipadukan dengan balet dalam Telisik Tari Ballet At Batavia yang digelar oleh Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta.

Ballet At Batavia ini merupakan program saling silang balet dengan tarian Betawi yang digagas oleh Komite Tari DKJ sebagai apresiasi terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

"Program Telisik Tari Balet DKJ ini untuk mengajak seniman tari untuk lebih mengenal dan mengetahui bagaimana tari balet masuk ke Indonesia sevara kesejarahan, dan bagaimana peran tari balet terhadap perkembangan seni tari di Indonesia.

Yola Yulfianti selaku Ketua Komite Tari DKJ mengatakan program ini membaurkan batas yang ada dalam budaya Indonesia.

"Pembauran ini bisa memperkaya satu sama lain. Antara balet dengan Betawi, juha menghargai perbedaan yang ada di sekitar kita," kata Yola kepada wartawan, pekan lalu.

Ballet At Batawi ini didukung sejumlah koreografer handal. Atien Kisam adalah penari Betawi generasi ketiga. Kemudian Andrew Greenwood, koreografer, penari sekaligus pelatih balet dari Royal London. Penari asal Inggris ini kini bermukim di Belanda. Kemudian, Rusdy Rukmarata koreografer dari EKI Dance Company.  

Perpaduan antara gaya tarian Betawi dengan silat dan gerak dinamis dan kostum pakaian yang terang dan meriah khas Betawi, dipadukan dengan balet yang romantis dan lebih kalem. Rusdy Rukmarata mengatakan bahwa Indonesia memiliki beragam tari yang sangat berbumbu.

"Tarian-tarian di Indonesia itu sangat berbumbu. Jadi kalau dipadukan dengan balet, saya memberikan istilah balet sambal matah. Bisa dibayangkan enaknya sambal matah. Apalagi ini tarian akan sangat menarik," terang Rusdy.

Atien Kasim menambahkan tarian Betawi yang ia tampilkan sangat dinamis dan diyakini bisa disukai anak muda, anak milenial. Ia pun memodifikasi tarian Topeng Betawi yang semula sangat panjang, yakni dari 30 menitan menjadi 7 sampai 10 menit.

"Ini bisa menjadi pintu masuk mengenalkan budaya Betawi untuk anak muda," ujarnya.

Andre Greenwood akan mempersembahkan tarian Infinity tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Rusdy juga tidak ketinggalan mempersembahkan tarian balet dipadukan dengan tarian Betawi.

"Kebetulan Bang Atien dan Andrew, guru-guru tari saya," kata Rusdy.

Tarian-tarian tersebut akan dibawakan oleh para penari balet profesional dan pelajar SMKN 57, sebuah sekolah kejuruan yang khusus untuk mempelajari tarian.

Selain ada penampilan tari, juga diadakan lecture performance yang akan disampaikan oleh Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto. Acara akan digelar pada 6 Desember 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada pukul 19.00 WIB. Sedangkan pada siang hari pukul 13.30 WIB dilaksanakan diskusi bertemakan Mengapa ada Balet di Indonesia, dengan menghadirkan Bambang Bujono, Sonya Indriati Sondakh, Ardianti Permata Ayu, dan pembicara kunci Julianti Parani.

baca juga: Century Park Hotel-Satu Malam Penuh Kenangan di Penghujung 2019

"Ada peluncuran buku 80 Tahun Farida Oetoyo, untuk mengenang ibu Farida yang telah memperkenalkan balet di Indonesia. Usia sanggar balet yang dipimpinnya sudah berusia 70 tahun," kata Yola.

Farida Oetoyo adalah maestro balet Indonesia lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 Juli 1939 dan meninggal di Jakarta, 18 Mei 2014 pada umur 74 tahun. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More