Senin 02 Desember 2019, 06:00 WIB

Joker Pelajar, Tantangan Era Nadiem

Anton Suparyanta Product Leader BI-Mulok, PT Intan Pariwara, Klaten, Jawa Tengah | Opini
Joker Pelajar, Tantangan Era Nadiem

Dok.MI/Duta
Opini

BANALITAS dan kriminalitas pelajar selalu mencoreng wajah pendidikan ketika bangsa ini hendak mempertaruhkan gengsi capaian karakter. Terjadilah di telatah Kota Pendidikan, Yogyakarta. Bukan tawur, kelahi, atau demo massal, melainkan pelajar laki-laki (SMAN di Kabupaten Kulon Progo) menikam ibu gurunya (domisili Kabupaten Bantul) dengan bilah pisau berbumbu sembilu asmara (Detikcom, 20-23/11/2019). Ini fakta, bukan fiksi atau film. Jokerkah si pelajar?

Menelisik sisi lain, masih segar dalam ingatan tentang kasus pelajar SMP bunuh diri di Blitar, Jatim, beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan nilai UN jeblok yang berimbas gagal ke sekolah favorit. Padahal, pelajar SMP di Blitar tersebut berprestasi, lulus olimpiade pelajar. Di Klaten, Jateng, dan pelajar sebarak SMA elite di Magelang, Jateng, dibunuh teman dekatnya. Hal itu disebabkan klimaks dendam, iri hati.

Sepuluh pembunuh karakter

Perangai jokerian ini jauh hari diungkai Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan dari Cortland University, AS. Lickona merumuskan 10 tanda zaman yang menggila. Ancaman ini harus sigap dan urgen diwaspadai karena akan mengusung anak-anak bangsa menuju jurang kehancuran.

Kesepuluh ancaman itu ialah 1) peningkatan kekerasan atau banalitas di kalangan remaja atau masyarakat, 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk atau tidak baku, 3) pengaruh peer group (geng) dalam tindak kekerasan semakin tidak terkendali, 4) peningkatan perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) penurunan etos kerja, 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok, 9) membudayanya kebohongan atau ketidakjujuran, serta 10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antarsesama.

Kasus ini menjadi rapor merah pendidikan. Apalagi kiprah para pelajar terkini diklaim menderita degradasi mental atau krisis karakter. Lagi-lagi film Joker senantiasa menginspirasi. Kasus ini menjadi cacat pikir dan kontraproduktif terhadap penumbuhan karakter yang berawal dari sekolah. Penggalakannya perlu mendapatkan aksi nyata yang serius. Urgensi. Bukan hanya diwacanakan atau selalu dinarasikan dengan tataran peraturan menteri. Betapa gawat!

Sampai hari ini wajah bangsa dicap karut-marut. Kusut, kacau, rusuh, banyak bohong dan dusta. Opini dan wacana terlaris untuk konteks karut-marut ini ialah mengelap-lap karakter. Karakter bangsa diunggah. Karakter digosok lagi agar wingko katon kencono, bukan kencono katon wingko. Mengutip petuah Ir Soekarno, elan vital roh berbangsa harus dibangun-bangunkan, dibangkit-bangkitkan, dan dihidup-hidupkan kembali. Betapa tidak?

Bangsa kita telah terjebak lingkaran setan untuk berbuat dan bersikap. Bangsa kita telanjur hipokrit, asyik bermain labirin, sekaligus terperosok di dalamnya. Wakil rakyat meninggalkan aspirasi rakyat, menggagas negara demi kepentingan partai. Gerak-gerik penggagas bangsa jadi serbasalah dan keki. Ini menandakan ada sistem politik berbangsa yang jelas salah, tetapi nekat diakrabi. Labirin ini menjangkiti sendi-sendi ipoleksosbud hankamnas. Sayang, bangsa kita terlena. Teledor. Gagal mengawal kewaspadaan bersama.

Membangun karakter

Bukan setting-an. Presiden Jokowi memanggul ekspektasi tinggi terhadap perubahan karakter bangsa yang visioner integratif. Jokowi bertaruh dengan kaum muda milenial (kisaran usia 23-35) dalam jajaran staf khususnya. Saatnya berubah secara in radix.

Mari menanam budi pekerti. Mari menumbuhkan pribadi berkarakter. Ajakan akbar ini selalu mencuat dalam gelaran berbagai seminar yang bertema pendidikan karakter sebagai pilar kebangkitan bangsa. Mental anak bangsa telanjur anjlok dalam sistem karut-marut. Arus zaman edan ala neoliberalisme semakin menggila. Para wakil rakyat memilih sikap ewuh aya, hipokrit. Lucunya, semua underan karakter bangsa justru dikembalikan ke jati diri keluarga kita masing-masing selagi betah mengarungi rumah besar yang bernama Indonesia. Perlukah revolusi lagi manakala reformasi hanya gigit jari? Dasarnya gamblang bahwa wawasan rumah besar Indonesia itu jelas dituliskan dalam empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI).

Siapa lagi yang masih peduli, patuh komitmen, teguh militansi untuk membangun karakter yang ambruk ini kalau bukan ranah keluarga? Bukankah empat pilar kebangsaan kita sekarang ini hanya dijadikan aksesori belaka? Di kemanakan eksistensi integritas?

Membangun karakter berarti butuh proses. Ada usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan membentuk tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak insan manusia sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai Pancasila. Inilah moral dasar kita. Akan tetapi, mengapa disepelekan, dianggap remeh, gampang, dan kuno? Bahkan, ada pengemban kebijakan ranah pendidikan kita berusaha mendepaknya. Ambil satu contoh, budi pekerti yang disempurnakan dengan pendidikan moral Pancasila (PMP) dan pedoman penghayatannya (P4) 'dibunuh', meskipun kali ini masih tersiar PPKn yang direduksi menjadi PKn. Alih-alih, kini tertatih-tatih lagi dengan nama PKn dan budi pekerti. Benar-benar ibarat terserang sindrom sisifus dan penyakit kelainan joker pendidikan karakter untuk para intelek bangsa kita. Mendikbud Nadiem Makarim sudah pasang dialektika.

Jika kita benturkan ke kiprah pendidikan (karakter) bangsa, ternyata banyak hamparan contoh kasus yang mencolok mata. Kasus itu pun transparan menyembelih karakter. Tidak pandang bulu dari kaum elite wakil rakyat (punggawa negara), golongan pejabat, pendidik, pengajar, pengusaha, penegak hukum, ulama, kaum religius, tokoh masyarakat, hingga para pelajar yang digadang-gadang sebagai tunas bangsa; justru dikebiri lebih dini. Sayang, barisan intelek dan cendekia bangsa diberangus, ditutupi slogan semata. Dampaknya diperparah keteladanan nasional yang diamuk krisis. Kepemimpinan negara hilang wibawa. Karisma bangsa sengaja disingkirkan. Hampa penghargaan. Pembiaran prestasi. Hasilnya, bangsa kita tidak lebih dari sosok bangsa hipokrit.

Lantas bagaimana mungkin karakter bangsa digebyah-uyah lagi? Lantaran telah banyak perilaku menyimpang menyeruak ke publik. Misalnya, berkali-kali di jenjang pendidikan SD hingga SMA selalu terjadi perundungan atau bullying (ulah kekerasan, mendorong, menjotos, memalak, menyindir, menghina, dan perlakuan kasar si kuat kepada si lemah), komunitas KKN yang melembaga, bohong massal, tawuran, transaksi narkoba antarpelajar, hingga kasus video kekerasan dan video porno.

Perilaku menyimpang ini pun menerpa penegak hukum, pejabat, dan pendidik. Antisipasinya, pemerintah terlambat menggagas pemberlakuan pendidikan karakter di seluruh jenjang pendidikan. Menganggapnya remeh. Bahkan, Pemerintah pun terengah-engah menggulirkan pendidikan karakter untuk antikorupsi. Pasalnya, milieu korupsi dan hate speech sudah menjadi tabiat kolektif, membudaya, dan menggurita di elite politisi.

Oleh karena itu, fakta kolektif kita gagal menjadi insan manusia terdidik di tengah pusaran hidup yang mondial ini. Utopis mengelap-lap membangun karakter bangsa yang dijiwai kebinekaan. Kita gagal mengapresiasi diri karena miskin integritas, miskin kepribadian, dan telanjur malu buat becermin. Akibatnya, kita selalu gatal terhadap karakter bangsa yang ngungunan, kagetan, kemaruk, kesetanan, dan konsumtif?

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More