Senin 02 Desember 2019, 05:20 WIB

Limbah di Tangan Pengawal Tradisi

(Furqon Ulya Himawan/N-2) | Nusantara
Limbah di Tangan Pengawal Tradisi

MI/FURQON ULYA HIMAWAN
Mbah Samidjan, pelestari tradisi yang mengolah limbah plastik menjadi Wayang Purwo saat difoto di kediamannya di Karangwaru Lor

 

PAGI beranjak siang ketika Mbah Samidjan merapikan potongan bonggol bambu yang berserakan di depannya. Sejak fajar datang, ia sudah memotong dan menyerut bambu yang dia dapatkan dari pinggir sungai itu. "Ini nanti untuk pegangannya," ujarnya sambil menunjukkan bambu yang sudah dia serut.

Selain bambu, pria yang sudah berusia 68 tahun itu bergelut dengan sampah plastik. Karena itu, warga menjuluki dia dokter bedah plastik.

Bukan tanpa alasan. Di tangannya, sampah plastik disulap menjadi barang yang memiliki nilai. Tidak hanya ekonomis, tapi juga ekologis dan adiluhung. "Saya mengumpulkan limbah plastik dan bambu ini untuk dibuat wayang," akunya.

Rumah Mbah Samidjan di kawasan Karangwaru, Kota Yogyakarta, pun menjadi laboratorium untuk mengolah sampah menjadi barang yang bermanfaat. Ruang tamunya yang berukuran 3,5 x 5 meter tampil layaknya galeri seni, dengan banyak karakter wayang purwo bertengger di dindingnya.

Wayang unik pria itu membuatnya dikenal di kalangan dalang dan warga biasa. Tidak sedikit dalang yang membeli atau meminjamnya untuk dipentaskan.

Apresiasi juga diberikan Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, pada 2018, dengan memberikan penghargaan Kalpataru tingkat kota dan provinsi kepada Samidjan.

Pria asal Kabupaten Gunung Kidul itu mencintai wayang purwo sejak kecil. Cerita dari ibunya tentang sosok dan tokoh pewayangan membuatnya terus teringat hingga dewasa.

Meski ibunya sering meminta Samidjan kecil untuk sekolah pedalangan, keinginan itu tak pernah kesampaian. "Kakek dan paman saya dalang. Saya hanya belajar dari dongeng Ibu dan setia menonton pergelaran."

Tidak menjadi dalang bukan soal. Kecintaan Samidjan kepada budaya Jawa itu dia alihkan dengan membuat wayang.

Kemampuannya sudah terasah sejak kecil. Saat itu, ia membuat wayang purwo dari kardus. Bahan itu mudah rusak jika terkena air.

Setelah itu, anak bungsu dari delapan bersaudara tersebut sempat bereksperimen dengan membuat wayang dari limbah seng bekas. Namun, setelah jadi, wayang seng berisiko karena saat dimainkan, bisa melukai kulit.

Akhirnya, ia memilih limbah plastik. Ratusan tokoh wayang sudah dibuat. Samidjan mengaku senang dan bangga bisa berkarya dan akan terus berkarya. "Kebanggaan saya bisa ikut melestarikan seni tradisional, sekaligus menjaga lingkungan dengan melakukan pemanfaatan limbah plastik," lanjutnya. (Furqon Ulya Himawan/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More