Minggu 01 Desember 2019, 10:39 WIB

Berhenti Merokok Cara Efektif Cegah Kanker Paru

Siswantini Suryandari | Humaniora
Berhenti Merokok Cara Efektif Cegah Kanker Paru

MI/Siswantini Suryandari
dr Sita Andarini SpP mengungkapkan kecenderungan jumlah perokok di Indonesia terus meningkat.

 

JUMLAH perokok di Indonesia diprediksikan meningkat pada 2020. Hal ini juga bisa berdampak pada beban kesehatan. Sita Andarini dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan Jakarta mengatakan tren saat ini terjadi peningkatan jumlah perokok di Indonesia.

"Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok tertinggi ketiga setelah Tiongkok dan India," kata Sita saat memaparkan kanker paru ALK+ dalam rangka memperingati bulan kanker paru sedunia.

"Pada tahun 2020 diprediksi jumlah perokok mencapai 73,09%. Jumlah ini diprediksikan meningkat terus. Dan dari survei menunjukkan bahwa prevalensi efek rokok pada 20 tahun mendatang meningkat," kata Sita dalam diskusi yang diselenggarakan  Indonesia Cancer Information and Support Center Association, akhir pekan.  

Tingginya perokok di Indonesia, juga bisa dilihat berapa besar orang menggunakan uangnya untuk membeli rokok. Sita menyebutkan berdasarkan hasil survei disebutkan bahwa 11,5% penghasilan orang Indonesia untuk membeli rokok. Sita mengingatkan bahwa risiko rokok ini cukup besar terhadap penyakit kanker paru.

"Sampai sekarang ini belum ditemukan alat deteksi kanker paru. Gejala kanker paru tidak terdeteksi. Bahkan banyak orang menyangka seperti batuk orang TBC," tambahnya.

Batuk selama dua minggu tak berhenti, kadang berdahak kadan tidak, berkeringat di malam hari, dan nyeri dada.

"Berat badan menurun, kadang sesak napas dan sering terdengar bunyi ngik karena napas yang berat," ujar Sita.

Belum adanya deteksi dini kanker paru ini, umumnya para pasien yang datang ke dokter sudah dalam keadaan stadium lanjut. Di Indonesia sebetulnya sudah ada alat untuk mendeteksi kanker paru ini dengan melakukan genotyping atau tes EGFR.

Tes mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) Circulating Tumor DNA. Sebab, tes ini akan mempermudah penentuan jenis obat yang tepat bagi penderita kanker paru-paru. Di Indonesia, tes tersebut baru bisa dilakukan di 7 rumah sakit, yakni di Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Sementara di Jepang, ada 6000 laboratorium yang bisa melakukan tes EGFR ini.

Sebelumnya dr Evlina Suzanna spesialis patologi anatomi dari RS Kanker Dharmais mengatakan bahwa paru-paru lebih lembut daripada kornea mata. Apabila mata terpapar asap seringkali pedih dan mengeluarkan air mata. Sama halnya dengan paru-paru yang sangat lembut itu tiap hari terpapar asap rokok dengan rata-rata 24 batang sehari.

"Ya bisa dibayangkan bagaimana kondisi paru-paru. Sampai sekarang kesimpulan dari kanker paru-paru dipicu dari gaya hidup. Itu 95% gaya hidup, sedangkan 5% genetik. Apalagi sampai sekarang belum ada teknologi yang bisa mendeteksi dini kanker paru," terang Evlina.

baca juga: Majelis Taklim tidak Diwajibkan Mendaftar ke Kemenag

Untuk itu cara paling efektif mencegah kanker paru-paru adalah tidak merokok, tidak menghirup polutan, dan menjaga paru-paru tetap sehat.Ia menambahkan rokok eletrik yang saat ini marak juga sama bahayanya dengan rokok konvensional.

"Apalagi sekarang ini pencemaran udara makin memperburuk kualitas kesehatan. Umumnya mereka yang terkena kanker paru berusia di bawah 45 tahun, umumnya adalah perokok pasif," kata Evlina.

Untuk itu satu hal yang paling utama untuk mencegah terjadinya kanker paru adalah tidak merokok. Lingkungan sekitar harus mendukung terciptanya lingkungan bebas asap rokok. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More