Minggu 01 Desember 2019, 08:20 WIB

Tidak Semua Bisa seperti Bali

Fathurrozak | Weekend
Tidak Semua Bisa seperti Bali

MI/PERMANQA
Travel Bloger Marischka Prudence.

TIAP bulan melakukan dua hingga tiga kali perjalanan, Marischka Prudence mengungkapkan jika Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, terlebih untuk wisata laut dan pantai. Meski begitu, ia menilai promosi wisata saja tidak cukup untuk mengangkat wilayah-wilayah itu. Pemerintah pusat maupun daerah juga harus menyiapkan infrastruktur pendukung.

Dari beragam pengalaman dan informasi yang didapatnya, Pru menilai kelambatan pembangunan infrastruktur juga akibat kurangnya koordinasi antarpemerintah.

Ia pun berpendapat, setiap destinasi perlu diperlakukan secara berbeda-beda. Meski memang tujuan meraih pendapatan merupakan hal yang penting, semestinya tidak serta-merta berpatokan pada tingginya jumlah pengunjung. Sebab itu, ia melihat, tidak semua tempat bisa diperlukan seperti Bali.

“Gue sebenarnya enggak suka dengan terma New Bali. Enggak semua bisa di-push sama dengan Bali. Ketahui dulu destinasinya, untuk market yang seperti apa. Sekarang semua berlomba-lomba targetnya ialah milenial. Kalau di luar negeri, ada destinasi wisata yang misalnya memang dikhususkan untuk dikunjungi orang-orang tua. Jadi membangun fasilitasnya juga disesuaikan,” tutur adik mantan presenter Chantal Della Concetta ini.

Ia juga menyinggung kebanyakan tempat wisata yang kini memasukkan unsur aksi foto. Padahal, tidak jarang, aksi foto atau anjungan foto yang dibuat tidak relevan dengan lokasi wisata tersebut. Bahkan, ada pula anjungan-anjungan foto yang justru membuat keindah an alamiah justru tersingkir.

 

Eksperimen warna rambut

Selain bertualang, kegemaran Pru yang sangat mudah dikenali ialah eksperimen warna rambut. Ia mengaku sudah melakukan hal itu sejak SMA.

“Sebenarnya kalau gue sendiri sudah sering banget warnai rambut dari SMA. Ya bisa dibilang bandel, sampai dimarahi guru. Kalau sudah gitu ya dihitamin lagi, terus diwarnai lagi, meski belum dengan pilihan warna yang ekstrem,” tukasnya.

Kebiasaan itu juga berlanjut saat ia menjadi jurnalis di Metro TV. Ketika mendapat teguran, lalu ia warnai lagi menjadi hitam. Ketika ia keluar dari industri media dan kini bekerja sebagai travel blogger, ini menjadi kesempat annya mengekspresikan eksperimen warna rambut. “Mulai dari ombre, sebagian pink, hijau, biru. Dan pas full banget itu pertama kali grey. Diwarnai lagi jadi ungu, terus biru. Kalau senang warnai rambut sudah dari dulu memang.”

Ia hanya mengandalkan perawatan dengan menggunakan kondisioner dan hair mask. Saat ini, ia pun mewarnai rambut tiap enam bulan sekali. Sebelumnya, ia bisa rutin tiap empat bulan sekali. (Jek/M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More