Minggu 01 Desember 2019, 08:00 WIB

Marischka Prudence, Esensi Blog Adalah Berbagi

Fathurrozak | Weekend
Marischka Prudence, Esensi Blog Adalah Berbagi

MI/PERMANA
Travel blogger, Marischka Prudence

DENGAN ciri khas rambut warna-warni, Marischka Prudence bertandang ke Kantor Media Indonesia, Kamis (21/11), di Kedoya, Jakarta. Menjadi tamu dalam program Media Visit-Media Indonesia Weekend, kunjungan ke kompleks Kantor Media Group itu juga terasa nostalgia baginya.

Sebelum memutuskan untuk berprofesi penuh sebagai bloger pejalan, perempuan yang akrab disapa Pru ini merupakan jurnalis dan pembawa berita di Metro TV. Pada 2012, Pru yang memang gemar bertualang memutuskan untuk undur diri dan kini telah menjadi salah satu travel blogger papan atas Indonesia.

Meski kini juga aktif di Instag ram dan Youtube, Pru tetap konsisten mengisi blognya yang berjudul Life Is An Absurd Journey. Baginya, blog merupakan platform yang cocok untuk menampilkan informasi yang detail. Sebab itu pula, blog akan tetap menjadi referensi bagi pembaca yang membutuhkan informasi mendalam.

“Orang akan balik ke blog karena akan dapat secara mudah informasi yang mereka perlukan. Di Youtube bisa saja ada yang terlewat ketika menonton video, harus dimundurin, dan dicari di menit berapa misalnya. Sementara itu, di blog, ya tinggal gulir (scroll). Itu kelebihan blog yang belum bisa digantikan. Pada level tindakan memang berbeda,” tutur perempuan berusia 35 tahun ini.

Memang, terlihat dari unggahan pada blognya, Pru selalu menampilkan tulisan baru setiap bulan. Meski begitu, intensitas unggahannya tampak tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini pun diakui olehnya. Ia mengaku pada 2015-2017, rata-rata mengunggah 10 tulisan per bulan.

“Sekarang, satu saja kayaknya effort. Ini juga karena kecenderungan shifting, orang makin sulit mencerna tulisan panjang. Begitu pula penulisnya saat tidak mencerna tulisan panjang dan kebiasaan nulis caption yang pendek. Gue berusaha komitmen dengan diri sendiri. Intensitas di blog boleh berkurang, cuma jangan sampai hilang. Tetap harus diisi,” yakinnya pada diri sendiri.

Tidak hanya soal intensitas, Pru juga meng akui tantangan soal menjaga orisinalitas. Baginya, orisinalitas justru menjadi cara jitu untuk menghadapi kemunculan travel blogger baru. Ia sendiri memilih orisinalitas yang berpegang pada esensi dari blog, yakni sesungguhnya merupakan platform berbagi, bukan sekadar untuk eksistensi atau popularitas.

“Makin banyak pelakunya, makin ada tren. Orang terbawa kontennya harus ‘seperti ini’, yang dibangun orang ialah yang diingini pasar. Pendapat gue, inti kita blogging ialah sharing. Tidak memiliki anggapan supaya bisa dilihat banyak orang,” jelas perempuan yang menilai ciri khasnya dalam tulisan informatif. Hal itu tidak terlepas dari latar belakang sebagai jurnalis. Gaya informatif itu juga diterapkannya pada foto. Selain itu, ia juga menekankan sisi estetika. Ini diakuinya merupakan pengaruh dari latar belakang pendidikan di fakultas seni rupa.

 

Tidak perlu rebutan kue

Seiring waktu, cara Pru dalam menyampaikan kisah-kisah perjalanannya juga berubah. Menurutnya, cross platform mutlak dilakukan.

Ia pun kini lebih aktif mengunggah kisahkisah dan foto perjalanannya di Instagram dan di kanal Youtube-nya. Baginya, tiap platform memiliki poin masing-masing. Di Instagram, dinilai lebih mudah dan cepat untuk interaksi. Selain itu, Instagram dapat menjadi pintu untuk mengarahkan orang mengunjungi blog.

Menjadi sosok yang sudah cukup senior di dunia bloger, Pru tidak segan untuk menyemangati mereka yang ingin memulai. Ia sama sekali tidak khawatir kalah saing sebab yakin jika pasar pembaca sangat terbuka luas.

“Jadi gue selalu bilang sama yang baru mau memulai, jangan takut. ‘Kue’-nya masih banyak. Enggak usah rebutan, akan ada banyak ‘kue’ yang punya pasarnya sendiri-sendiri,” tegas perempuan yang menjadikan Misool, Papua Barat, sebagai destinasi wisata favorit.

 

Like Instagram

Boleh dikatakan, salah satu parameter untuk mengukur popularitas para pemenga ruh (infl uencer) di media sosial ialah dengan melihat jumlah pengikut dan jumlah klik suka di tiap unggahan. Beberapa waktu belakangan, muncul wacana akan dihilangkannya jumlah suka (like) pada unggahan oleh perusahaan Instagram. Ketika ditanya mengenai hal itu, Pru merasa tidak terganggu dengan hilangnya jumlah suka dalam unggahan.

Baginya, ini menjadi pekerjaan rumah untuk mereka yang bekerja di agensi ketika mencari para infl uencer. Menurut Pru, usaha mereka bisa lebih jauh lagi, bukan sekadar melihat jumlah suka, justru bisa melihat parameter yang lebih nyata. “Mereka yang butuh parameter saat mau cari key opinion leader (KOL).

Mereka akan cari engagement dengan melihat dulu dari jumlah likes. Kalau dari kita atau mungkin gue ya lumayan senang saja, dibi lang enggak ada tekanan, iya juga. Hilangnya jumlah likes banyak mengurangi tekanan karena orang juga cenderung mengunggah yang banyak disukai,” pungkasnya. (M-1)

_______________________________________________________

BIODATA

MARISCHKA PRUDENCE

 

Tempat, Tanggal Lahir

Bandung, 27 Juli 1984

 

Profesi

 Travel blogger, vlogger, social media influencer.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More