Minggu 01 Desember 2019, 05:20 WIB

Danau Toba dalam Sajak Sitor Situmorang

Galih Agus Saputra | Weekend
Danau Toba dalam Sajak Sitor Situmorang

MI/Caksono
Ilustrasi

RUPA sawah, gunung, danau, hutan, rumah adat, dan petani itu terpampang jelas di layar lebar Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Gambir, Jakarta. Sementara itu, suara seruling dan gendang bersautan, mengi­ringi sajak Zia­rah karya Sitor Situmorang yang dibacakan Martahan Sitohang di atas panggung.

“Hutan, rawa, suaka, flora dan fauna, tempat rusa berkumpul, gajah, harimau, kijang, dan simawang, kini tak jumpa,” serunya.

Pembacaan sajak Sitor itu sendiri menjadi salah satu pembuka acara peluncuran buku Angin dan Air Danau Toba: Kumpulan Sajak Sitor Situmorang. Pembina Yayasan Sitor Situmorang, Gulontam Situmorang, mengatakan bahwa kegiatan itu diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian yayasan terhadap kerusak­an hutan di kawasan Lintong, yang sejak dahulu menjadi hutan lindung, wilayah tangkapan air, sekaligus daerah yang sangat dicintai Sitor.

Dalam acara itu, hadir sebagai pembicara, pengajar filsafat seni dan estetika FIB Universitas Indonesia, Embun Kenyowati, dan sastrawan Afrizal Malna. Keduanya lantas dipandu moderator yang kebetulan juga Sastrawan, Zeffry Alkatiri, dalam diskusi bertajuk Sastra dan Ekologi: Membaca Keindahan dan Kerusakan Danau Toba serta Hutan Gerilya Sisingamangaraja XII di Lintong Toba dari Sajak-Sajak Sitor.

Lingkungan dalam puisi

Embun sendiri, dalam kesempatan menyampaikan pendapat tentang kumpulan sajak Sitor Situmorang, mengaku teringat Timothy Morton dengan karyanya, Ecolo­gy without Nature. Dalam karya itu, Morton menjelaskan tentang lingkungan, terutama yang tercatat dalam karya sastra berupa puisi. Sebagian besar karya yang disoroti dianggap menjadi bagian dari era romantis, dan sebagaimana diketahui Embun, banyak pula sastrawan Indonesia yang turut mengikuti aliran tersebut. Dalam artian tertentu, karya sastra seperti itu turut mengingatkan manusia bahwa alam ini sebenarnya sangat indah, tapi dalam fakta lain juga membuai kenyataan bahwa telah terjadi perubahan secara drastis.

“Saya ketika membaca Morton lalu berpikir, apakah kita tidak boleh membaca puisi-puisi yang bercerita tentang alam? Sebab jika tidak, nanti bagaimana generasi mendatang akan tahu bahwa dulunya alam betul-betul indah? Jadi dari situlah saya lalu membahas bagaimana hubung­an antara puisi dan lingkungan dalam beberapa istilah yang mula-mula diawali dengan empat paradoks,” tuturnya.

Adapun paradoks itu sendiri, lanjut Embun, terdiri atas paradoks estetis, keindahan, keindahan alam, dan romantia. Menurut Embun, estetis selama ini kebanyakan hanya dipahami sebagai keindahan. Padahal, ia berhubungan dengan proses indriawi manusia terkait dengan persepsi hingga perasaan yang kemudian turut memunculkan suatu bentuk penilai­an, yang pada akhirnya ikut memunculkan nilai-nilai tertentu. Misalnya, ketika seseorang memembaca puisi atau melihat alam, ia akan merasakan hal tersebut, tetapi masalah penilaian itu sendiri juga tidak melulu berkaitan dengan hal-hal yang indah, karena seseorang bisa merasakan efek lain termasuk kerusakan.

Kedua, terkait dengan paradoks dan pengalaman keindahan, kata Embun, sifatnya sangat otonom. Ia tidak dapat diukur atau dibuat universal karena sangat subjektif yang bisa saja menuntut sesuatu yang indah maupun sebaliknya. Tentang paradoks keindahan alam, sebagai objek yang sifatnya sangat relatif, Embun menjelaskan bahwa ia kembali lagi, tidak dapat dipakemkan karena tergantung pada pengalaman masing-masing.

Sementara itu, terkait dengan paradoks romantis, Embun yang menyitir ungkapan Morton lantas menjelaskan bahwa romantisme sendiri pada dasarnya lahir dari asumsi awal yang membuai persepsi manusia sehingga membentuk dunia imaji tentang alam dan melalaikan tentang fakta lain bahwa alam sebenarnya sudah rusak.

“Kalau kita sebut tentang alam, imajinasi kita tentu akan mengarah pada semua yang masih hijau, atau masih asri, tapi nyatanya telah ada kerusakan. Jadi ketika membaca karya Angin dan Air Danau Toba, saya lantas dapat mengemukakan beberapa teori dan hubungannya dengan lingkungan,” terang Embun.

Unsur lokalitas

Embun selanjutnya ketika membahas masalah seniman dan lingkungan tidak lagi menggunakan pendekatan meta-ecokritik atau sebagaimana terlihat kala mengemukakan paradoks. Sebaliknya, ia menjabarkan tiga teori tentang deteritorialisasi, sense of place, dan ecomimesis.

Apa yang dimaksud dengan deteritorialisasi, katanya, apabila dirujuk dari pandangan Deleuze dan Guattari dalam A Thousand Plateaus (1987), dapat dimengerti sebagai pelemahan ikatan antara budaya dan tempat atau geografis dari sisi antropologis.

Konsep deteritorialisasi selanjutnya dapat dimengerti sebagai fenomena melemahnya hubungan antara manusia dengan asal-usulnya. Hal ini juga sering terjadi pada seniman di era modern, yang karena pengaruh studi Barat dan globalisasi, lalu cenderung meninggalkan wilayah--terkait inspirasi karyanya sehingga berkurang unsur lokalitasnya.

“Tetapi hal ini tidak terjadi pada Sitor Situmorang (meskipun beliau telah melanglang buana ke Eropa), baik secara formal melalui bentuk-bentuk puisi maupun isinya,” imbuh Embun.

Begitu juga dengan sense of place atau semacam sense of belonging. Sajak-sajak Sitor Situmorang juga masih lekat dengan pandangan tersebut. Apa yang terkandung dalam karyanya, menurut Embun, bahkan seperti apa yang telah diutarakan Maestro Sastra, Pramoedya Ananta Toer, dalam Kata Pengantar yang ditulis JJ Rizal, yaitu tentang puisi geografis.

Berangkat dari pandangan itu pula, lantas tampak sesuai dengan apa yang diutarakan Morton tentang tujuh kategori ecomimesis. Adapun tujuh kategori tersebut meliputi, pertama, kondisi geografi tentang bumi dan tanah; kedua, topografi tentang lokasi dan tempat; ketiga, chorografi tentang negara dan asal-usul; keempat, kronografi atau tentang konteks dan waktu; kelima, hidrografi atau terkait air; dan keenam, anemografi atau tentang angin; serta ketujuh, terkait dendrografi atau segala hal yang terkait dengan pepohonan.

“Dari hubungan tersebut tampaklah bahwa puisi-puisi dalam kumpulan Angin dan Air Danau Toba sangat lekat dengan ecomimesis tersebut,” tutur Embun. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More