Sabtu 30 November 2019, 22:57 WIB

Melongok Geliat Pariwisata di Negeri Ikan Paus

Alexander P. Taum | Nusantara
Melongok Geliat Pariwisata di Negeri Ikan Paus

MI/Alexander P Taum
Festival tiga gunung di Lembata

 

LIMA Tahun pertama memimpin Lembata, 2015 lalu, banyak kalangan menilai, kebijakan pembangunan yang didorong oleh Bupati Eliazer Yentji Sunur hanya dagelan belaka.

Rakyat tidak percaya, bahkan menolak gagasan Eliazer yang menetapkan Pariwisata Lembata sebagai leading sector pembangunan.

Penolakan itu terjadi ditengah gemuruhnya keluhan rakyat akan buruknya infratsruktur jalan, air dan listrik yang masih jauh tertinggal.

Ditambah lagi, Lembata dalam konstelasi Pemerintahan Nasional pun masuk kategori daerah tertinggal. Pemerintah justru menggelontorkan anggaran yang sangat besar untuk menata seckor pariwisata. Hal yang sangat jauh dari pikiran rakyat Lembata yang rata-rata hidup dari sektor pertanian itu.

Namun dua periode memimpin Lembata, Eliazer memiliki tekad kuat memajukan sektor pariwisata Lembata. Festival tiga Gunung jadi ikon even tahunan. Festival ini menjadi bagian dari kalender event Kementerian Pariwisata.

Baca juga : TNI AL dan Tim Terpadu Tangkap Pelaku Bom Ikan di Flotim

"Event yang masuk CoE WI itu kriterianya dilihat dari cultural values, comercial values, dan konsistensi. Jadi sudah dilakukan berapa tahun, dengan report yang bagus. Baik itu direct dan indirect impact," ujar Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Kebudayaan Taufik Rahzen.

Untuk bisa bertahan dalam CoE WI, event harus berkelanjutan. Harus bisa menerapkan pengelolaan pre-event, on event, dan post-event. Itu karena berkaitan dengan dukungan para sponsor agar memberikan nilai untung dan memberikan keuntungan.

"Sehingga penyelenggaraan event benar-benar berkualitas. Tidak asal-asalan sehingga tidak memberikan efek apapun pada ekonomi masyarakat," ujarnya.

Bupati Eliazer mengibaratkan pariwisata sebagai gerbong yang menarik aspek penghidupan yang lain. Jika objek wisata itu bagus, dengan sendirinya infrastruktur akan ikut-ikutan baik.

"Jadi kita ingin jalan baik, jangan buat jalan saja, tetapi jalan yang baik itu seharusnya tidak hanya menghubungkan pemukiman saja, tetapi juga menghubungkan rakyat dengan objek pariwisata unggulan kita. Ada dampak ikutan yang ditimbulkan oleh jalan bagus itu,” ujar Eliazer, kapada media Indonesia pekan lalu.

Sejumlah program digempur. APBD II Kabupaten satu pulau itupun dikuras. Alhasil, tercipatalah sebuah ikon pariwisata baru di Lembata, Bukit Cinta Lembata.

Tak hanya itu, Tiga Gunung berapi yang selama ini aktif pun kini menjadi ikon Pariwisata Lembata yang mulai dikenal publik. Beragam cara dilakukan Pemerintahan Eliazer Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday guna mendorong pengembangan sektor pariwisata.

Dalam kesempatan puncak festival tiga Gunung di Lembata, Direktur Utama Bank NTT, Isak Eduard Rihi, siap membantu mendatangkan wisatawan ke Lembata, NTT.

Pada 2020, Bupati Eliazer Yentji Sunur mengatakan, pengembangan pariwisata akan diprioritaskan pada daerah daerah yang punya potensi. dengan cara mengubah teknik menjualnya, salah satunya dengan mendatangkan grup musik besar tanah air.

Baca juga : Empat Kabupaten di Flores Jadi Laboratorium Moderasi Agama

"Misalnya, pada hari puncaknya, bisa Slank tampil di BCL, kan luar biasa. Bisa jadi dari Mataram datang, Timor Leste juga datang, disitu partisipasi, hotel kasih diskon," ujarnya.

Setelah membangun Bukit Cinta, Bukit Doa dan sejumlah Fasilitas penunjang pariwisata buatan tangan manusia, kini pemerintah kabupaten Lembata pun mulai melirik pembangunan pariwisata di pulau Siput, Awololong.

Anggota Komisi 3 DPRD Lembata, Petrus Bala Wukak, kepada Media Indonesia mengatakan, sejumlah pembangunan objek wisata di Lembata termasuk objek wisata buatan manusia adalah investasi jangka Panjang, tetapi warga sudah mulai menikmati hasilnya, seperti di bukit cinta, bukit doa dan pantai Mutiara.

"Rakyat mulai manfaatkan dan mulai menikmati keuntungan secara ekonomis. Kita berharap kedepan objek-objek wisata yang dibangun pemerintah memberi dampak ekonomis kepada rakyat, tentu dalam jangka Panjang,” ujar Bala Wukak. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More