Minggu 01 Desember 2019, 03:00 WIB

Eddy Kristianto: Mengolah Herbal Menjadi Penawar

Bagus Pradana | Weekend
Eddy Kristianto: Mengolah Herbal Menjadi Penawar

MI/SUMARYANTO BRONTO
Eddy Kristianto bersama istri, Renny ­Limarga

EDDY Kristianto ialah seorang dokter yang sadar akan manfaat tersebut. Selepas lulus kuliah kedokteran, Eddy bertekad untuk mengabdikan di daerah pelosok Indonesia. Setelah menikah, Eddy bersama sang istri memutuskan untuk pergi ke salah satu desa di Kalimantan Barat, yaitu Desa Rawak, untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan karakter bagi warga.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan, Eddy menyaksi­kan pelayanan kesehatan yang masih sangat jauh dari standar, ketersediaan obat-obatan pun tidak memadai. ­Keterbatasan itu akhirnya memaksanya untuk belajar mengolah tanam­an herbal sebagai obat.

Selama empat tahun, Eddy masuk-keluar hutan di pelosok Kalimantan, dari situ kemudian timbul keinginannya untuk meneliti tanaman herbal. Ia pun belajar mengenai herbal di Tosashimizu Hospital, Jepang, selama dua tahun. Saat kembali ke Indonesia, ilmunya itu ia asah terus dengan melakukan penelitian tentang berbagai jenis herbal yang layak konsumsi.

Pada 2006, sang istri, Renny ­Limarga, didiagnosis terkena autoimun. Renny mengalami kekurangan enzim sehingga kekebalan tubuh menyerang dirinya sendiri. Renny sering mena­ngis kesakitan karena penyakitnya itu.

“Saya kena autoimun itu 2006, tiap orang ciri-cirinya beda ya, saya waktu itu diawali dengan alergi di kulit, alergi yang parah sekali dan berlanjut hingga menyerang sendi-sendi sehingga semua sendi sakit, bahkan otot dipegang saja sakit,” cerita Renny dalam acara Kick Andy, kemarin.

Berbagai jenis pengobatan telah dijalani Renny setelah ia mendapatkan diagnosis tersebut, tetapi tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Demi kesembuhan sang istri, selama empat tahun Eddy meneliti manfaat madu hutan. Jerih payahnya berbuah manis, hingga akhirnya ia menemukan madu hutan yang kaya akan ­enzim dengan proses fermentasi.

Eddy menambahkan, sebenarnya penelitian ini dilakukan sejak 2006, ketika istrinya sakit. Dia kemudian ­ingin memberikan sesuatu yang terbaik, yaitu penelitian. Kemudian, dia menemukan enzim itu ada di dalam madu hutan. Itu pun tidak dari semua hutan di Indonesia. Dia bisa mendapatkan madu hutan asli dari Kalimantan yang paling kaya enzimnya yang kemudian ditelitinya. Madu itu diberikan kepada istri, tetapi tidak ada hasilnya. “Saya baru sadar ternyata ada sesuatu yang membuat enzim itu tidak aktif di tubuh manusia, tapi hanya berfungsi di tubuh lebah. Kemudian, saya baru ingat waktu saya belajar di Jepang dulu, rupanya ada ikatan lipo-protein yang menyebabkan itu tidak aktif, dan enzim itu bisa diaktifkan dengan fermentasi. Saya lakukanlah fermentasi dengan beberapa metode, saya kasih ke istri saya dalam waktu dua minggu semua gejala lalu mengalami remisi,” Cerita Eddy.

Saling melengkapi

Meskipun dirinya merupakan ­seorang dokter yang selalu berurus­an dengan obat-obatan kimia, hal itu tidak mengurangi kepercayaan Eddy terhadap khasiat tanaman herbal terhadap kesehatan. Ia percaya antara pengobatan herbal dan pengobatan konvensional, keduanya bisa saling melengkapi.

Sejak 1993, Eddy telah meneliti beraneka ragam tanaman herbal. Eddy membentuk usaha kecil menengah kelompok ‘tumbuh bersama’. Di sini ia mengajarkan pendidikan karakter, pengetahuan mengenai herbal, serta membuat produk-produk herbal seperti teh celup dari daun kelor dan sabun herbal untuk kecantikan. Ia menggandeng masyarakat lokal, ter­utama dari daerah-daerah pedalam­an. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk pemberdayaan warga di kawasan pedalaman.

Ia mengaku terlampau banyak khazanah herbal di Indonesia ini yang memiliki manfaat untuk kesehatan, tetapi semua itu tetap butuh sumbangsih dari para tenaga ahli untuk meneliti dan mengembangkannya agar khazanah itu mendapatkan tempat dalam keilmuan kesehatan modern. Eddy terus berbagi wawasan seputar hidup sehat serta membangun kesadaran masyarakat akan potensi manfaat herbal di Indonesia. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More