Sabtu 30 November 2019, 19:49 WIB

Guru Penggerak Indonesia Maju

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Guru Penggerak Indonesia Maju

Dok Kemendikbud
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mempimpin upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2019, Senin (25/11/2019).

 

GURU hendaknya dapat melakukan perubahan-perubahan kecil yang dimulai dari ruang kelas tanpa menunggu komando. Dengan begitu, bakal terjadi perubahan yang besar pada dunia pendidikan di Indonesia yakni bergerak maju menatap masa dep

"Apa pun perubahan kecil itu, apabila setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti bakal bergerak," ungkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. saat pidato pada peringatan Hari Guru Nasional di kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (25/11).

Nadiem menyampaikan setidaknya terdapat lima perubahan kecil yang bisa dimulai para guru di dalam kelas yakni mengajak murid berdiskusi bukan hanya mendengar, memberikan kesempatan kepada murid mengajar di kelas, mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan semua kelas, menemukan bakat pada diri murid yang kurang percaya diri, dan menawarkan bantuan pada guru lain yang sedang mengalami kesulitan.

Baca juga: Guru Harus Jadi Agen Perubahan

Mendikbud pun meminta agar para guru menjadi sosok guru penggerak yang berinisiatif melakukan perubahan-perubahan kecil itu serta mengambil tindakan-tindakan tanpa diperintah untuk melakukan yang terbaik bagi muridnya.

"Banyak orang mengira, reformasi pendidikan suatu hal yang dilakukan pemerintah saja, berdasarkan kurikulum saja, kebijakan atau anggaran. Itu dampaknya sangat kecil jika dibandingkan hal ini menjadi gerakan di setiap sekolah, gerakan guru penggerak yang berbeda dari yang lain," paparnya.

Baca juga: Peringati Hari Guru, Nadiem Janji Perubahan di Sektor Pendidikan

Nadiem menyatakan pada era disrupsi teknologi sekarang ini, tantangan bagi guru juga begitu besar. Dengan informasi dan sumber belajar yang mudah diperoleh saat ini, peran guru sebagai pendidik tetap tidak bisa tergantikan.

"Pendidikan merupakan apa yang terjadi di ruang kelas dan di rumah. Teknologi tidak mungkin menggantikan koneksi itu. Harus ada koneksi batin agar trust tercipta dan proses belajar mengajar menjadi lebih efektif," ujar Nadiem.

Baca juga: Belum Dibacakan, Pidato Nadiem Makarim sudah Tuai Pujian

Karena itu, menurut Nadiem, profesi guru amat lekat dengan integritas dan kepribadian, tidak hanya mentransfer ilmu, termasuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara bijak pengetahuan kepada peserta didiknya. "Tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan nilai-nilai dasar pengembangan karakter peserta didik dalam kehidupanya," ungkap dia.

Ia juga menyampaikan menjadi guru adalah tugas tersulit karena dengan jumlah peserta didik yang hampir mencapai 50 juta orang di Indonesia dengan berbagai suku bangsa, cakupan wilayah sangat luas dan heterogen tingkat kesulitan geografisnya, serta ketersediaan fasilitas belajar dan sarana transportasi yang belum memadai di beberapa wilayah.

Dengan kompleksitas yang sangat tinggi itu, diperlukan inovasi-inovasi yang terus-menerus, baik dalam tataran proses belajar mengajar maupun dalam tata kelola guru.

"Para guru harus terus berinovasi menjalankan proses belajar mengajar. Yang terpenting dari kurikulum bukan hanya konten, tapi juga bagaimana konten itu diajarkan di dalam kelas. Guru harus berupaya mengajarkan siswa berpikir kritis dan berpartisipasi dalam proses belajar mengajar di kelas," ujar Nadiem.

Di sisi lain, Nadiem menyinggung, pekerjaan guru yang kini terbebani masalah administratif, peraturan atau kebijakan, dan kurikulum yang mempersulit mereka untuk berinovasi. Padahal, tugas guru juga sangat sulit lantaran harus membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas.

Karena itu, kata Nadiem, pemerintah akan memangkas rupa-rupa regulasi untuk memberikan ruang gerak bagi guru agar mereka terpacu melakukan inovasi.

"Jangan biarkan waktu guru tersebut habis hanya buat mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas. Biarkan guru berinovasi untuk mengenali potensi murid-murid mereka," pungkas Nadiem.

Empati sosial
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dr. Supriano, M.Ed menambahkan, sebagai guru penggerak, nantinya para guru harus menumbuhkan empati sosial pada anak didik, membangun imajinasi dan kreativitas, serta mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

"Di tengah perkembangan dunia, para guru dituntut tak hanya mengajar, tapi juga mendidik dengan lebih fleksibel, kreatif, menarik, dan lebih menyenangkan," ujar Supriano.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dr. Supriano, M.Ed. (MI/Ramdani)

Dia juga mengingatkan, sebagai guru penggerak, peran guru tidak dapat tergantikan oleh mesin secanggih apa pun. Guru membentuk karakter anak bangsa dengan budi pekerti, toleransi, dan nilai-nilai kebaikan. "Guru bukan sekadar pekerjaan atau profesi, melainkan manusia yang menyiapkan masa depan bangsa. Bersama para guru yang berdedikasi, inovatif, dan kreatif, akan mendorong mutu sumber daya manusia menuju bangsa Indonesia Maju," terang Supriano.

Sebagai guru penggerak, ia juga berpesan agar guru dapat memotivasi minat baca murid, di antaranya dengan mewajibkan siswa membaca buku, baik buku pengetahuan populer maupun buku sastra, mengadakan lomba bercerita, memberikan bimbingan cara mencari informasi dari buku, mewajibkan perpustakaan sebagai bagian dari proses pembelajaran, dan menugaskan anak membuat mading kelas atau sekolah secara kontinu.

Adapun dalam menghadapi revolusi industri 4.0, sebagai guru penggerak wajib berkontribusi dalam menyiapakan konten pendidikan, memanfaatkan berbagai media dengan baik dan cepat, dan menyusun metode pembelajaran ke metode proyek secara tematik dan kompleks.

"Meski demikian, seorang guru haruslah memiliki karakter yang sangat kuat karena pada zaman sekarang dan yang akan datang, peserta didik lebih menyukai hal-hal yang instan," ungkap Supriano.

Terkait dengan hal ini, pemerintah juga akan terus memfasilitasi peningkatan kompetensi guru agar cita-cita guru penggerak cepat terwujud. Namun, dia juga berharap guru tak hanya menunggu panggilan dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah dalam mengembangkan keprofesian. "Banyak sumber ilmu pengetahuan yang bisa diakses dengan kemajuan teknologi sekarang ini," pungkas Supriano. (Dro/S5-25)


 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More