Sabtu 30 November 2019, 07:00 WIB

Empat Kabupaten di Flores Jadi Laboratorium Moderasi Agama

Alexander P Taum | Nusantara
Empat Kabupaten di Flores Jadi Laboratorium Moderasi Agama

MI/Alexander P Taum
Kakanwil Kementerian Agama NTT Sarman Marselinus (tengah)

 

MENYONGSONG ulang tahun Kementerian Agama Republik Indonesia yang jatuh pada 3 Januari 2020, empat kementerian agama Kabupaten sedaratan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan momentum hari amal bhakti ke-74.

Dalam kesempatan itu, empat Kementerian agama kabupaten yakni Kabupaten Sikka, Ende, Ngada, dan Nagekeo dijadikan laboratorium moderasi beragama.

"Menjadi agen moderasi dan kebersamaan umat. Sebagai respons atas maraknya perilaku intoleransi dan radikalisme, Kementerian Agama menetapkan 2019 sebagai tahun moderasi beragama," ungkap Kakanwil Kementerian Agama NTT Sarman Marselinus di Lokaria Hotel Maumere, Jumat (29/11) malam.

Komitmen itu terimplementasi dalam keberhasilan Kementerian Agama memasukkan moderasi beragama ke dalam RPJMN 2020-2024.

Baca juga: NTT Siapkan Rp1,6 Miliar Per Destinasi Wisata

Moderasi beragama mengandung pembahasan tentang apa itu moderasi beragama, mengapa kita memerlukannya, serta bagaimana cara melakukan penguatan dan implementasinya, baik dalam kehidupan pribadi, maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Moderasi beragama dipahami sebagai proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikannya.

Sarman menjelaskan agama tidak perlu dimoderasi karena agama tidak pernah mengajarkan perusakan di muka bumi, kezaliman, dan angkara murka.

"Cara seseorang beragama harus selalu didorong ke jalan tengah, harus senantiasa dimoderasi, karena ia bisa berubah menjadi ekstrem, tidak adil, bahkan berlebih-lebihan," sebutnya.

Sedangkan kebersamaan umat merupakan upaya membangun kerjasama lintas agama untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan hidup bersama.

"Komitmen kebangsaan ditandai dengan sikap menerima prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam Konstitusi UUD 1945 dan regulasinya", ujarnya.

Dalam perspektif moderasi beragama, mengamalkan ajaran agama adalah sama dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, sebagaimana menunaikan kewajiban sebagai warga negara adalah wujud pengamalan ajaran agama.

Toleransi merupakan sikap memberi ruang dan tidak mengganggu hak orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat, meskipun hal tersebut berbeda dengan apa yang kita yakini.

"Toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lembut dalam menerima perbedaan," sebut Sarman.

Secara hakiki, modernisasi merupakan antitesis atas radikalisme. Jika radikalisme identik dengan kekerasan dan teror, moderasi beragama menegaskan bahwa penggunaan cara-cara kekerasan/ekstrem atas nama agama tidak bisa dibenarkan.

Orang-orang yang moderat memiliki kecenderungan lebih ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama.
 
"Kita diminta untuk membaca dan memahaminya, lalu mensosialisasikan kepada masyarakat dan mengimplementasikannya dalam hidup bermasyarakat," bebernya.

Jangan sampai orang di luar Kementerian Agama lebih paham dari kita. Karena kita adalah garda terdepan untuk mewujudkan moderasi beragama dan kebersamaan umat di tengah masyarakat. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More